Kenapa Enggan Doakan Umat yang Mau Berangkat Haji atau Umrah, Pak?

MOJOK.CO Kiai Kholil belakangan mulai jarang diminta doa untuk melepas jamaah haji atau umrah. Wajar kalau Gus Mut merasa aneh dengan hal itu.

Gus Mut penasaran setengah mati, sudah bertahun-tahun bapaknya, Kiai Kholil, tidak lagi diundang oleh orang yang berangkat haji atau umrah. Dari beberapa cerita tetangga, Gus Mut tahu kalau Kiai Kholil melepas orang haji atau umrah itu justru tidak fokus mendoakan orang yang mau haji.

“Memang bener ya? Bapak suka kayak gitu?” tanya Gus Mut ketika sowan ke kediaman bapaknya.

“Gitu gimana maksudnya, Mut?” tanya Kiai Kholil bingung.

“Ya itu, kalau diundang melepas haji atau umrah, Bapak sering malah nggak doain yang mau berangkat,” kata Gus Mut.

“Wah, ya tergantung, Mut,” kata Kiai Kholil.

“Tergantung gimana, Pak?”

“Ya tergantung orang yang ngundang itu haji ke berapa. Kalau haji pertama ya pasti Bapak doain, tapi kalau yang udah ke sekian kali ya nggak perlu lah. Doain seperlunya aja,” kata Kiai Kholil.

“Memang apa bedanya, Pak?” tanya Gus Mut.

“Ya beda. Kalau haji pertama itu kan wajib, sedangkan haji kedua dan ketiga itu kan udah nggak wajib. Kalau di lingkungannya, tetangga-tetangganya nggak makmur, nggak pada bisa berangkat haji, wah itu kan ya kasihan kalau bapakmu ini malah doain yang bisa berangkat haji,” kata Kiai Kholil.

“Oh, makanya Bapak nggak pernah lagi diundang buat ngisi ngelepas jamaah haji atau umrah ya?” tanya Gus Mut sambil terkekeh.

“Iya, orang-orang yang mau berangkat haji atau umrah itu pada sebel paling sama bapakmu ini,” kata Kiai Kholil ikut terkekeh.

“Kok malah jadi sebel, Pak?” tanya Gus Mut.

“Lah bapakmu ini mendoakan yang haji semoga mabrur, balasannya surga. Yang tidak mampu haji doakan salatnya diterima ya masuk surga. Yang cuma bisa merawat anak, semoga bisa terus ikhlas balasannya surga. Yang miskin juga bisa dapat surga. Yang syukur karena punya tetangga bisa berangkat haji atau umrah, meski dirinya tidak mampu, tapi ikut senang seperti senangnya orang yang bisa berangkat semoga juga dapat surga.”

Kiai Kholil melanjutkan.

“Akhirnya yang mau berangkat haji atau umrah itu nggak suka. Perkaranya bapakmu ini jadi nggak fokus muji-muji dia,” kata Kiai Kholil.

Gus Mut tertawa mendengar penjelasan bapaknya.

“Pantesan nggak pada ngundang lagi, Pak. Bapak frontal gitu. Kan malah Bapak jadi jarang doain dan ceramah dong kalau kayak gitu caranya,” kata Gus Mut sambil terkekeh.

“Ya nggak apa-apa, hisabnya bapakmu ini kan jadi ringan. Ketimbang bapakmu ini jadi kayak mubalig. Yang model bilang haji fadhilahnya begini-begini, di multazam nanti bla-bla-bla masya Allah. Di hajar aswad, bilang masya Allah terus-terusan karena biar dikasih uang tambahan dari orang yang ngundang.”

Gus Mut mendengarkan.

“Tapi mubalig model begini nggak mikir kalau di belakang, ada tetangga yang nangis sesunggukan. Sedih. Merasa iri. Karena nggak punya duit untuk berangkat haji atau umrah. Membuat sedih mukmin yang miskin itu juga dosa lho, Mut. Hati-hati itu,” kata Kiai Kholil.

Gus Mut manggut-manggut.

“Lagian, berangkat haji itu bukan syarat seorang mukmin masuk surga juga sih ya, Pak. Masih ada amalan lain kalau memang tidak mampu berangkat,” kata Gus Mut mendukung cara berpikir bapaknya.

“Makanya itu. Haji dan umrah itu kan satu-satunya ibadah yang punya ikatan geografis. Harus datang secara fisik. Nggak kayak salat, puasa, zakat yang bisa dilakukan di manapun. Haji atau umrah itu punya konsekuensi yang nggak main-main.”

Kiai Kholil lalu melanjutkan.

“Dulu, sebelum zaman pesawat terbang dan kapal laut, orang berangkat haji itu udah kayak mau berangkat ke medan perang. Karena perjalanannya jauh dan berbahaya. Kadang bisa balik, kadang mati di jalan, kadang mati di Mekah, kadang mati waktu balik ke kampung halaman. Macem-macem.”

“Makanya orang haji itu secara sosial punya pengakuan yang cukup tinggi. Soalnya kayak orang baru balik dari perang. Veteran gitu. Sayangnya, karena status yang tinggi itu, haji dan umrah malah bisa buat gaya-gayaan segala. Apalagi yang mampu berkali-kali,” kata Kiai Kholil.

“Tapi kalau memang mampu kan ya nggak apa-apa to, Pak. Ibadah juga kok. Ketimbang malah buat maksiat itu duitnya,” kata Gus Mut.

“Ya jangan dibandingkan dengan maksiat. Maksudnya ya kalau mau haji ke berapa gitu, ajak lah saudara, atau tetangga. Biar mereka juga punya kesempatan haji juga. Kayak jalan ke surga itu cuma lewat haji atau umrah aja kesannya.”

“Padahal ngerawat anak biar jadi anak saleh itu juga baik, salat jamaah terus ke masjid itu juga baik, ngerawat banyak anak yatim juga baik, amalan-amalan sepele tapi istikamah itu juga bisa sama baiknya ketimbang ngejar haji atau umrah berkali-kali,” kata Kiai Kholil mengakhiri percakapan.


*) Diolah dari penjelasan Gus Baha’

BACA JUGA Pedoman Menabung Bagi Milenial Yang Pengin Haji atau tulisan rubrik KHOTBAH lainnya.

Exit mobile version