Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Curhat Mas Marpaung: Balada Seorang Pejabat

Mularoy Marpaung oleh Mularoy Marpaung
3 Desember 2016
A A
Curhat Mas Marpaung: Balada Seorang Pejabat

Curhat Mas Marpaung: Balada Seorang Pejabat

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Dasar Batak blangkonan!” Mendengar ejekan itu dari salah seorang rekan kerja, saya cukup tersenyum tahu diri dan memaklumi.

Awal penyebabnya adalah muka dan nama saya yang punya embel-embel Marpaung di belakang, tetapi jangankan ngomong Batak, lah wong membedakan tulang sama amangboru saja saya masih harus buka RPUL. Sulit. Vokabulari bahasa Batak saya sama menyedihkannya, mentok di horas (halo) dan hepeng (duit). Di luar itu saya membutuhkan Google Translate.

Saya lahir dan besar di Magelang, kota yang terkenal sebagai kota sejuta bunga walau entah di mana bunga sebanyak itu ditempatkan. Saya sangat fasih berbahasa Jawa yang notabene bahasa ibu. Ini semua bermula dari ibu saya, seorang perempuan Jawa yang khilaf menikah dengan lelaki Batak perantau dari Pematang Siantar. Berkat mereka, balada hidup saya sebagai pejabat alias peranakan Jawa-Batak dimulai. Mungkin versi kebalikan dari diri saya adalah para pujasera, putra Jawa kelahiran Sumatra, yang lahir dari orang Jawa tapi lidahnya Melayu totok.

Menjadi pejabat membawa suka duka, terlebih dengan adanya marga yang menempel. Beberapa orang Batak mengejek saya dengan kata dalle, kata Batak yang artinya tidak sempurna, tersesat, dan semacamnya karena saya tidak bisa berbahasa Batak dan tidak mengerti adat Batak. Bagi sebagian orang Batak, panggilan tersebut menyakitkan karena memang ditujukan untuk merendahkan. Namun, saya tidak peduli dengan ejekan tersebut. Untuk menenang-nenangkan hati, saya yakini saja, orang Batak berbahasa Batak itu sudah berceceran di mana-mana, sementara orang Batak berbahasa Jawa itu unik.

Diejek memang, tapi status pejabat juga banyak membantu saya. Kombinasi muka dan nama Batak dengan bahasa Jawa yang fasih dan medhok yang sering menjadi bahan olok-olok itu malah memudahkan hidup saya ketika harus bekerja di luar Jawa. Saya jadi lebih mudah bergaul dan berbaur. Ketika harus merantau ke Kalimantan Timur, saya pikir saya harus belajar bahasa lokal agar mudah bergaul. Sampai di sana saya malah geli sendiri. Bahasa Jawa terdengar di mana-mana. Banyak sekali orang Jawa di Kallimantan, baik yang asli dari Jawa maupun yang sejak lahir sudah tinggal di sana—keturunan orang Jawa yang ikut transmigrasi puluhan tahun yang silam. Menurut data BPS tahun 2010, suku Jawa memang suku dengan populasi terbesar di Kalimantan Timur.

Hidup di pedalaman Kalimantan membuat saya sadar bahwa sebutan suku perantau bukan hanya monopoli suku di luar Jawa, seperti Batak, Padang, Bugis, dan lain-lain. Sebab, di Kalimantan orang Jawa hidup dan beranak-pinak dengan tenangnya. Bahkan di tepi jalan dalam hutan yang tidak ada peradaban sama sekali (tidak ada perkampungan, warung, atau apa pun kecuali pohon dan penunggunya) masih ada orang Jawa yang sempat-sempatnya jual rambutan. Saya kira level survival orang Jawa sudah mendekati amoeba ataupun kecoak. Mereka bisa hidup di mana saja dalam kondisi apa pun.

Saya dengan mudahnya bisa berkomunikasi dengan banyak orang Jawa di sana, baik ketika harus menyelesaikan masalah berkait pekerjaan maupun ketika butuh bantuan pribadi. Sama-sama bernasib jauh dari tanah Jawa membuat kami lebih dekat. Apa lagi kami bisa berkomunikasi dalam bahasa Jawa, percakapan menjadi lancar.

Di sisi lain, muka dan nama yang Batak banget membantu saya dengan suku Batak. Walaupun saya tidak bahasa Batak, mereka tetap menerima saya dengan senang hati. Bagi orang Batak, di perantauan sesama orang Batak adalah saudara. Walaupun hampir di setiap pertemuan dengan mereka, saya pasti dikhotbahi panjang lebar untuk ingat leluhur, belajar adat Batak yang jelimetnya nggak ketulungan dan belajar bahasa Batak. Dan tidak lupa: saya juga harus cari istri orang Batak. Semua saran itu terbukti di kemudian hari tidak satu pun menjadi kenyataaan. Dalam rumah keluarga Batak pulalah saya berlindung dan bersembunyi ketika ada orang yang mau menggorok leher saya.

Ketika sudah bisa bergaul dengan orang Batak, bergaul dengan suku lain pasti akan lebih mudah, semisal dengan orang Toraja, Manado, Timor, ataupun Dayak. Kalau ini karena disatukan oleh hobi yang sama, yaitu memakan hidangan dengan kode B1 dan B2. B1 untuk kambing balap alias kirik dan B2 untuk sapi pesek alias celeng. Tidak lupa tuak dan petikan gitar mengalun bersama nyanyian rindu akan tanah leluhur.

Saya tidak menyesal jadi anak peranakan. Meski harus jadi Marpaung yang blangkonan, status pejabat membantu saya bertahan hidup di pedalaman Kalimantan. Saya bisa berbaur dan berkomunikasi hampir dengan semua suku. Bekerja, berteman, dan menjalin tali persaudaraan yang tidak akan putus.

Alamak, serius pulak jadinya, tak mangkat tuku kopi sek.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: batakfeaturedjawaKalimantanperanakan
Mularoy Marpaung

Mularoy Marpaung

Artikel Terkait

mudik gratis Lebaran dari Pertamina. MOJOK.CO
Sehari-hari

Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya

19 Maret 2026
Makanan Khas Sunda dan Jogja Bikin Muak- Bau Busuk dan Manis (Wikimedia Commons)
Pojokan

Makanan Khas Sunda Bikin Menderita Orang Jogja, Sama Seperti Perantau Sunda Muak dengan Makanan Jogja yang Serba Manis

11 Maret 2026
Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)
Pojokan

Persahabatan Aneh dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

16 Februari 2026
Pulau Bawean Begitu Indah, tapi Menjadi Anak Tiri Negeri Sendiri MOJOK.CO
Esai

Pengalaman Saya Tinggal Selama 6 Bulan di Pulau Bawean: Pulau Indah yang Warganya Terpaksa Mandiri karena Menjadi Anak Tiri Negeri Sendiri

15 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

19 Maret 2026
Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan MOJOK.CO

Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

17 Maret 2026
Sekolah penerima manfaat beasiswa JPD Pemkot Jogja

Beasiswa JPD Jadi Harapan Siswa di Jogja untuk Sekolah, padahal Hampir Berhenti karena Broken Home

17 Maret 2026
Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.