Kalau Nabi Yunus Saja Masih Merasa Zalim, Kok Kamu Malah Sok Benar?

Jangan jadi zalim MOJOK.CO

MOJOK.CONabi Yunus pun masih merasa dirinya bagian dari orang-orang zalim. Namun, banyak dari kita yang sudah merasa paling benar di antara sesama.

Seusai membagi-bagi makanan, laki-laki itu kemudian berdiri. Ia mengangkat tangannya ke arah langit. Ia berdoa dengan suara yang terdengar jelas, meski saya tidak berada di dekatnya.

Ia mendoakan segenap kaum muslimin yang tengah ditindas oleh orang zalim di berbagai penjuru dunia. Ia juga berdoa meminta ketakwaan serta kebaikan-kebaikan yang lainnya. Sementara itu, orang-orang yang duduk di sampingnya, sembari menunggu azan Maghrib, mengamini doa pria paruh baya itu.

Masih berada di momen yang sama, di dalam Masjid Nabawi, saya juga melihat sosok laki-laki yang mengangkat tangannya dan menghadap kiblat. Ia berdoa dengan lirih, matanya berurai air mata sambil sesekali diusap seakan tidak ingin ada satu orang pun yang memperhatikannya.

Samiallahu liman hamidah,” ucap sang imam ketika bangun dari rukuk pada rakaat terakhir salat witir. Kemudian beliau membaca doa qunut dan doa-doa lainnya yang cukup panjang terkhusus pada sepuluh hari akhir. Berbeda dengan kaum muslim tanah air yang melakukan qunut pada paruh akhir Ramadan. Kaum muslimin di Saudi Arabia justru membaca qunut pada awal Ramadan selama satu bulan penuh.

Terdengar suara tangisan dari jemaah yang cukup banyak. Bisa jadi menangis karena memang paham akan makna doa sang imam. Atau menangis karena ikut-ikutan jemaah yang lain. Atau terakhir, menangis karena memang betul-betul tidak paham apa yang dibaca sang imam.

Begitulah nuansa Ramadan di Nabawi. Banyak saya lihat orang yang berlinang air matanya sambil berdoa ketika menghabiskan waktunya di masjid ini. Entah sebagai ungkapan rasa syukur karena diberi kesempatan mengunjungi tanah haram. Atau karena memang ada hajat khusus yang ingin disampaikan di tempat yang mulia itu.

Apalagi doanya orang yang berpuasa termasuk doa yang mustajab alias niscaya terkabulkan kata Baginda Nabi.

Namun, pemandangan sebaliknya ada di dunia maya. Terkhusus tingkah laku netizen warga negara +62. Dari beberapa hari kemarin, atau mungkin dari sebelum pilpres. Ramai saya lihat orang-orang penuh emosi mendoakan kesialan atau bahkan kehancuran kepada pihak-pihak zalim yang diduga curang dalam pilpres kali ini

Bahkan tak jarang keluarga, dan keturunan pihak yang dianggap zalim pun ikut diseret dalam doa mereka. “Maka laknatlah tujuh turunan dan hancurkan sehancur-hancurnya Ya Allah,” kata salah satu dari mereka dalam doanya.

Saya pribadi jadi ingat sosok Abdullah bin Aun (selebihnya ditulis Ibnu Aun), seorang tabi’in ulama hadis yang hidup di Kota Bashroh. Dalam kitabnya, At Thobaqot, Muhammad bin Saad bercerita tentang Ibnu Aun. Dia adalah seorang yang pandai menahan lidahnya. Tidak pernah terdengar sekali pun ia melontarkan makian kepada manusia, baik yang merdeka ataupun budak. Atau bahkan hewan-hewan di sekitarnya.

Az Zahabi dalam kitabnya, AsSiyar, juga bercerita tentangnya. Ibnu Aun semasa hidupnya tidak pernah marah. Jika ada orang yang membuatnya marah, dia akan mengatakan kepada orang tersebut, “Semoga Allah memberkahi Anda.”

Al Hajaj, seorang gubernur yang teramat bengis dan zalim dalam sejarah umat saja pernah didoakan oleh Ibnu Aun agar Allah mengampuninya. Ketika masyarakat ramai-ramai mengkonfirmasi hal tersebut kepadanya, dia berkata, “Aku tidak peduli (ocehan manusia) jika aku memohon ampunkan untuknya.”

Sekadar informasi, Al Hajaj adalah salah seorang gubernur yang amat zalim. Di tangannya puluhan ribu orang merenggang nyawa demi mendapatkan sebuah hal yang disebut stabilitas keamanan pada saat itu.

Ibnu Aun, walau pribadinya sangat lembut dan tenang. Beliau juga tercatat pernah ikut berjihad ke tanah Syam. Menunggang untanya, beliau berangkat pergi berjihad dengan jiwa raganya. Beliau ikut bersama pasukan kaum muslimin untuk berjihad memerangi pasukan Romawi yang zalim kala itu.

Itulah gambaran seorang mujahid sejati sang pembela agama Allah. Kata-katanya lembut dan menyejukan dan lisannya basah akan doa kebaikan bagi saudara-saudaranya.

Kembali ke doa melaknat. Memang ada hadis sahih yag mengatakan doa orang yang terzalimi termasuk doa yang sangat mustajab. Kata Nabi, tidak ada penghalang antara dirinya dengan Allah. Namun, ulama menekankan pada hadis ini agar menjauhkan diri dan waspada akan sikap zalim. Bukan sebagai legitimasi kebolehan untuk mendoakan pihak yang kita anggap zalim.

Bicara pilpres dan kezaliman memang hal yang cukup sensitif. Benarkah klaim sebagai pihak yang terzalimi tidak sama sekali pernah menzalimi pihak sebelahnya? Jika Allah punya kehendak untuk mengabulkan bahwa siapa saja yang zalim dalam pilpres akan hancur dan binasa, bukan tak mungkin kedua belah pihak akan hancur dalam kebinasaan dan membawa bangsa ini ke arah kehancuran.

Karena sadar atau tidak, pasti ada di antara komentar kita yang nyindir, nyinyir, atau bahkan fitnah. Apa pun dan di mana pun afiliasi politiknya. Bukankah hal demikian juga zalim namanya?

Sudah berapa tokoh agama yang dijatuhkan marwah dan wibawanya. Dibilang ini dan itu hanya karena perbedaan pilihan. Sudah berapa banyak tokoh politik yang dicaci dan dihina hanya karena ia berada di kubu seberang? Bukankah itu semua bisa disebut juga dengan kemungkaran dan kezaliman?

Tradisi keislaman nusantara mengenal selawat asygil. Selawat yang di dalamnya terdapat sebuah doa agar Allah membuat kaum zalim sibuk bertengkar dengan sesamanya. Selawat ini biasanya dibaca di kampung-kampung menjelang azan Maghrib dan Subuh.

Menariknya, saya pernah mendengar bahwa beberapa orang alim tidak mau membaca selawat ini. Alasannya, mereka para alim itu khawatir bahwa doa ini akan kembali kepada mereka lagi. mereka memandang diri sendiri masih belum lepas dari sifat-sifat zalim, baik yang disadari atau tidak.

Bahkan seorang Nabi Yunus saja dalam zikirnya masih mengakui bahwa beliau bagian dari orang-orang yang zalim. Subhanaka inni kuntu mina azzolimin (Maha suci Engkau, sungguh aku ini bagian dari kaum zalim (Al Anbiya ayat 87) kata beliau. Lalu, bagaimana dengan kita?

Saya pribadi masih belum bosan mendoakan kebaikan untuk negeri ini dan kepada para pemimpinnya. Dan juga senantiasa meminta kepada Allah agar negeri ini makin aman dan jauh dari kata kehancuran.

Karena kalau negeri ini hancur, maka Kementrian Agama juga akan hancur. Dan kalau Kementrian Agama hancur, maka pranata di bawahnya termasuk KUA juga akan hancur. Kalau KUA sudah hancur, bagaimana nanti saya (dan kamu juga yang belum nikah) daftar nikahnya coba?

Exit mobile version