Inferiority Complex dalam Dunia Doktor: Inferior Boleh, Kompleks Jangan

“Tell me what we don’t know about Indonesia,” kata si supervisor yang dari Australia.

MOJOK.CO ­- Perasaan minder dalam dunia doktor itu normal saja asalkan tidak melampaui batas ke “kompleks”. Inferior boleh, inferiority complex jangan.

Dua minggu lalu, seorang kawan, Wasisto Raharjo Jati menulis tentang “Inferiority Complex dalam Dunia Riset Indonesia” (24 Oktober 2021). Tulisan yang menggebu-gebu dan menggelora.

Tulisan tersebut ditanggapi Bayu Dardias berjudul “Inferiority Complex atau Perasaan Minder Bagian dari Eksistensi Akademisi” (3 November 2021) yang penuh gelora kerendahan hati dalam menyikapi dikotomi Barat dan Timur dan usaha melampaui keduanya.

Wasis dan Bayu mendapat pertanyaan yang sama dari supervisor, tapi responsnya beda: “Tell me what we don’t know about Indonesia,” (katakan pada saya, apa hal yang kami tak tahu soal Indonesia.)

Wasis memahaminya sebagai arogan supervisor sedangkan Bayu menanggapinya sebagai tantangan supervisor untuk Bayu dalam menggali gap (kebaruan) tulisan doktoralnya; Wasis melihatnya sebagai suatu relasi superior-interior sedangkan Bayu memaknai sebagai kerendahan hati supervisor.

Saat menempuh S3 di Charles Darwin University, kampus saya memang jauh dari hiruk pikuk popularitas ranking kampus dan para Indonesianis yang top.

Saya dibimbing Dennis Shoesmith, Prof (emeritus) Southeast Asia dan Wayne Cristaudo Prof (emeritus) political philosopher Barat-Yahudi. Saya belajar luar biasa dari kerendahan hati mereka yang mau mendengarkan harapan tulisan saya, lalu memberi petunjuk/tanda agar dapat diwujudkan.

Saat itu, saya datang dengan semangat kurang lebih sama dengan Wasis: dalam dikotomi Barat-Timur, cenderung essentialism.

Setelah keluar dari studi doktoral, saya menjadi biasa saja menanggapi berbagai macam hal, tidak terlalu essentialism atau mengawali dengan asumsi. Misalnya, bahwa Indonesia seperti ini dan itu, lalu yang lainnya bukan; hanya kita yang tahu diri kita yang lain ideologis.

Memang sulit mengolah perasaan rendah diri yang justru terekspresikannya melalui sikap reaksionis, ideologis, berontak. Perasaan rendah diri ini timbul-tenggelam. Jadi perasaan/mentalitas itu harus benar-benar disadari.

Saya ingat pendapat supervisor saya ketika saya ingin cerita sejarah modernitas Barat dengan cara mengkritiknya secara total. Saya mempunyai preferensi semua yang ada di Barat berwajah homogen dan salah.

Sebaliknya, Indonesia itu unik dan beragam. Namun, menurut supervisor yang disertasinya juga tentang Barat, Barat itu unik dan beragam. Jadi sebenarnya Barat dan Indonesia tidak jauh beda.

Masa itu telah berlalu. Kini saya menjadi lebih paham lagi apa yang dikatakan oleh para pembimbing saya.

Manusia itu kompleks di mana saja. Kita harus memahami kompleksitasnya, bukan malah membuat penyederhanaan yang bisa jadi mendistorsi realitas, bahkan ekstremnya distorsi itu membuat konflik dan salah paham di antara kita.

Bahasa Inggris

Bagi saya, bahasa Inggris memang masalah besar orang Indonesia untuk mengatasi inferiority complex.

Dalam pergaulan di Canberra dan Darwin, saya berteman dengan orang Cina, India, Singapura, Korea, Rusia, Amerika, Brazil, Bangladesh (Manipur), Skotlandia, Vietnam, Iran, Thailand, Myanmar/Burma (Shan), dan bahkan orang Australia yang beragam etnisnya dan logatnya. Jadi saya merasakan keunikan dan persamaan antara tinggal di Selatan dengan tinggal di Utara Australia.

Ketika saya kuliah di ANU College, bahasa Inggris-nya terlihat jelas. Berbeda dengan Australia Utara yang logatnya awalnya memang susah dipahami.

Selain itu, ketika saya kerja serabutan baik di Selatan maupun di Utara, saya belajar banyak sekali ragam logat bahasa Inggris dari yang paling “kumur-kumur” sampai paling bening. Kesadaran dan pemahaman ini membuat saya tidak minder (biasa saja).

Memang, awal tinggal di luar negeri, Canberra, saya merasa terasing dan minder. Pada minggu-minggu pertama 2010, saya memang kesulitan memahami apa yang disampaikan dosen dan supervisor cleaning.

Namun lambat laut, saya menjadi terbiasa dengan perbedaan logat itu sama halnya terbiasa dengan perbedaan ketika tinggal di Indonesia dengan ragam etnis dan agama.

Walaupun saya cuma kuliah-kuliahan di ANU “coret”, tapi saya selalu ikut diskusi-diskusi temen-teman Indonesia dan non-Indonesia. Misalnya, di “Indonesia update”, “Minaret” (kelompok diskusi Indonesia), dan beberapa pengajian (walaupun pengajiannya, biasa, beragam) serta diskusi informal.

Selain itu, saya sering diskusi juga dengan orang-orang Australia yang mereka hanya lulusan SMA saja atau D3 (vocational). Misalnya, satpam, para tukang dan teknisi mesin-mesin dari tema Tuhan, Agama sampai ke korupsi dan politisi di Australia dan Indonesia. Kita berkomunikasi dengan Bahasa Inggris dengan lancar dan logat beragam.

Perasaan minder, suatu perasaan rendah diri, hal itu normal saja asalkan tidak melampaui batas ke “kompleks”.

Sebab, jika sampai ke sana, hal itu akan berimplikasi memuja-muja, menghamba, meng-copypaste, menduplikat, menjadi follower secara fanatif dan dogmatik seseorang, aliran, mazhab, idola yang kita anggap luar biasa, fantastis, dan sulit dijangkau oleh apa yang kita sadari secara mental dan eksistensial.

Benar kata Bayu, masalah bahasa itu cuma dibuat-buat saja sebagai masalah oleh kita yang bagi saya dan Bayu serta Wasis adalah bahasa ketiga. Dan masalah sebenarnya ada di diri kita—yang kalau kata anak-anak jaman now: overthinking.

Jadi ketika kita bertemu dengan berbagai macam orang di Australia dari segala pelosok penjuru dunia, maka urusan bahasa Inggris adalah urusan ekspresi saja. Asal kita dimengerti oleh yang lain, selesai urusan bahasa, apapun ekspresi logatnya.

***

Setelah lulus doktor, biasanya secara sederhana ada tiga tipe doktor: ada yang sangat produktif kerja-kerja, scopus, mroyek dan sejenisnya; ada yang sibuk mengurusi rutinitas jabatannya dalam birokrasi kampus; ada juga yang santai antara keduanya demi faktor eksternal.

Ada hal utama lagi dari ketiganya, jika diperas: sense of humility (kerendahan hati).

Saya kira, kita harus selalu terjaga-sadar untuk tetap rendah hati, karena studi doktoral adalah proses pencarian ilmu (fenomenologi keilmuan), bukan cari kuasa, uang, dan sejenisnya, kecuali niat sejak awal begitu, Anda bisa kecewa.

Namun logika mencari duit dengan makna memperoleh standar layak hidup manusiawi dari gelar ke-doktor-annya juga penting. Gelar doktor harus disesuaikan dengan pola kehidupan ke-doktoran-nya agar (bukan untuk kaya) menunjang kerja-kerja doktornya.

Jadi bukan malah men-downgrade para doktor, membatasi, mengkerdilkan, melemahkan ruang gerak ke-doktoran-nya, apalagi ditambah dengan drama intervensi politik praktis.

Dalam fenomenologi keilmuan, kerja ke-doktor-an adalah kerja nyata kerendahan hati kanthi laku dalam mengatasi kerendahan diri (inferiority complex) dan luapan reaksionis-emosional semata.

Walaupun orang lain kurang menghargai kerja doktor (ah cuma omong doang), lalu menyempitkannya, membatasinya, maka para doktor dalam statusnya tetap harus punya kesadaran rendah hati.

Bukan kesadaran rendah diri.

BACA JUGA Dibanding Finlandia atau Jepang, Standar Mutu Pendidikan di Indonesia Sebenarnya Tak Selalu Lebih Ambyar dan ESAI lainnya.

Exit mobile version