Berkat Jokowi, Penghuni Kompleks Kopassus Tak Buang Sampah Sembarangan

jokowi dan kopassus mojok.co

MOJOK.COPaman Le Ege seorang pensiunan Kopassus. Kompleks tempatnya tinggal penuh dengan sampah. Dan berkat Jokowi, warga tak lagi membuang sampah sembarangan.

Berkat Jokowi, Kopassus patuh

La Ege punya paman seorang pensiunan Kopassus. Ia tinggal di sebuah kompleks pensiunan Kopassus yang letaknya di pusat kota. Lorong tempat paman La Ege ini tinggal, orang umum biasa sebut Kompleks Kopassus. Ada puluhan pensiunan keluarga Kopassus yang dahulu bertugas di Aceh dan Timor-Timur, yang tinggal di Kompleks Kopassus ini.

Namun, ada satu masalah besar yang muncul di Kompleks Kopassus ini. Masalah yang sangat bikin pusing tujuh keliling Bapak RT.

Masalahnya adalah: warga dalam Kompleks Kopassus selalu buang sampah sembarang di depan taman. Padahal, papan pengumuman larangan membuang sampah terpajang jelas di depan taman itu. Setiap pagi, ada terus sampah baru yang berserakan. Pokoknya, warga Kompleks Kopassus itu sangat kepala batu. Tida ada satu pun yang hiraukan larangan buang sampah.

Dari larangan lisan hingga tertulis, sudah berulang kali Bapak RT da gonta-ganti coba upayakan. Tapi tida pernah berhasil menasihati warga Kompleks Kopassus. Sampe-sampe Bapak RT sudah putus asa. Da punya ide terakhir, yang sebetulnya dia juga agak pesimis dengan ide yang da punya. Bapak RT membuat tulisan larangan baru di depan taman.

Sungguh tida disangka-sangka, tulisan larangan baru itu manjur. Warga Kompleks Kopassus seketika berhenti total membuang sampah di depan taman.

“Kalo tau dari dulu, cara ini ampuh, sa tida perlu pusing tujuh keliling,” ucap Bapak RT sembari memegang tulisan larangan “Kalo ko setuju Jokowi 2 periode, silahkan ko buang sampah di sini!”

Warga Kompleks Kopassus langsung menurut. Terima kasih, Jokowi.

Pemilihan duta seni

Suatu waktu di kampus tempat kuliah La Bula, sepupu La Ege, ada pengumuman akan diadakan pemilihan duta seni kampus. Mendengar pengumuman itu, La Bula antusias mo ikut.

Karna berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, setiap yang ikut duta seni pasti jadi lirikan cewe-cewe satu kampus. Makanya La Bula Paksa diri pokoknya da harus ikut.

La Bula pun lekas da ambil formulir pendaftaran di panitia seleksi. Tidak menunggu waktu lama, formulir langsung da isi kemudian dikumpul oleh La Bula. Entah da masuk kriteria ato tidak, dalam hati La Bula, tida urus, yang penting da sudah mendaftar menurutnya. Beruntung, esok hari La Bula dapat panggilan wawancara sebagai tahap seleksi sesudah mengumpul formulir.

Baru sampe di ruang wawancara, La Bula langsung kena usir. Tidak terima La Bula, akhirnya mengamuk.

“Apa maksud kamorang (panitia wawancara), sa baru maso sa langsung kena usir. Kamorang tida hargai saya di!” Ucap La Bula dalam amukannya.

Kehebohan dalam ruangan wawancara mengundang pihak keamanan kampus untuk mengamankan La Bula. La Bula akhirnya berhasil ditenangkan oleh Bapak Keamanan.

“Ko kenapa mengamuk tadi, Bula?” Tanya Bapak Keamanan yang kebetulan kenal sama La Bula.

“Sa jengkel sama panitia, sa belum dapa wawancara sa suda kena usir.“ Ucap La Bula

“Panitia tadi suda bisik saya, ko diusir karna ko itu ada di luar kriteria. Yang diorang cari itu, laki-laki yang punya rambut jatuh (lurus). Makanya ko tadi kena usir. Ko ini suda tau, ko punya rambut keriting kopaksa ikut juga. Ko tida baca kah persaratan daftar?”

“Sa baca. Sa punya rambut, rambut jatuh juga. Panitia tidak punya mata, kah? Bilangkan sa punya rambut bukan rambut jatuh.”

Bapak keamanan jadi bingung, da merasa La Bula sudah mulai mengada-ada, “Bisa-bisanya rambut keriting yang da punya, da bilangkan juga sebagai rambut jatuh.” Kata Bapak keamanan dalam hati.

La Bula tetap bersikukuh, tidak sepakat kalo da punya rambut dikira bukan rambut jatuh. Sampe-sampe Bapak Keamanan mulai emosi karna merasa dipermainkan. Tapi Bapak Keamanan da masih penasaran dengan alasan apa yang bikin La Bula tetap ngotot.

“Ko ini Bula, kenapa ko bakeras begitu kah? Ko punya rambut jelas-jelas keriting. Ko sadar diri dan, Bula. Kalo ko masih bakeras bilangkan ko punya rambut, rambut jatuh. Sa pukul ko itu.” Ancam Bapak Keamanan.

“Sa sangat sadar diri dan Bapak, tapi sa punya rambut memang rambut jatuh kasian, tapi da jatuh tagulung-gulung Bapak,” jawab La Bula yang sudah dapa ancaman pukul.

Bapak keamanan geleng-geleng kepala, tapi sudah paham dengan keanehan La Bula.

 

Exit mobile version