Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kitabisa Dipakai Singgih untuk Menipu dan Bikin Marah tapi Gembira Menyumbang Orang Kaya Bernama Livy Renata

Arman Dhani oleh Arman Dhani
25 Maret 2024
A A
Kitabisa Dipakai Menipu, tapi Gembira Sumbang Orang Kaya MOJOK.CO

Kitabisa Dipakai Menipu, tapi Gembira Sumbang Orang Kaya MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Siapa yang berhak mengelola sumbangan?

Sebagai warga negara, kita kerap dibuat celaka, dibuat menderita, dan dibohongi. Sebelumnya kita semua masih ingat organisasi filantropi Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang pernah jadi perbincangan publik karena besarnya gaji pejabat, biaya operasional, hingga dugaan penyalahgunaan dana kemanusiaan. 

Gaji seorang pimpinan di ACT bisa mencapai puluhan juta hingga di bawah 100 juta. Asumsinya aduhai betul, untuk presiden yang mengelola 1.200 karyawan, angka tersebut dianggap wajar. Bahkan pada satu titik, petinggi ACT bisa mendapatkan gaji sebesar Rp250 juta untuk posisi presiden. Meski kemudian medio Desember 2021, ACT memutuskan mengurangi gaji akibat kondisi keuangan yang tidak stabil. Mereka hidup dari sumbangan warga!

Asalnya dari mana? Konon sih dalam lembaga zakat, secara syariat dibolehkan 1/8 atau 12,5 persen dari total donasi yang terkumpul secara umum. Sayangnya ACT sempat melewati batas dari aturan syariat sebesar ⅛ atau 12,5%, kemudian mereka berdalih bukanlah lembaga zakat melainkan filantropi umum di mana tidak hanya zakat yang dikelola lembaga tersebut. 

Tapi bayangkan begini. Siapa yang boleh dan berhak mengelola dana sumbangan dan apakah dana sumbangan tersebut harus dikelola sesuai keinginan penyumbang? Maksud saya, saat kamu memberi uang kepada pengemis, dengan harapan dia akan menggunakannya untuk makan, lantas si pengemis tadi menggunakan uangmu untuk membeli es kopi susu. Apakah kemudian sedekahmu terhalang pahala atau fungsinya?

Perkara sentimen personal akan sosok Livy Renata

Dalam konteks Livy Renata, ya jelas dia nggak butuh duit kita. Jika mau membeli Mercedes-Benz S-Class dari duit pribadi bukan masalah untuknya. Tapi di sisi lain, seseorang yang terpojok, tersudut, barangkali harus menipu dan mencuri untuk bisa bertahan dari kejaran utang dan kebutuhan harian. Mana yang lebih genting dibantu?

Ya, sebenarnya nggak masalah juga, uang itu ya hak kalian. Mau dipake buat Trakteer artis kaya raya, nyumbang korban pinjol lewat Kitabisa, atau menghidupi direktur organisasi amal hidup mewah. Cuma kita meluruskan niat, menyumbang untuk amal terhadap orang lain terlepas kebutuhan mereka, atau ingin mengatur hidup orang lain melalui sumbangan kita. 

Kadang sumbang-menyumbang itu perkara sentimen personal. Cantik atau jelek, miskin atau kaya, bukan berdasarkan prioritas kebutuhan. Dulu pernah ada seorang mahasiswa Ivy League asal Indonesia yang minta sumbangan untuk kuliah. Jelas dia butuh dibantu, tapi apakah tidak ada orang lain yang lebih membutuhkan?

Beberapa dari kita bisa jadi keblangsak, merasa dekat, dan relate dengan orang kaya raya. Makanya banyak dari kita akan menyumbang dengan mudah kepada mereka yang sebenarnya mampu. 

Namun, banyak juga dari kita yang bakhil dan pelit perihal menyumbang orang miskin. Jadi, ini semua soal obsesi dan imajinasi merasakan kekayaan artis sehingga jadi buta, atau hanya ingin pamer? Atau ada sebuah persaingan akan sebuah brand yang tidak kita sadari? 

Penulis: Arman Dhani

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Memanfaatkan Empati Publik, Menjadi Pengemis (Kapitalis) Gaya Baru dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 25 Maret 2024 oleh

Tags: donasi kitabisakitabisalivy renatalivy renata beli mobilpenipuan kitabisasinggih saharatrakteer
Arman Dhani

Arman Dhani

Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Saat ini bisa ditemui di IG @armndhani dan Twitter @arman_dhani. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di https://medium.com/@arman-dhani

Artikel Terkait

ilustrasi Seorang Netizen Bikin Akun Trakteer dan Dapat Dana 30 Juta Tanpa Karya Apa pun mojok.co
Pojokan

Seorang Netizen Bikin Akun Trakteer dan Dapat Dana 30 Juta Tanpa Karya Apa pun

4 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan” MOJOK.CO

Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan”

10 April 2026
Gaya hidup pemuda desa bikin tak habis pikir perantau yang merantau di kota. Gaji kecil dihabiskan buat ikuti tren orang kaya. MOJOK.CO

Gaya Hidup Pemuda di Desa bikin Kaget Perantau Kota: Kerja demi Beli iPhone Lalu Resign, Habiskan Uang buat Maksa Sok Kaya

6 April 2026
Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
Bekerja di Jakarta vs Jogja

Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental

10 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.