MotoGP di Sirkuit Mandalika Adalah Simulasi Neraka. Sebuah Pengalaman Menonton Balapan yang JANCOK Banget!

Kalau tahun depan penyelenggara MotoGP Mandalika tidak melakukan perbaikan di tribun penonton, saya mending nonton MotoGP di Sepang saja. Mau dibilang nggak nasionalis juga bodo amat!

MotoGP di Sirkuit Mandalika Memang Balapan Jancok! MOJOK.CO

Ilustrasi MotoGP di Sirkuit Mandalika Memang Balapan Jancok! (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.COMenonton MotoGP di Sirkuit Mandalika secara langsung memberi pengalaman sangat buruk. Bagai simulasi neraka, ini pengalaman jancok banget! 

Gelaran MotoGP di Sirkuit Mandalika baru saja usai. Trio rider “pinjem dulu seratus” yaitu Pecco, Vinales, dan Quartararo berhasil naik podium. 

Jika menonton MotoGP Mandalika dari televisi atau mengikuti perkembangannya di media sosial, besar kemungkinan Anda akan berpikir kalau acara tersebut sukses besar. Apalagi Dorna Sport memberikan pujian pada Grand Prix Indonesia kali ini dan banyak video tentang rider MotoGP yang menjadi trending di media sosial. 

Namun, mari kita singkirkan sejenak cerita kesuksesan MotoGP di Sirkuit Mandalika dari sisi Dorna Sport dan pembalap yang menghebohkan warga dan viral. Saatnya mengevaluasi penyelenggaraan MotoGP dari tribun penonton, dari sudut pandang pecinta balapan. 

Apakah sirkuit yang menelan biaya Rp4 triliun dan menyisakan konflik lahan dengan penduduk setempat tersebut layak untuk didatangi pecinta balapan tanah air? 

Kebetulan, saya baru saja menonton MotoGP di Sirkuit Mandalika dan tahun-tahun sebelumnya pernah nonton di Sirkuit Sepang (Malaysia), Buriram (Thailand), dan Motegi (Jepang). Artinya, saya sudah mengunjungi semua sirkuit di Asia (kecuali India) yang menggelar Grand Prix MotoGP. 

Saya bukan ingin menyombongkan diri. Namun, saya ingin mengatakan kalau saya cukup familiar nonton Marquez dkk. di sirkuit sehingga bisa membandingkan antara satu sirkuit  dengan sirkuit lainnya secara objektif. 

Konsep tribun MotoGP di Sirkuit Mandalika seperti simulasi neraka 

Hal utama yang membuat saya kecewa selama di Sirkuit Mandalika adalah soal tribun. Saya duduk di tribun regular Zona E. Tribun dengan harga Rp1,5 juta ini sangat tidak worth to buy karena desainnya terbuka (tidak memiliki atap). 

Jadi, kamu harus duduk di bawah terik matahari dengan suhu 36 derajat Celcius tanpa boleh membawa payung. Iya, Anda tidak salah dengar. Meskipun konsep tribun outdoor, petugas menyita payung yang saya bawa.

Nonton MotoGP di Sirkuit Mandalika saat race day (hari Minggu saja) dari pukul 10 siang hingga 4 sore sukses membuat badan saya iritasi. Saya keringat berlebih, tangan belang seperti zebra, dan mata saya yang sebelah kanan bengkak. Jujur saja, saya sering nonton MotoGP di sirkuit, tapi baru kali ini merasa sangat menderita. Saya harus mengalami semua penderitaan ini karena konsep tribun yang di luar akal sehat.

Konsep tribun sirkuit yang tidak masuk akal

Lombok Tengah, lokasi Sirkuit Mandalika, kondisinya sangat gersang. Di sana tidak ada pepohonan, kiri dan kanan hanya batu kapur dan suhunya berkisar 36 sampai 40 derajat Celcius. 

Melihat bentang alam yang seperti itu, pihak penyelenggara justru membuat tribun dari aluminium tanpa atap. Hal inilah yang membuat sinar matahari langsung menyengat kepala saya dari atas. Sementara itu, kaki saya dipanggang dari bawah. 

Aluminium itu bersifat konduktor (menghantar panas dengan cepat), makanya wajan di warung penyetan menggunakan bahan ini. Apakah penyelenggara MotoGP di Sirkuit Mandalika berfikir penonton adalah ayam yang pantas digoreng hingga gosong merata? Keterlaluan sekali. Kami ini manusia, bukan ayam goreng! 

Memang sih, bukan hanya Mandalika yang menggunakan konsep tribun terbuka. Di Sirkuit Motegi (Jepang) juga ada tribun terbuka (tanpa atap). Akan tetapi, Sirkuit Motegi tidak membangun tribun dengan bahan aluminium. Mereka memilih bahan kayu (hangat saat suhu dingin, sejuk saat suhu panas). 

Selain itu, Jepang selalu menggelar Grand Prix MotoGP antara Oktober atau November. Saat itu, Prefektur Tochigi (lokasi sirkuit Twin Ring Motegi) sedang memasuki musim gugur dan cuacanya kondusif (cerah dan hangat). 

Hal tersebut membuat konsep tribun terbuka masuk akal jika Jepang menerapkannya. Beda cerita dengan Mandalika yang panas dan gersang. Konsep tribun terbuka justru membuat penonton terpanggang dan banyak di antaranya tidak kuat sehingga memilih berteduh di bawah tribun. Sungguh simulasi neraka!

Minim giant screens 

MotoGP adalah balapan motor super kencang (top speed di Sirkuit Mandalika adalah 363,6 km/jam). Motor dengan laju sekencang itu kalau kita lihat dari kursi penonton hanya nampak sekelebatan saja. Makanya, peran giant screen (layar lebar yang memantau balapan di seluruh lintasan) sangat penting. 

Tanpa giant screen, penonton tidak mungkin bisa melihat apa yang terjadi di tikungan dan lintasan yang lainnya. Ya kali kita diminta duduk di tribun sambil membuka live streaming Trans7 agar bisa melihat jalannya balapan secara keseluruhan. Kalau begitu ceritanya, mending saya nonton MotoGP Mandalika dari rumah saja. Bisa sekalian rebahan! 

Apesnya, Mandalika tidak melengkapi Zona E dengan giant screen. Sekarang Anda bayangkan, selain dipanggang matahari, saya harus melongo, menunggu kek orang gila, sampai rider-nya kembali melintas di depan tribun saya. Benar-benar pengalaman menonton balapan yang JANCUK sekali. 

Giant screen di sirkuit lain

Mari kita membandingkan giant screen di MotoGP di Sirkuit Mandalika dengan sirkuit lain. Di Sepang dan Motegi, hampir semua tribun memiliki giant screens minimal satu. Di Buriram memang tidak semua tribun ada giant screen. Namun, yang perlu Anda ketahui, Sirkuit Buriram tidak memiliki bukit dan bangunan yang menghalangi pandangan penonton di tribun dengan lintasan balap. Kondisi tersebut membuat peran giant screens tidak begitu signifikan. 

Berbeda sekali dengan Mandalika, di mana bukit mengelilinginya. Saat Marquez crash di tikungan 13, saya yang berada di zona E (tikungan 6) tidak akan tahu kejadian tersebut karena pandangan saya terhalang oleh bukit Jokowi. Maaf, ini bukan salah tulis karena nama bukitnya memang begitu. Dengan kondisi tersebut, penting sekali ada giant screen agar saya (baca: penonton) bisa melihat keseluruhan balapan. 

Kabar buruknya lagi, penonton tidak bisa mengandalkan MC yang menjelaskan jalannya MotoGP dari pengeras suara. MC-nya tidak bisa menjelaskan balapan dengan baik karena tidak hafal nama pembalap. Kalau ada nama yang tidak dikenali, dia langsung meloncati begitu saja. Benar-benar tidak profesional! 

Kalau susah mencari orang Indonesia yang paham dan suka balapan untuk menjadi MC, tahun depan pihak penyelenggara MotoGP di Sirkuit Mandalika bisa menghubungi saya saja! Kalau cuma menceritakan jalannya balapan, mah, saya bisa! 

Tiket MotoGP di Sirkuit Mandalika lebih mahal dari Sepang-Malaysia

Jika beranggapan tiket MotoGP di Sirkuit Mandalika lebih murah dari Sepang, Anda salah. Panitia membanderol tiket premium grandstand Mandalika dengan harga Rp2,3 juta. Sementara itu, untuk membeli tiket reguler di semua zona, kamu harus membayar Rp1,5 juta. Untuk tiket GA atau festival, dibandrol dengan harga Rp750 ribuan. 

Sebagai perbandingan, uang Rp1.,4 juta kalau untuk membeli tiket di Sepang sudah bisa mendapatkan tribun fans (MR93). Sudah lengkap dengan atap, tempat duduk, dan merchandise. Nggak hanya itu, tiket main grandstand di Sepang, setara dengan premium grandstand di Mandalika, hanya dibandrol Rp1,5 juta atau jauh lebih ekonomis. 

Hanya unggul dari sisi entertaining dan keramahan warga 

Satu-satunya hal yang bisa membuat saya tersenyum selama di Mandalika adalah sikap warga Lombok. Mulai dari petugas di gate, penjual makanan di stand, hingga pengatur lalu lintas dan supir shuttle bus, semua ramah. 

Bahkan, polisi di sepanjang jalan dari Bandara Lombok Praya sampai Sirkuit Mandalika ramah sekali. Mereka mengatur lalu lintas dengan suara yang meneduhkan dan arus lalu lintas selama gelaran MotoGP di Sirkuit Mandalika tidak macet (ramai lancar). Benar-benar perlu dipuji. 

MotoGP Mandalika juga unggul soal entertaining. Sesi pembukaannya kreatif, ada tarian adat dan pertunjukan pesawat yang membuat Grand Prix MotoGP Indonesia berbeda dengan negara lainnya. 

Selain dua hal tersebut, yang lainnya B saja, bahkan beberapa aspek menyiksa penonton. Kalau tahun depan penyelenggara MotoGP Mandalika tidak melakukan perbaikan di tribun penonton, saya mending nonton MotoGP di Sepang saja. Mau dibilang nggak nasionalis juga bodo amat!

Penulis: Tiara Uci

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Curhatan Warga Lombok: Kapok di MotoGP Mandalika yang Sebabkan Kursi Kosong dan kisah menyedihkan lainnya di rubrik ESAI.

Exit mobile version