Kebelet Ngising dan Aneka Pilihan Transportasi Mudik Lainnya

Esai MUDIK Mojok

Esai MUDIK Mojok

Setiap menjelang lebaran, saya selalu bingung mudik naik apa. Setiap tahun, tujuan mudik saya berganti. Tahun ini saya dan istri mudik ke Jember, Jawa Timur, kampung halaman saya. Tahun lalu kami ke Jambi, kampung halaman istri.

Rasanya kepusingan memilih moda transportasi untuk mudik itu sindrom tahunan. Tapi bagaimana lagi, mudik itu penting. Merantau membuat rumah jadi terasa jauh, karenanya amat dirindukan. Merantau pula yang membuat orang sadar betapa hangatnya rumah. Karena itu, mudik jadi semacam kewajiban tahunan para perantau. Banyak orang menabung, rela berutang, agar bisa tetap mudik.

Supaya lebih mudah menjalankan mudik, saya beri beberapa pilihan moda transportasi. Semoga bisa membantu.

Kapal Mabur

Pesawat termasuk moda transportasi paling aman. Tingkat kecelakaannya kecil. Namun bagi pembenci ketinggian, termasuk saya, naik pesawat itu semacam tes jantung pemberian Allah SWT. Momen ketika pesawat ngebut, lalu menjejak landasan untuk kemudian terbang, membuat jantung berasa ingin lompat.

Saya punya kawan, sebut saja namanya P. Dia termasuk orang yang takut naik pesawat terbang. Kalau memungkinkan, ia memilih transportasi jalur darat saja. Tapi masalahnya, pekerjaannya membuat ia harus keliling Indonesia. Rasanya susah juga kalau mau ke Sulawesi atau Kalimantan dengan kapal laut. Kurang efektif. Maka mau tak mau ia naik pesawat.

Di dalam pesawat, setiap ada goncangan, dia jadi orang yang religius. Istighfar yang dia panjatkan dalam waktu beberapa jam di pesawat, mungkin jauh lebih banyak ketimbang doa dan istighfarnya dalam setahun.

Pesawat juga unggul dalam kecepatan. Jarak Jakarta-Surabaya bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam. Kalau naik kereta, biasanya 9-12 jam. Naik bus bisa 24 jam. Pesawat, seperti kereta, tak kenal macet di jalan. Mungkin delay. Kalau apes, bisa ditunda berjam-jam.

Selain soal delay dan ruwetnya pemeriksaan yang harus melepas sabuk segala, kelemahan lainnya adalah: tiketnya selalu mahal kalau menjelang lebaran. Harga tiket pesawat Jakarta-Surabaya, misalnya, di hari normal banderolnya berkisar Rp500 ribu. Namun menjelang lebaran bisa melonjak jadi Rp1,5 juta.

Di saat seperti itu, anak kandung kapitalisma bernama kartu kredit biasanya dibutuhkan. Beli tiket pesawat, dicicil 12 kali. Tahun depan, di lebaran berikutnya, utang tiket sudah lunas dan lanjut berutang lagi untuk membeli tiket mudik lagi. Hidup kapitalisma! Ndasma.

Kereta Api

Moda ini sebenarnya amat menyenangkan. Harga jelas lebih murah ketimbang pesawat. Sekarang kereta api juga semakin bisa diandalkan. Ia jarang terlambat. Suasana di dalam kereta juga lebih manusiawi, ada pengatur suhu segala.

Dulu, kereta jenis Gaya Baru Malam itu seperti kamp pembantaian. Kawan saya, Panjul, sang Bapak Air Mata Nasional itu, pernah bilang: setiap naik kereta Gaya Baru Malam, rasanya ingin menebas kaki para pedagang yang melangkahi kepala, sembari berteriak: Hidup Vietkong! Kawan pekok lain bernama Cahyo Purnomo Edi, pernah terperangkap di bawah kursi kereta. Dari Purwokerto sampai Jakarta. Tak bisa keluar karena di sisi kanan kiri Cahyo kardus-kardus ditumpuk. Modaro.

Saya cuma kenal satu orang kawan yang bisa tidur dengan nyenyak di kereta Gaya Baru Malam era baheula. Namanya Habib, konon dia alien yang turun dari planet Namec. Di saat suasana dalam kereta hiruk pikuk seperti perang di Dunkirk, kurang ajarnya pedagang asongan bikin Panjul ingin teriak “Asu kabeh!”, si Habib ini bisa tidur dengan nyenyak. Pakai ngorok. Itu bakat alami, Kawan. Bukan sesuatu yang bisa didapat dari latihan.

Tapi di balik semua peningkatan fasilitas kereta, ada setidaknya dua hal yang ora mashoook.

Pertama, tiket mudik lebaran itu seperti mitos. Antara ada dan tiada. Menjelang H-90 biasanya PT. KAI akan ngomong mereka menjual tiket lebaran berpuluh ribu lembar. Saat penjualan dibuka, crot, semua tiket tiba-tiba saja sudah habis. Mataneeee. Saya pernah mencoba peruntungan untuk membeli tiket kereta. Sudah bermodal internet cepat, tapi tetap saja kalah dengan tangan-tangan lain. Tangan yang mirip copet di Pasar Senen. Tiket kereta api untuk mudik terjual lebih cepat dari bayangannya sendiri.

Kedua, kereta tak lagi menyediakan ruang romantisme. Pengantar sudah tak boleh masuk dan mengantarkan penumpang. Lalu kereta tak membolehkan penumpang untuk merokok. Ini fatal. Kereta api itu tempat pertemuan para pengembara, tempat para pejalan berbagi kisah dan rokok. Banyak kebajikan berpusar antara kepul asap rokok. Dulu masih ada ruang restorasi untuk merokok. Tapi sekarang di semua tempat dalam kereta, haram hukumnya merokok. Kalau melanggar, akan diturunkan.

Kelemahan ketiga, moda transportasi ini sangat Jawa-sentris. Kalau kamu tinggal di Kalimantan atau Sulawesi atau Papua, mustahil naik kereta untuk mudik.

Bus

Moda ini enak bagi mereka yang menggemari perjalanan darat. Harga tiketnya lebih murah ketimbang kereta. Kalau dapat bus yang kelas eksekutif, rasanya seperti raja. Kaki bisa selonjor. Jarak antar kursi lapang.

Namun, tidak seperti kereta api, agak susah memesan tiket bus via online. Mereka masih mengandalkan agen. Ini kelemahan pertama bus. Kelemahan kedua, mereka rawan terjebak macet panjang. Badannya yang besar membuat bus tak bisa bermanuver dengan mudah. Ada sih bus-bus legendaris yang supirnya seolah punya 9 nyawa. Tapi di waktu mudik begini, jalanan sudah penuh. Bergerak saja susah, apalagi salip-menyalip.

Seorang kawan wartawan yang biasanya mendapat jatah mudik gratis via bus, mengeluhkan lamanya perjalanan Jakarta-Malang. Nyaris 2 hari. D.U.A.H.A.R.I.

Saya tak akan menyarankan anda naik bus. Ini ada kaitannya dengan pengalaman buruk di masa lalu. Bayangkan kalau anda naik bus dan terjebak kemacetan di daerah antah berantah. Lalu tiba-tiba saja anda kebelet ngising. Apa yang anda lakukan? Harakiri adalah pilihan yang sepertinya paling masuk akal.

Percayalah, menahan rasa sakit karena kebelet ngising itu jauh lebih memilukan ketimbang ditolak calon mertua karena beda agama.

Mobil

Ia sama dengan bus: rawan terjebak macet panjang. Namun mobil lebih fleksibel. Ia bisa berhenti di mana saja, kapan saja. Kalau jalan utama macet, kamu bisa mencari jalur alternatif. Keleluasaan ini yang tak bisa didapat bus. Selain itu, pengeluaran bahan bakar biasanya lebih murah. Apalagi kalau mudiknya rame-rame.

Kelemahannya adalah: yang nyetir akan capek. Kalau di bus, penumpang tinggal tidur saja. Kalau di mobil pribadi, biasanya supir enggan ditinggal tidur. Apalagi kalau yang nyetir itu adalah teman atau saudara, bukan supir profesional yang dibayar. Bahkan ada semacam aturan tak tertulis untuk mengajak ngobrol orang yang nyupir. “Biar gak ngantuk,” begitu alasannya.

Nah, di saat mudik, kemampuan menyetir itu jadi semacam kutukan. Mau nggak mau, yang bisa menyetir mobil akan diberi mandat nyupir. Saya punya kawan, cucu kyai besar dan jago nyupir. Sejak lulus SMA, dia sering menyupiri sang kakek untuk mengisi ceramah keliling Jawa Timur. Karena kebiasaan menyupir untuk kyai besar, ia jadi hati-hati dalam nyupir. Setirannya halus dan terukur. Beda dengan anak muda yang biasanya berapi-api dan hobi ngebut. Karena itu pula, ia sering diberi mandat nyupir kalau kami, kawan-kawannya, mengadakan rekreasi.

Dia tipikal supir yang ngambek kalau ditinggal tidur. Saat suasana dalam mobil sudah hening dan terdengar dengkur halus, dia misuh dan memilih berhenti di pinggir jalan, klepas-klepus ngudud, sampai kawan-kawannya bangun. Mereka kemudian akan tanya: kenapa kok berhenti, kan jadinya membuang waktu. Kalau sudah begitu, dia akan reng-mencureng, merengut.

“Mbok pikir aku supir ta, Cuk?”

Motor

Ini sebenarnya moda transportasi yang paling asyik. Fleksibel. Bisa dengan mudah bermanuver, mencari jalan tikus yang tak bisa dilewati mobil. Kelemahannya, ia tak bisa diandalkan untuk keluarga dengan jumlah anggota banyak. Memang ada beberapa keluarga berisi 4 orang (ayah, ibu, 2 orang anak) yang nekat naik motor untuk mudik. Ini tak dianjurkan karena berbahaya. Selain itu, menyetir motor dalam jarak jauh juga melelahkan. Bersandar saja tak bisa.

Sebelum saya pindah ke Jakarta tahun 2014, setiap tahun saya mudik naik motor. Jaraknya memang pendek: Jember-Lumajang. Naik motor memang punya sensasi yang sukar ditandingi. Angin yang langsung menyentuh kulit itu rasanya lebih sejuk ketimbang angin dari AC mobil. Selain itu, pemandangan Jember-Lumajang cakep. Di kanan ada gunung Lamongan menjulang. Di depan ada gunung Semeru yang gagah. Di samping kiri ada persawahan dan sungai Bondoyudo yang meliuk seperti ular.

Sejak pindah ke Jakarta, mudik naik motor agak mustahil. Jakarta-Jember terlalu jauh. Tapi saya tetap menyimpan keinginan itu. Setidaknya sekali dalam hidup saya harus merasakan mudik Jakarta-Jember, berlagak seperti Izzy Stradlin yang suka naik motor dan membuat lagu “Shuffle It All” dari petualangannya naik motor. Tapi tentu saja saya harus mereparasi motor matic lawas saya yang sudah sering batuk-batuk.

Gratisan

Jangan salah, biasanya setiap tahun ada buanyaaak sekali lembaga, partai, perusahaan, sampai lembaga negara mengadakan mudik gratis. Mulai dari perusahaan mi instan, partai banteng dan juga beringin, Kementrian Perhubungan, hingga Pertamina, biasanya mengadakan mudik gratis. Info mudik gratis ini biasanya dipajang di situs resmi mereka. Calon pemudik harus rajin-rajin memantau situs resmi penyedia layanan mudik gratis ini. Modal yang dibutuhkan cuma foto kopi KTP dan KK. Kadang untuk para wartawan, dibutuhkan ID.

Meski gratis, fasilitasnya tak kalah enak. Beberapa kawan bercerita kalau ada sejumlah bingkisan yang diberikan sebagai fasilitas. Kaus, misalkan. Mudik gratis ini memakai aneka macam moda transportasi. Ada kereta api, ada pula bus, ada juga yang menawarkan mengangkut motor gratis ke daerah tujuan mudik.

Saya sendiri belum bernyali ikut mudik gratis ini, terutama yang naik bus. Takut kebelet ngising lagi di tengah jalan.

Exit mobile version