Seorang Bajingan yang Suka Mabuk-Mabukan pun Berhak Mencintai Allah

MOJOK.CO – Karena suka sekali mabuk-mabukan, Soni sering kurang ajar ke Gus Mut bahkan juga dengan Kiai Kholil. Fanshuri jelas tidak menyukai bajingan tengik begitu.

Belakangan ini Fanshuri mulai gerah dengan seorang santri yang suka ikut ngaji ke Gus Mut. Bukan anak-anak, seorang pemuda. Namanya Soni. Orangnya tinggi besar, bertato, dan perawakannya benar-benar tidak menggambarkan orang yang mau belajar agama.

Sebenarnya bukan karena perawakan juga Fanshuri tidak menyukai orang tersebut. Berulang kali Fanshuri mendapati Soni masih suka mabuk-mabukan di luar. Mungkin karena sering mabuk, pikirannya kadang tidak bisa dipahami oleh orang-orang kayak Fanshuri. Agak gila kalau kata orang kampung.

Soni memang bukan santri yang hidup di lingkungan pesantren, tapi hanya seseorang yang entah kenapa jadi begitu akrab dengan Gus Mut dan Kiai Kholil. Sampai akhirnya belakangan ini lama-lama mau ikut belajar ngaji meski sering bolong-bolong juga salatnya.

Karena suka sekali mabuk-mabukan, Soni juga sering kurang ajar sekali dengan Gus Mut, bahkan juga dengan abahnya, Kiai Kholil. Sosok yang sangat dihormati Fanshuri dan warga sekitar. Kurang ajar sama Gus Mut aja bisa jadi masalah, ini kurang ajar sama Kiai KHolil. Benar-benar orang bermasalah.

Pernah suatu kali Soni makan bareng Kiai Kholil di warung pecel yang cukup terkenal di kampung.

“Ayo, Pak Kiai. Ambil aja gorengannya. Lima atau empat. Tenang ada saya,” kata Soni ke Kiai Kholil.

Kiai Kholil bungah. “Wah, tumben, baik banget kamu, Son,” kata Kiai Kholil sambil ngambil gorengan.

“Minumnya nggak tambah, Pak Kiai?” tanya Soni.

“Oh, boleh, boleh,” kata Kiai Kholil.

Begitu makan-makan selesai, Kiai Kholil hendak melapor dia barusan habis apa saja ke Soni. Tiba-tiba Soni berdiri, menghadap ke penjual warung pecel.

“Wah, mau dibayarin nih saya,” batin Kiai Kholil.

“Bang, punya saya dibayarin Pak Kiai ya?” kata Soni tiba-tiba ke penjual warung pecel.

Tentu saja Kiai Kholil kaget. Saat Kiai Kholil masih bingung, Soni mendekat. “Ya kan nggak baik kalau tokoh terkenal seperti njenengan nggak bayarin bajingan kayak saya to Pak Kiai?” kata Soni.

Kiai Kholil tidak marah mendengarnya. Cuma tertawa. Tentu tertawa kecut. “Dikerjain nih aku,” kata Kiai Kholil sambil keluarin duit.

Tak hanya itu sikap kurang ajar Soni yang dikenal. Ada yang jauh lebih parah, dan ini sudah sampai pada tingkat yang meresahkan. Suatu kali, Soni pernah bikin masjid geger karena menuntun orang buta yang mau ke toilet masjid.

Oleh Soni, bukannya dituntun ke arah toilet, si orang buta ini malah dituntun ke pojokan masjid.

“Ini udah di dalam toilet, Mas?” tanya si orang buta ini.

Soni tak bersuara, hanya menepuk seolah memberi tanda; “Iya, kencing di sini aja.”

Tiba-tiba saat si orang buta ini hendak kencing, Soni langsung ngacir begitu saja. Kebetulan saat itu keadaan masjid agak sepi, jadi tidak ada yang tahu ada orang buta yang kencing di dalam masjid. Sampai tiba-tiba Fanshuri masuk ke dalam masjid dan tahu ada bau pesing dari dalam.

“Kurang ajar. Ini kerjaannya siapa kencing di dalam masjid?” teriak Fanshuri.

Di dalam masjid hanya ada satu orang buta yang kebingungan.

“Mas, Mas, ini saya masih di dalam masjid to?”

“Oalah, njenengan ini yang kencing to? Masya Allah Mbah, Mbah, ini bukan toilet. Toiletnya di sebelah sana,” kata Fanshuri yang mau marah tapi bingung.

“Waduh, maaf, Mas. Tadi saya dituntun orang. Katanya ini udah toilet, ya saya kencing di sini,” kata si orang buta ini pasrah dan merasa bersalah.

Dari pengalaman-pengalaman itu, Fanshuri merasa jengah. Ditambah melihat kedekatan Gus Mut dengan Soni. Untuk itu, Fanshuri merasa perlu protes ke Gus Mut.

“Gus, murid sampeyan satu itu udah kelewatan, Gus. Kenapa nggak pernah sampeyan tegur sih? Udah suka mabuk-mabukan, nggak tahu sopan-santun, suka bikin onar lagi,” kata Fanshuri.

“Siapa sih?” tanya Gus Mut.

“Si Soni,” kata Fanshuri ketus.

“Oalah, Soni. Ya memang gitu orangnya, bajingan gendheng yang lucu,” kata Gus Mut yang malah tertawa.

“Kok malah ketawa sih. Parah lho dia, Gus,” kata Fanshuri.

“Maaf, maaf. Soalnya aku ini kalau denger namanya saja selalu ingat tingkahnya. Yang barusan kamu udah tahu belum?” kata Gus Mut.

“Hah? Dia bikin onar lagi? Apalagi ini, Gus?” tanya Fanshuri.

“Kemarin waktu aku di jalan, tiba-tiba aku dilabrak sama orang buta. Aku ini dituduh jadi orang yang nyesatin dia waktu di masjid. Katanya aku ini orang yang nuntun dia ke dalam masjid dan bikin dia kencing di dalam masjid. Sampai mau dipukulin aku,” kata Gus Mut yang malah tertawa saat cerita itu.

“Wah, itu pasti kerjaannya si Soni,” kata Fanshuri.

“Iya, memang dia. Soalnya yang misahin waktu itu ya Soni sendiri. Dan dia ngaku waktu lihat aku kesulitan menjelaskan ke orang yang kadung marah betulan itu,” kata Gus Mut sambil terkekeh.

Melihat Gus Mut terkekeh, Fanshuri malah heran.

“Sampeyan ini gimana sih, Gus? Orang kayak gitu kan bahaya. Masa ikut ngaji malah masih suka mabuk-mabukan, bikin onar, mana masih jarang salat lagi,” kata Fanshuri.

Gus Mut paham, Fanshuri pantas tidak suka dengan sosok seperti Soni. Sudah bajingan, kalau ikut ngaji nggak pernah pakai sarung, tapi malah pakai celana jins robek-robek, kaos oblong, tatonya kelihatan lagi. Bahkan kadang dari mulutnya masih tercium aroma naga.

“Apa ya nggak boleh orang kayak Soni itu belajar agama, Fan?” tanya Gus Mut.

“Ya bukannya gitu, Gus. Tapi kan paling nggak dibenerin dulu lah akhlaknya. Takutnya santri-santri yang lain niru gimana?” tanya Fanshuri.

“Gini, Fan. Nggak semua orang itu proses belajar agamanya sama. Kenal sama Allah juga beda-beda antar satu orang dengan orang lain. Masih untung si Soni ini mau ikut ngaji. Itu artinya dia masih punya kesadaran akan Allah dan Rasul. Meski ya masih bajingan kayak begitu,” terang Gus Mut.

“Tapi, Gus. Dia kan menganggu warga kampung dan saya juga. Mau ngaji kalau lihat dia kok hawanya jadi eneg aja. Ealah, dia lagi, dia lagi,” kata Fanshuri.

“Bikin sadar orang seusia Soni itu nggak kayak ngajari anak 10 tahun, Fan. Prosesnya nggak bisa dengan ujug-ujug. Kalau aku keras, aku bilang misalnya, ‘Son, kalau kamu nggak bisa memperbaiki tingkahmu, kamu nggak perlu ngaji lagi sama aku.’ Ya dia bakal kabur beneran. Nggak bakal jadi ngaji dia. Nggak jadi kenal Allah sama Rasulnya lagi dia. Kalau kayak gitu yang salah siapa?” tanya Gus Mut balik.

“Tapi kan ya harusnya Soni nggak sekurang ajar itu juga, Gus,” kata Fanshuri.

“Soni pun juga tahu, minum dan mabuk itu dilarang oleh agama. Dia juga tahu harusnya nggak boleh kalau salat itu bolong-bolong. Bahkan dia tahu kalau orang mabuk itu bisa-bisa ibadahnya nggak diterima selama 40 hari. Soni tahu itu, tapi kan perubahan itu pelan-pelan. Dia mau salat tapi pakai celana bolong aja udah syukur banget aku, Fan. Nggak banyak bajingan kayak Soni yang tetap cuek belajar agama di saat teman-temannya masih suka mabuk-mabukkan di luar sana,” jelas Gus Mut.

“Tapi, Gus. Gus Mut kalau nggak menegur dia juga jadi ikut salah lho,” kata Fanshuri.

“Kalau menegur sih pasti. Bahkan kalau aku tahu dia habis mabuk, aku selalu pukulin dia pakai penjalin sampai 60 kali. Dan dia terima-terima aja. Ya walaupun besoknya masih mabuk juga. Paling tidak, kalau dia berangkat ngaji, ya berarti dia masih ingat sama Allah. Masih cinta sama Allah. Apa ya nggak boleh, bajingan kayak Soni cinta sama Tuhannya, Fan?”

Fanshuri cuma tertegun.

“Sebesar apapun dosa seseorang, tidak ada yang berhak menghalangi rasa cinta seorang hamba kepada Tuhannya, Fan,” kata Gus Mut, “Meski cara yang digunakan untuk menunjukkan rasa cinta itu kadang terasa aneh di mata kita.”


*) Diolah dari ceramah Gus Baha’.

Exit mobile version