Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Cerita Pelipur Lara untuk Para Haters Malaysia

Iqbal Aji Daryono oleh Iqbal Aji Daryono
27 Agustus 2017
A A
ESAI malaysia vs indonesia mojok

ESAI malaysia vs indonesia mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beberapa kasus di ajang Sea Games bikin kita tambah gondok ke Malaysia. Mulai desainer buku panduan yang membalik bendera (nggak pernah baca halaman-dalam Atlas Dunia dan RPUL, rupanya), hingga indikasi kecurangan ini-itu.

Lalu di media sebelah, Dek Tsamara Amany tampil gagah menggantikan Pak Mario. “Mari kita ganyang Malaysia dengan membuktikan di lapangan bahwa kita adalah bangsa pemenang!”

Berhasil? Lumayanlah. Ada Lindswell di wushu, ada Wisnu di panahan, ada Indra di kolam renang. Semuanya menendang pantat atlet Malaysia. Kampretnya, di semifinal sepak bola malam tadi yang kita tonton rame-rame itu, kok ya tim kita malah tumbang. Aduh.

Ya sudah. Dalam hal ini motivasi dari Dek Tsamara sedang nggak ketemu nasib. Dan karena kami berdua berbagi tugas, maka sekarang bukan lagi saatnya motivasi, melainkan giliran sesi hiburan pengobat luka hati.

Nah, untuk ubat kesihatan hati tuan dan puan, mari pertama-tama kita ungkit video viral yang menunjukkan betapa kampungannya mereka, saat para suporternya dengan kompak bikin yel “Singapore itu anjiiiing!” Norak sekali. Lebih norak lagi waktu ketahuan bahwa nada yel-yel gituan ditengarai cuma copas theme song klub liga Indonesia! Udah cuma misuh, ternyata diam-diam Malaysia menjadikan Indonesia sebagai benchmark mereka. Jos, to?

Dari situ saya ingin menariknya ke cerita lain. Begini. Suatu kali di tahun 2012, saya main ke Kuala Lumpur. Sebagai tukang jalan-jalan dengan isi dompet mengharukan, saya menginap di kawasan Pudu Raya. Ya karena banyak losmen backpacker di sana.

Malamnya, nongkronglah saya di pinggir jalan. Betapa ingin saya menikmati gelap yang merambat, diselingi suara dag-deg-dog tukang cap cay yang masih jualan, ditemani jajanan lok-lok alias celup-celupan macam cimol yang lagi ngehits, sembari memandangi kereta monorail yang seliwar-seliwer melintasi jembatan.

Dalam kesyahduan sejenis itu, alangkah sempurna rasanya andai ada sayup-sayup suara Saleem Iklim di kejauhan. “Engkau bagai air yang jernih … di dalam bekas yang berdebu ….” (Mas, umurnya berapa Mas?). Atau Amy Search. Atau minimal ya Dek Nurhaliza. Tapi tiba-tiba ….

“Janganlah lagi kau mengingatku kembali… Aku bukanlah untukmu….”

Wadepak! Rossa! Itu radio di warung milo panas itu malah nyetel Rossa! Kuala Lumpur macam apa ini? Untunglah Afgan nggak ikut-ikutan nongol. Tapi yang barusan tadi harus membawa obrolan ini ke perbincangan yang lebih besar.

Begini. Secara teoritis, Malaysia telah jauh meninggalkan kita. Di tangan Dr. M pada masanya, negeri itu memang melesat begitu cepat.

Dalam dunia pendidikan, jamak kita dengar ilustrasi klise: di era Soekarno, para pelajar Malaysia berbondong-bondong belajar ke Indonesia. Tapi mulai Orde Baru hingga sekarang, yang terjadi justru sebaliknya. Pemuda-pemuda kitalah yang pada sekolah ke sana.

Instrumen-instrumen penilaian lain pun bermunculan. Jumlah doktor Malaysia yang lebih banyak dibanding Indonesia, sebagai contoh. Atau indeks kualitatif fasilitas-fasilitas pendidikan. Kesemuanya itu kian menimbulkan kesan keterpurukan kita di depan Negeri Pakcik Najib.

Namun, di samping semua deretan angka itu, tahukah Anda bagaimana dunia kreatif mereka?

Iklan

Faktanya, di balik ketidaksukaan mereka kepada kita, orang Malaysia hobi membebek tren-tren jagat kreatif Indonesia. Dan itu nggak cuma perkara yel campur misuh. Betapa larisnya lagu-lagu Sheila on 7 di sana, misalnya. Juga lagu-lagu ngepop Indonesia lainnya, dari waktu ke waktu.

Iya, saya tahu, Upin Ipin memang hebat. Tapi anggaplah satu karya itu sebagai anomali saja, agar hati kita lebih tenang. Selebihnya, cobalah tengok dunia buku-bukuan.

Sekitar tahun 2009 awal, saya dapat kesempatan ngobrol banyak sama orang dari PTS Milenia, salah satu penerbit yang lumayan mapan di Malaysia. Darinya saya jadi tahu, bahwa dalam perkara buku pun ternyata Malaysia bikin pilu.

“Pemerintah kami keras dan otoriter. Dengan karakter demikian, ekonomi memang berhasil ditata baik. Namun di saat yang sama, dunia pemikiran, diskusi, dan hal-hal yang bersifat ekspresi, jadi sulit berkembang,” kata si dia yang ah saya lupa namanya.

Maka, penerbit-penerbit dari Malaysia pun rutin bersafari ke Jakarta dan Jogja, untuk belanja hak penerjemahan dan penerbitan buku-buku kita. Mereka mengakui para penulis Indonesia jauh lebih kreatif ketimbang penulis-penulis mereka. Dan ujung-ujungnya, buku pop apa yang laris di Indonesia kemungkinan besar akan laris pula di Malaysia.

Selebihnya, silakan tanya Pak Edi Mulyono, juragan buku yang gudang kitabnya juga sering diketok sama penerbit Malaysia. Atau Irwan Bajang,bos Indie Book Corner yang pernah menggelar buku-buku garapannya di satu festival di KL.

Tapi yang jelas, secara sekilas saya bisa membandingkan bahwa buku-buku kita dan buku Malaysia tuh memang njomplang banget. Tentang novel sajalah, cemilan industri buku yang paling banyak sharing kuenya.

Setahun selepas peristiwa Rossa di Pudu Raya, saya mampir ke sebuah toko buku besar di Malaka. Di sana, yang saya temukan adalah novel-novel dengan judul sebangsa Saya Rindukan Awak dan tema-tema senada.

Dua tahun kemudian, saya terlempar ke Johor Bahru. Dan di toko buku terdekat, pemandangan yang saya jumpai belum beda sama sekali dengan dua tahun sebelumnya. Novel-novel Malaysia masiiiih saja dari jenis yang sama.

Saya masih menyimpan foto novel-novel itu di hardisk. Simak judul-judulnya: Dia Cinta yang Kucari (Rehan Makhtar); Dicintai atau Mencintai (Myra Ameer); Saat Hadirnya Cinta Dia (Zura Asyfar); Memilihmu kerana Dia (Myra Ameer); Ombak Duka (Areth Ramlan); Ributnya Cinta (Phidot); Izinkan Kumiliki Hatimu (Myra Ameer); Sebenarnya Saya Isteri Dia! (Zura Asyfar); Menantu daripada Mama (Mya Aryssa); Bukan Menantu Pilihan (Aira Aliff); Biar Mereka Cemburu (A. Darwisy); Hanya Dia di Hatiku (Ain Marissa); Rindu Bertaut Kasih (Azieana), Gila-gila Cinta (Izza Aripin)….

Bahkan ada pula dua novel berjudul ganjil: Oh Mama Tiriku (Herna Diana), dan Istri untuk Disewa (Syamnuriezmil). Judul-judul yang mengingatkan saya akan konten situs-situs nganu.

Mungkin kalian mengira bahwa judul-judul di atas tadi terasa sangat masyaallah semata karena perbedaan diksi antara bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia. O, nggak. Saya toh sempat membaca-baca sinopsis-sinopsisnya di sampul belakang. Dan memang selera mereka adalah kisah cinta menye-menye, topik-topik yang sudah tuntas dijalani dunia sastra kita pada The Era of Mira W.

Bandingkan dengan buku-buku kita di zaman yang sama. Meski sesama kisah cinta, tapi jelas beda jauh kelasnya dengan, misalnya, novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu-nya Puthut EA (Bos, jangan lupa bonusnya Bos). Novel Indonesia di zaman ini yang bisa disamakan dengan novel-novel Malaysia tadi palingan cuma Cinta Tak Terlerai dan Cowok di Seberang Jendela, karya seseorang berkumis tipis nun di sana.

Jadi, meski tadi malam kita menelan ludah yang bercampur air mata, hiburlah hati dengan menyadari bahwa dunia perbukuan dan dunia kreatif kita secara keseluruhan jauh lebih keren dibanding si tetangga.

Dunia kreatif itu sangat terkait dengan iklim politik. Asal tahu, rezim di Malaysia sekarang masih otoriter. Soal kebebasan berekspresi, Indonesia jauh lebih juara. Iya saya paham, kita masih punya PR besar semisal UU IITE yang membuka peluang munculnya aneka pembungkaman suara jelata. Tapi kondisi di Malaysia ratusan kali lipat lebih ngehek kalau cuma dibandingkan dengan UU IITE.

Di Perth sini saya bersahabat dengan Uncle David Ching, orang Tionghoa-Malaysia, rekan saya sesama sopir di gudang. Ia terus mengeluhkan situasi di negaranya. Dia pun mengamati Indonesia, paham dinamika politik Indonesia, namun tetap menyatakan bahwa iklim politik Indonesia jauh lebih baik.

Saya juga kenal dengan Ustadz AK (inisial saja ya, saya nggak enak kalau dikira mengkapitalisasi beliau haha), guru ngaji kami di sini. Cikgu Ustadz berkali-kali bilang bahwa Malaysia semakin parah, dan dari situ beliau memutuskan tak kembali lagi ke negerinya. Lebih wow lagi ketika Cikgu bilang,

“Dulu, pemuda-pemuda Malaysia selalu mengeluh, ‘Kapan kita bisa macam Singapura?’. Tapi kalimat itu sekarang sudah berlalu. Mereka sudah ramai-ramai bertanya, ‘Kapan kita bisa seperti Indonesia?’”

Iya, iya. Kalimat Ustadz AK tadi sudah pernah saya posting di Facebook, juga saya tulis di media tetangga. Tapi mengucapkannya kembali, menuliskannya kembali, mendengarkannya kembali, rasanya selalu nikmat tiada terkira. Hahaha.

Toh misi tulisan ini memang untuk menghibur Bapak-Ibu semua. Dan jika itu semua cukup mengurangi luka di hati Anda, tugas saya sebagai pria penghibur sudah paripurna. Alhamdulillaah.

Terakhir diperbarui pada 27 Agustus 2017 oleh

Tags: Lindswell KwokmalaysiaTsamara Amany
Iqbal Aji Daryono

Iqbal Aji Daryono

Penulis dari Bantul. Lulusan Sastra Jepang, UGM.

Artikel Terkait

Derita guru CLC di Malaysia. MOJOK.CO
Sekolahan

Ironi WNI Jadi Guru di Luar Negeri: Dapat Gaji 2 Digit demi Mengajari Anak PMI, Pulang ke Indonesia Tak Dihargai dan Sulit Sejahtera

23 April 2026
Guru CLC di Malaysia sejahtera daripada guru kontrak. MOJOK.CO
Sekolahan

WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera

21 April 2026
Sejahtera ekonomi di Negeri Jiran ketimbang jadi WNI. Tapi berat terima tawaran lepas paspor Indonesia untuk jadi WN Malaysia MOJOK.CO
Catatan

WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!

21 Februari 2026
Warteg Singapura vs Indonesia: Perbedaan Kualitas Langit-Bumi MOJOK.CO
Esai

Membandingkan Warteg di Singapura, Negara Tersehat di Dunia, dengan Indonesia: Perbedaan Kualitasnya Bagai Langit dan Bumi

22 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Atlet pencak silat Unair, Faryska Ozi Faradika. MOJOK.CO

UKM Pencak Silat Unair Selamatkan Mimpi Atlet PSHT, Gelanggang Pertandingan Lebih “Menyeramkan” daripada Ruang Kelas Kuliah

20 April 2026
iPhone 6 dan 7 lebih diminati gen Z

iPhone Jadul Bangkit Kembali Berkat Gen Z, Kualitas Foto “Tak Sempurna” Malah Dianggap Unggul daripada Keluaran Terbaru

20 April 2026
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami

22 April 2026
Ezra, alumnus UGM umur 25 tahun, yang lanjut kuliah S2 dan ikut ekspedisi ke Antartika, nggak peduli quarter-life crisis

Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika

17 April 2026
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.