Ketika Warga Surabaya Mulai Tak Percaya Polisi dan Dukun

Sudah saatnya kasus curanmor di Surabaya ini tidak hanya dipandang sebagai kasus personal.

Warga Surabaya Mulai Tak Percaya Polisi dan Dukun MOJOK.CO

Ilustrasi Warga Surabaya Mulai Tak Percaya Polisi dan Dukun. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.COPolisi sudah kalah citra sama dukun, masa iya mau kalah strategi juga sama warga Surabaya. Harga dirimu, lho, Ndan.

Sebagai operator sukarela kamera CCTV yang terpasang di sekitar rumah saya di Surabaya, saya merasa cukup terbebani ketika di-gupuhi warga bangun subuh-subuh untuk mengecek rekaman. Ibu saya sengaja memasang CCTV yang diarahkan ke jalan sekitar karena kasus curanmor yang sering terjadi.

Keberadaan CCTV yang sengaja dipasang oleh ibu saya itu cukup membantu warga mengamati gerak-gerik maling sebagai barang bukti. Namun, sayangnya, walaupun barang bukti dan segala informasi sudah kuat, warga terkadang masih ragu dan enggan berangkat ke polsek terdekat.

Upaya mandiri warga untuk saling berbagi informasi, data, dan rembukan atas masalah ini cukup membuat saya kagum. Namun, masih ada juga kasus yang diakhir dengan “sebatas ikhlas”. Misalnya ketika kasus curanmor berhenti berkat “saran” dari wong pinter alias dukun.

Kalimatnya begini: “Nanti pelakunya akan muncul dengan sendirinya. Ciri-cirinya, dia kena penyakit gatal-gatal. Kita hanya perlu ikhlas.”

Berkat kalimat tersebut, korban curanmor nggak langsung melapor ke polsek terdekat di Surabaya. Korban, dan beberapa tetangganya, malah sibuk mendengarkan sampai menghubungi informasi dari beberapa dukun. Ceritanya nggak puas cuma dapat satu informasi dari satu dukun

Lucunya, mereka ini bahkan sudah mengecek rekaman CCTV dan melihat dengan jelas muka di maling. Maksudnya, kalau mau ke polisi, sudah ada satu barang bukti. Ibu saya pasti siap membantu.

Menghubungi dukun ini saya lihat sebagai bentuk kecewa dari beberapa warga yang sudah “pengalaman” melaporkan berbagai kasus ke polisi. Salah satunya kasus curanmor. Beberapa testimoni tetangga saya yang pernah menjadi korban dan melapor dapat menggambarkan perasaan mereka yang sudah malas untuk melapor ke polisi.

Testimoni itu antara lain.

“Percuma lapor polisi. Paling ya cuma di ya ya, baik-baik.”

“Walaupun punya buktinya, kalau nggak punya modal ya sia-sia. Berakhir di buku laporan gitu aja.”

“Patroli paling ya sehari dua hari setelah motor ilang. Maling saiki pinter-pinter.”

Melapor ke dukun dipilih korban sebagai upaya mencari harapan perihal keberadaan motor beserta pelakunya. Lebih dalam, dukun juga dipercaya mampu menggali motif curanmor. Hebat, padahal tanpa observasi dan segala macam prosedur penyelidikan.

Tak bisa dimungkiri, kepercayaan itu masih melekat di banyak masyarakat Surabaya pada khususnya. Masyarakat butuh sebuah asupan harapan dan buaian atas penderitaan yang mereka rasakan. Padahal, semua itu omong belaka. CCTV, lho, sudah dengan gamblang memperlihatkan tampang pelaku curanmor. Masih saja tidak laku dilirik.

Ketika sebuah situasi negatif tidak tertangani dengan baik, bahkan warga tidak merasakan perubahan signifikan, tingkat kepercayaan kepada polisi pasti menurun. Dan jangan salah, pada titik tertentu kelak, sebagian warga Surabaya juga makin malas mengunjungi dukun.

Semua orang hanya mendambakan satu hal atas aksi curanmor ini. Yang saya maksud, adalah asuransi keamanan dari pihak yang konon menyandang istilah “yang berwajib”.

Warga mulai tak percaya polisi dan dukun

Di Surabaya sendiri, di tempat saya tinggal, dalam kurun 2019 hingga 2020, kasus curanmor meningkat sebesar 400%. Awalnya “cuma” 267 kasus di 2019, meningkat jadi 818 di 2020.

Beberapa upaya sudah dilakukan oleh masyarakat. Ada yang membeli kunci tambahan, yakni gembok cakram dan kunci stang. Ada juga yang upgrade motornya ke sepeda motor yang telah menggunakan sistem smart key. Ada yang memasang CCTV di sudut-sudut mati. Yah, itu saja juga belum pasti aman. Padahal, mereka sudah mengeluarkan dana dan tenaga tambahan untuk meningkatkan rasa aman dan nyaman di lingkup sekitar tempat tinggal.

Kerja ajaib dari maling yang mampu membuat satu sepeda motor raib dalam sekejap semakin membuat masyarakat resah. Apalagi, upaya dari polisi sejauh ini hanya mengandalkan program patroli.

Menurut jurnal akademi kepolisian yang berjudul “Upaya Patroli Dialogis Unit Patroli Sabhara Dalam Mencegah Tindak Pidana Curanmor di Polres Cilacap”, patroli dipilih oleh pihak kepolisisan sebagai upaya yang sangat efektif dan efisien untuk mencegah “niat” dan kesempatan sang maling.

Sayangnya, walaupun sudah pakai mobil atau motor keren ninu ninu dan seragam kebanggaan, patroli hanya sebatas rutinitas yang bahkan di beberapa wilayah Surabaya tidak rutin dilaksanakan tanpa adanya sasaran dan penindakan yang jelas.

Ketidakjelasan ini sebenarnya juga terlihat dari pola kerja dukun. Dalam artikel The Conversation, soal alasan masih banyak orang percaya kekuatan dukun, dijelaskan bahwa pola kerja dukun itu menggunakan klaim tidak berdasar, tidak jelas asal-usulnya, dan mengandalkan pernyataan umum untuk mencipta fenomena psikologi The Barnum Effects.

The Barnum Effect ini merupakan fenomena psikologi di mana, orang cenderung menerima hal yang umum tapi tidak jelas, yang nantinya diaplikasikan sebagai sesuatu yang unik pada dirinya.

Jadi, kerja polisi dan dukun sama-sama kurang efektif, kan. Tapi sayang, warga Surabaya seperti tidak diberi pilihan. Bahkan yang sudah memegang bukti rekaman CCTV.

Lapor ke polisi, ketemu masalah baru. Datang ke dunun, tidak mendapatkan jawaban yang pasti. Jawaban saja tidak pasti, apalagi solusi. Namun, karena tidak ada pilihan lagi, warga tetap meluangkan waktu, sedikit mematikan logika, dan pergi ke dukun demi menemukan motor kesayangan yang raib.

Polisi, harga dirimu kini

Melihat masih banyak masyarakat Surabaya yang memilih lapor ke dukun daripada polisi, membawa saya pada kasus Ponari, bocah asal Jombang. Bocah pemilik batu sakti.

Batu yang diyakini mampu menyembuhkan berbagai penyakit ini membuat banyak masyarakat berbondong datang. Walaupun pada praktiknya dibenci orang, nyatanya banyak juga masyarakat, terutama yang mempunyai keterbatasan akses kesehatan datang mengharap kesembuhan dari batu Ponari. Hal ini pun disadari sebagai pukulan keras terhadap layanan kesehatan di Jawa Timur oleh Gubernur Jawa Timur kala itu, Soekarwo.

Kinerja polisi kalah sigap dibanding pelaku curanmor di Surabaya. Sementara itu, keberadaan dukun yang selalu mengungkap motif pelaku secara personal seperti, “Ada pihak yang engga suka sama korban” dan “Pelakunya orang terdekat yang merasa iri” melupakan fakta yang lebih luas menyangkut publik, yakni perihal kesenjangan di tengah masyarakat. Faktor kesenjangan ekonomi, sosial, dan pendidikan merupakan beberapa faktor nyata.

Kita coba lihat kondisi Venezuela, yang masuk dalam daftar 10 negara yang tidak aman, padahal negaranya tidak dalam situasi perang. Kasus penyerangan, perampokan, dan pembunuhan tinggi di 2016. Beberapa faktor yang membuat negara ini kacau adalah kepolisian yang dipenuhi personel yang korup, sistem pengadilan yang tidak tersistem, politisasi hukum alias hakim yang tidak netral jadi tiga faktor serius yang membuat masyarakat jengah, tidak takut, dan bebas melakukan tindakan kriminalitas.

Sudah saatnya kasus curanmor di Surabaya ini tidak hanya dipandang sebagai kasus personal. Melabeli motif pelaku hanya sebatas sebagai anak nakal, pengangguran, tidak berpendidikan, dan dorongan nafsu iri dengki tidak akan menurunkan kasus curanmor. Kasus ini kompleks, menyangkup kehidupan masyarakat.

Polisi sudah kalah citra sama dukun, masa iya mau kalah strategi juga sama warga Surabaya. Warga ini udah hebat jadi tim penyidik berdasar asas gotong royong lagi. Akankah lembaga yang kuat secara hukum dan punya sumber dana ini nantinya masih jadi idaman warga untuk melapor?

BACA JUGA Mengapa Belakangan Banyak Berita Negatif tentang Polisi? dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Penulis: Anisah Meidayanti

Editor: Yamadipati Seno

Exit mobile version