MOJOK.COPenulis skenario satu ini berbagi rahasia dapur bagaimana sebuah naskah sinetron stripping dikerjakan di balik layar.

Model profesi seperti penulis skenario drama, skenario FTV, atau sinetron stripping bisa diibaratkan layaknya musisi untuk pengelompokannya.

Ada penulis solo, yang menulis sendiri semuanya. Mulai dari sinopsis, sceneplot, sampai skenario.

Ada penulis duet; yang satu membuat sceneplot, yang satu menulis skenario.

Ada yang trio: satu nge-plot, dua nge-draft (istilah untuk menulis skenario dari sceneplot yang sudah dibuat. Penulisnya juga bisa disebut “drafter”).

Terakhir, ada juga yang memiliki tim. Kadang sampai lebih dari empat orang untuk satu program. Hanya saja konsekuensinya, honor yang nanti diterima cenderung lebih kecil karena harus dibagi-bagi ke banyak orang di dalam tim tersebut.

FYI, sceneplot adalah alur cerita dan garis besar tiap scene yang sudah berisi nomor scene, para karakter, dan keterangan waktu-tempat. Hanya saja bentuk template-nya masih belum seperti skenario.

Sceneplot biasanya lebih ringkas dengan satu hingga tiga kalimat pendek setiap scene-nya. Ini yang akan dijadikan pedoman para drafter untuk dikembangkan menjadi skenario. Sceneplot adalah pondasi cerita keseluruhan dari seorang plotter.

Sceneplot lah yang mengatur perpindahan adegan dari satu scene ke scene lain, membangun mood para karakter, memainkan konflik, mengatur naik-turunnya tensi drama, namun ia tak boleh keluar dari sinopsis yang sudah ditentukan oleh supervisor atau headwriter.

Ketika melihat sebuah sinetron dan melihat nama penulisnya, sebut saja misalnya penulisnya adalah Hilman Hariwijaya, itu bisa berarti bahwa penulis skenario sebenarnya adalah Hilman dan timnya.

Posisi Hilman di sini merupakan headwriter yang membawahi co-writer dan timnya tadi: plotter, drafter, maupun supervisor.

Itulah mengapa satu episode skenario yang berisi sekitar 60-70 halaman (tergantung untuk durasi berapa. Anggap saja 1 scene = 1 halaman) bisa ditulis hanya dalam waktu kurang dari 24 jam.

Baca juga:  Membayangkan Sekolah Sihir Harry Potter Buka Cabang di Indonesia

Jadi gini.

Katakanlah sceneplot dibuat 3 sampai 6 jam dan full skenario dibuat 6 sampai 12 jam. Artinya masih ada sisa waktu 12 jam sebelum deadline. Waktu itu digunakan untuk pengecekan skenario oleh headwriter dan final touch up. Lantas hasilnya dikirim ke “lapangan” untuk dieksekusi, alias syuting.

Ketika sinopsis di-approve untuk beberapa episode, plotter mengerjakan satu episode, kemudian setelah sceneplot diapprove, maka para drafter pun menulis skenarionya dengan cara keroyokan.

Misalnya ada 60 scene dalam satu skenario. Jika ada dua drafter, maka scene 1 sampai scene 30 dikerjakan drafter pertama dan scene 31 hingga 60 dikerjakan drafter kedua. Logikanya, semakin banyak drafternya, semakin cepat pula skenario (untuk satu episode sinetron stripping) selesai.

Saat skenario sinetron stripping dikerjakan drafter, pada saat yang bersamaan plotter akan langsung bekerja menulis episode sinetron stripping berikutnya. Begitu seterusnya. Setiap hari.

Sistem di sinetron stripping ini beda dengan sinetron yang tak bersambung alias one off. Kayak model skenario FTV yang bakal dikeroyok oleh beberapa penulis solo. Ini sistem kerjanya tak sama dengan Production House (PH) yang menunjuk Tim Hilman Hariwijaya sebagai contoh tadi.

Dalam sinetron Kun Anta MNCTV, misalnya, skenario ditulis oleh Abhirama Hermansyah dan Sad Purnadi. Mereka bukan Tim Penulis, melainkan dua penulis solo yang berkolaborasi. Mereka duet dengan sistem seperti aturan lalu lintas di Jakarta, yakni ganjil-genap.

Abhirama menulis episode-episode genap. Misal Abhirama mengerjakan episode 2, 4, 6, 8, dan seterusnya. Sedangkan Sad Purnadi menulis episode ganjil 1, 3, 5, 7, dan seterusnya.

Nah, Abhirama dan Sad Purnadi itu punya kebebasan untuk menggunakan caranya masing-masing. Si penulis solo boleh saja memakai co-writer atau membentuk timnya sendiri.

Baca juga:  Manfaat Banyuwangi sebagai Kota Dukun Santet

Sekilas memang hampir mirip dengan Tim Penulis, tapi ingat, di sini tanggung jawab Abhirama dan Sad Purnadi hanya pada jatah episode genapnya saja, atau jatah episode ganjilnya saja.

Cerita rahasia umum yang saya sebutkan itu tadi sebenarnya juga menunjukkan bahwa semua penulis skenario (mau itu FTV maupun sinetron stripping) merupakan outsource. Artinya kami ini bukan karyawan stasiun televisi atau pegawai PH tertentu.

Kami bertanggung jawab penuh pada supervisi naskah inhouse di dalam PH atau Stasiun TV. Bisa produsernya langsung, bisa sutradaranya, bisa hanya tim kreatif inhouse-nya, atau bisa juga script editor (SE)-nya.

Tugas SE, selain mengecek ejaan, tanda baca dll, juga mengecek flow cerita. Plus menjaga batasan-batasan yang boleh atau tidak di dalam skenario. Mereka ini yang berpedoman pada aturan-aturan KPI, termasuk pakem-pakem program yang ditentukan produser atau programing TV-nya.

SE juga biasanya menjadi penyambung lidah antara kami dengan produser dan sutradara.

Misalnya, di skenario tak boleh ada ucapan kasar, tak boleh ada adegan pemerkosaan, tak boleh ada adegan memakai narkoba, adegan minuman keras, dan lain-lain.

Nah, SE inilah yang mengedit dan mengingatkan kami akan batasan-batasan tersebut. SE juga yang finaling skenario hingga skenario diapprove produser.

Oleh sebab itu, penulis skenario—terutama yang sudah lama di-hire PH atau TV—biasanya sudah cepat paham apa yang dimau klien. Orang-orang seperti ini akan paham ketika menulis untuk TV B gimana, TV A seleranya gimana.

Karena penulis skenario sinetron (terutama yang stripping) merupakan salah satu elemen paling vital dalam tayangan program televisi, maka wajar jika honornya dihargai cukup tinggi oleh PH dan TV. Maklum, nyawa program ada di tangan mereka.

Rating naik atau turun, tanggung jawab paling besarnya ada di Tim Penulis Skenario. Sebab, dari sana skenario sebuah program ditulis. Tentu tanpa bermaksud mengecilkan peran dari Tim Produksi Inhouse seperti sutradara, kru, talent, sampai Tim Pasca-Produksi. Sebab, semuanya harus bekerja harmonis layaknya orchestra.

Baca juga:  Moral Bangsa Kita Memang Sangat Kacau dan RCTI Sedang Berusaha untuk Memperbaikinya

Pertanyaanya kemudian, memang penulis skenario sinetron stripping dibayar berapa?

Yuk, mari coba berhitung. Bila range harga penulis skenario antara 3 sampai 10 juta untuk durasi 1 jam per episode sinetron, lalu ia masih harus stripping alias kejar tayang setiap hari, berapa kira-kira pendapatannya per bulan? Kalikan saja harganya dengan jumlah episode yang masih tayang.

Sebut saja sebuah judul, lalu lihat. Sudah sampai di episode berapa sinetron stripping itu? Kalikan harga skenario per episode.

Dalam 100 episode saja penulis skenario bersama timnya bisa mendapat honor sekitar 300 juta (paling sedikit) sampai 1 miliar (paling banyak).

Ini belum dengan jumlah episode sebuah sinetron stripping yang kadang bisa mencapai ribuan episode. Seperti Cinta Fitri (1.006 episode), Bajaj Bajuri (1.291 episode), atau Tukang Bubur Naik Haji (2.185 episode).

Meski begitu, untuk mencapai ratusan atau bahkan ribuan episode dan sampai bisa terus dipercaya oleh produser PH atau TV bersangkutan ada pengorbanan yang harus dilakukan.

Salah satunya, berkorban banyak waktu, energi, pikiran, bahkan kehidupan pribadi dan sosial yang tak bisa sewajarnya kebanyakan orang. Apalagi kalau orang itu bermental lemah, gampang tersinggung di media sosial, pemalas, atau kelewat idealis.

Itu mungkin alasannya, ada banyak penulis skenario film layar lebar jarang mau menjadi penulis skenario sinetron stripping di layar kaca, atau sebaliknya. Sebab, prinsip kerja berikut risikonya memang sudah jauh berbeda meski bekerja pada bidang yang sama.

BACA JUGA Bagaimana Melihat Rating Share TV Bekerja? dan tulisan Cepi Komara lainnya.