obrolan-mojok
obrolan-mojok

Pengalaman Bertemu dengan Pejuang Khilafah

MOJOK.COSaya tidak pro-khilafah. Tapi, entah mengapa, dalam pertemuan itu saya mendadak jadi pembela para pejuang khilafah.

Saya sempat ketar-ketir ketika kawan saya, dosen salah satu kampus di Solo, menjebak saya untuk bertemu rombongan afiliasinya Ustaz Felix. Yak betul, pejuang-pejuang khilafah yang hqq.

Anda pasti tahu, kalau hendak bertemu dengan orang yang berbeda pandangan macam di situasi begitu, paling tidak kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Jangankan berbeda, yang sama pandangan saja kalau ada potensi akan “dikeroyok”, paling tidak seharusnya punya bekal-bekal sedikit. Baca-baca dulu. Dan sial, hari itu saya nggak mempersiapkan diri.

Muka masih kucel karena habis ada acara sebelumnya, rencana ke kafe juga cuma mau numpang Wi-Fi, malah dipertemukan dengan pasukan pejuang khilafah yang jauh lebih semangat membara karena masih muda, belum nikah, dan punya anak. Ibarat kalau obrolannya mengarah ke nekat-nekatan, saya jelas kalah telak. Cicilan saya masih banyak.


Itu yang membuat saya ketar-ketir. Bagaimana kalau saya dihujat karena sebagai bukan bagian dari Islam yang kafah karena nggak punya pandangan yang sejalan? Lebih seram lagi kalau ternyata saya malah sepakat dengan mereka dan malam itu juga daftar jadi anggota baru. Bisa dicoret dari Kartu Keluarga NU ini kalau begini ceritanya.

Kawan saya kemudian memperkenalkan saya ke para “pejuang” itu sebagai mahasiswa di salah satu kampus di Jogja yang sedang main ke Solo. Tentu dengan embel-embel bahwa saya orang awam dan sebagainya. Entah kenapa, dibilangin seperti itu, salah seorang anggota rombongan tersebut jadi terlihat percaya diri. Ia memperkenalkan diri dan mulai bercerita tentang sejarah khilafah.

Selain rombongan pejuang, kawan saya yang dosen ini mengajak satu lagi mahasiswanya yang saya perhatikan sudah sangat anti dengan khilafah dari sononya. Pokoknya fix anti-khilafah totok.

“Nggak relevan lagi, Pak (dia nyebut saya ‘Pak’, kurang ajar sekali). Khilafah yang dirujuk itu masak yang Utsmani yang bentuknya monarki macam gitu. Apaan itu, kekuasaan absolut macam gitu kan cenderung korup, iya kan?” begitu katanya kepada saya, sebelum rombongan khilafah datang tentu saja.

Baca juga:  Ingatan Soal Hagia Sophia dan Si ‘Poker Face’ Sultan Erdogan

Poinnya, ini anak tidak suka dengan ide-ide khilafah dan sebagainya. Saya cuma mendengarkan, pura-pura paham apa yang dikatakannya. Sekali lagi, itu terjadi sebelum rombongan lawan diskusinya datang.

Nah, ketika rombongan lawannya datang, tentu saja obrolan pertama langsung mengarah ke sejarah kekhalifahan Turki Utsmani ke belakang. Sampai ke era Bani Abbasiyah, Umayah, sampai Khulafaurrasyidin. Saya malas sekali sekali mendengarnya. Bukan apa-apa, dulu sewaktu masih sekolah, ketika mendengar sejarah peradaban Islam untuk kali pertama saja saya sudah bosan. Apalagi mendengar untuk yang kesekian puluh kali. Mau pingsan rasanya.

“Ibaratnya kita ingin bangun rumah, Mas,” kata mas-mas ganteng pejuang khilafah, “Nah, rumah kita itu ingin kita bangun dengan apa yang sesuai dengan kita.” Begitu kira-kira yang ia katakan.

Tentu saja “kita” yang dimaksud adalah agama, yang mengerucut ke Islam.

“Kan seperti yang dibilang sama Ben Anderson, konsep negara ini bla-bla-bla,” jelasnya menguliahi kami semua. Poin yang ia katakan dengan mengutip Ben Anderson itu bahwa negara adalah konsep imajiner yang dibentuk oleh kesamaan suku, etnis, dan lain-lain.

“Sama seperti Indonesia ini dong. Bisa ada karena kesamaan dijajah Belanda,” celetuk saya.

Mas-mas ganteng tersenyum garing.

“Nah, konsep itu kan mencerai-beraikan umat muslim seluruh dunia. Kita nggak bisa bersatu dengan saudara-saudara seiman di Malaysia, di India, di Palestina karena menerima begitu saja konsep nation-state dari Barat. Bukankah seharusnya kita bisa bikin konsep sendiri untuk umat muslim?” lanjutnya.

“Lha ya kesamaan agama itu juga masih logika nation-state dong,” saya ingin menimpali begitu tapi tidak jadi. Takut kedok mahasiswa semester awal saya terbongkar.

Baca juga:  Kami Menemui Para Demit Terdampak Pandemi Korona

Tentu saja mahasiswa kawan saya yang anti-khilafah tadi langsung mencecar. Pertanyaan-pertanyaannya menusuk. Langsung ke mulut gawang tanpa tedeng aling-aling.

“Lha terus pemilihan pemimpinnya gimana? Apa bisa menjamin kalau khilafah yang terpimpin benar-benar amanah? Kan belum tentu? Bagaimana mungkin mengharapkan ada orang seperti Umar bin Abdul Aziz di era sekarang? Atau orang sekaliber Nabi Muhammad? Itu kan mustahil sekali,” serangnya.

Saya yang sedari tadi tidak begitu sreg dengan para pejuang khilafah tahu-tahu malah ada perasaan ingin membela.


“Lho demokrasi pun nggak menjamin lho. Iya nggak, Mas?” tanya saya ke mas-mas ganteng pejuang. Mendadak berlagak jadi pengacara.

“Tapi, kan, dipilih mayoritas,” kata teman yang anti-khilafah.

“Yang mayoritas pun belum tentu menjamin lebih benar.” Saya mulai lepas kendali.

Saya tidak tahu, kok tiba-tiba saya jadi membela para pejuang khilafah di hadapan orang yang punya blocking mind seperti itu? Menganggap bahwa para pejuang khilafah pasti salah sejak awal. Dari pertama kali dialog ini dimulai, kelihatan betul yang dicari adalah kesalahan-kesalahan persepsi. Tidak ada dialog. Masing-masing monolog.

Pemikiran “pasti kamu salah” itu saya perhatikan sudah terlihat karena sejak awal, banyak sekali kalimat-kalimat dari para pejuang khilafah yang dipotong di tengah jalan. Padahal saya ingin mendengar banyak sekali soal mereka. Mendengar apa yang mereka pikirkan tentang konsep “trans-nasional” yang mereka dambakan.

Yah, Anda juga tahu, ketika satu pihak sudah berisi gelas yang terlalu penuh—atau sama-sama penuh—Anda tidak akan mendapatkan apa pun. Yang Anda dengar hanyalah hujatan-hujatan yang menyerang pemikiran masing-masing alih-alih berusaha saling konfirmasi untuk sama-sama cari tahu. Persis seperti yang diajarkan oleh talkshow ILC.

Ketar-ketir saya di awal bahwa para pejuang khilafah ini adalah orang yang keras kepala dan bebal ternyata luntur pada malam itu. Saya perhatikan, mereka ini orang-orang dengan pandangan alternatif yang kurang begitu mau didengar oleh orang-orang seperti saya. Ketika mereka disuruh diam, mereka terpaksa mengenalkan pemikiran mereka dengan lebih gigih dan militan ke orang-orang yang kita cap “awam agama”.

Baca juga:  Bukan Narsis, Jurnal Megawati yang Teliti Diri Sendiri Adalah Oase bagi Mahasiswa Tingkat Akhir

Padahal yang paling penting adalah mendengarkan mereka dulu, iya nggak sih? Toh, memahami cara berpikir orang yang berseberangan justru hal yang menarik untuk mendapatkan cara pikir baru melihat dunia. Anak-anak ini memang tidak seperti saya yang punya keluarga dengan tradisi pesantren dan khazanah Islam yang kental. Coba kalau saya lahir dari keluarga atau lingkungan yang sama dengan mereka, bisa jadi saya adalah salah satu dari rombongan itu.

Mereka ini mencari-cari pintu agama sendiri. Melihat mana yang cocok dengan background kehidupan mereka. Jika pilihan mereka jatuh pada Ustaz Felix dan Gus Mus misalnya, saya pikir ini bukan soal siapa lebih pandai dari siapa. Bukan berarti mereka cetek atau lebih awam karena percaya soal dongeng khilafah. Tapi, ya, karena kesalahan orang-orang yang tidak pernah memperhatikan orang-orang seperti mereka. Kita terlalu sibuk membanggakan apa yang kita punya.

Setelah perdebatan itu, saya ingin mendengar lebih banyak lagi dari mereka. Sebab, saya percaya sabda filsuf digital Iqbal Aji Daryono mengenai “relativitas kebenaran”, jadi tidak ada salahnya untuk tahu mengapa mereka percaya bahwa khilafah adalah satu-satunya solusi untuk dunia ini. Selama ini saya mendengarnya dengan prasangka-prasangka yang membuatnya tidak jernih. Membuat saya tidak beranjak untuk jadi semakin tahu, sebenarnya apa sih yang betul-betul mereka perjuangkan? Penasaran saja rasanya.

Selesai perdebatan, tiba-tiba salah satu dari rombongan mendekati saya.

“Mas, Masnya dulu mondok?”

“Hehehe, Iya,” kata saya nggak bisa berbohong. Yang bertanya langsung bungah.

“Di mana. Mas?”

“Di Solo juga kok,” jawab saya.

“Ngruki, ya?”

Modyar.