Pro Evolution Soccer

Baca cerita sebelumnya di sini.

“Ya ampun, ini terlalu sureal. Otak saya tak sanggup mencernanya,” tulis seseorang bernama Anas Imron di kolom komentar cerita Sabda Armandio pekan lalu. Saya menunjukkan komentar itu kepada Dio dan ia merebut ponsel saya. “Ge-ne-ra-si Op-ti-mis,” katanya, mengeja tulisan yang tertera di foto profil Anas. Akun bot. Dio cengengesan. “Dahsyat,” katanya lagi.

Sekitar sejam kemudian, saat kami memainkan Pro Evolution Soccer 2018 di Playstation kantor, Dio tiba-tiba bertanya: “Kalau kita tak bisa jadi optimis, kita ikut generasi mana?”

Tanggapan saya ialah L1 + kotak dan Jamie Vardy mencetak gol keempatnya ke gawang De Gea. Dio menjerit. Penyair Beni Satryo, yang menunggu giliran bertanding, mengelus dengkul Dio sambil menirukan omongan komentator game: “More and more and more!”

Waktu itu maupun sekarang, saya tak punya jawaban yang diinginkan Dio. Namun, sekarang, setelah Jamie Vardy menggenapi target “satu kodi gol sehari” ke gawang Kepa yang dimainkan Beni, saya bisa membantu Anas Imron memahami cerita yang membuat otaknya memar. Kisah penuh cabang dan ranting itu sebenarnya punya pokok yang jelas, yaitu persilangan nasib kami dengan seseorang yang digambarkan Dio sebagai:

1. Pria lima puluh tahunan dengan gaya berpakaian dua puluh tahun lebih muda dari usianya (tepatnya: kaus v-neck bergambar sketsa wajahnya sendiri ditambah kutipan dalam font Monotype Corsiva),

2. yang mengagumi Elon Musk dan menyebutnya “real-life Tony Stark”,

3. yang pernah ke Kutub Utara untuk merasakan suhunya, ke Barcelona untuk meresapi lagu berjudul sama oleh Fariz RM, dan menziarahi makam Steve Jobs di Palo Alto, California,

4. yang senang berpetuah, “Kuncinya cuma satu: bekerja lebih keras ketimbang orang lain”,

5. dan yang, pada pertemuan kedua (orang yang sama, bukan orang lain dengan perawakan mirip, tapi sepertinya Dio lupa), menangguk kami dari kolam kemiskinan dengan kisah-kisah suksesnya, lalu mencemplungkan kami ke kolam pekerja.

Orang itu bos kami, pengusaha sukses Antonius Sapto Anggoro, yang lebih dikenal dengan alias ABR, singkatan dari “Antonius Boy Rangga”.

Lulus dari Seminari Mertoyudan, Magelang, pada 1981, ABR menjadi kontributor olahraga untuk sejumlah surat kabar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pekerjaan itu membuatnya berkawan dekat dengan seorang pria tua pemilik klub sepakbola termahsyur di Kudus. Ia saudagar kaya pengikut Opus Dei, dan berkat jejaring organisasinya, ABR mengenal “orang-orang penting.” Itu istilah yang digunakan ABR sendiri dalam cerita-ceritanya, tanpa pernah merinci siapa mereka.

ABR tahu ia terlampau besar untuk sekadar jadi wartawan, maka ia berhenti dan membangun bisnis pertamanya: importir tali sepatu. Meski tak terdengar mengesankan, keuntungan perusahaan itu lekas berlipat ganda dan ABR menggunakannya untuk membangun perusahaan-perusahaan lain. Dalam belasan tahun, kerajaan bisnisnya terentang luas, mulai dari grup media hingga pabrik perakitan mobil, mulai dari peternakan ayam petelur hingga konsultan pemasaran.

Julukan ABR atau “Antonius Boy Rangga” itu sebetulnya sandi yang digunakan polisi ketika menyelidiki dugaan bisnis-bisnis ilegal dalam kendalinya. “Antonius” dari namanya, “Boy” dari judul sebuah artikel tentangnya (“Golden Boy Bisnis Hari Ini”) di harian Kompas pada pertengahan 1995, dan “Rangga” adalah sandi umum kepolisian untuk umat Katolik.

Penyelidikan itu tak membuahkan hasil dan malah berakhir sebagai skandal karena catatan-catatan awalnya bocor dan diberitakan habis-habisan. Itu kemenangan telak untuk ABR. Untuk memastikan peristiwa itu punya gaung yang awet, ia mengenakan sandi itu sebagai namanya.

Bahwa ABR eksentrik, bukan informasi baru. Gagasan-gagasannya, juga cara-cara yang ia pilih untuk mewujudkan mereka, cenderung ganjil jika dipandang dari perspektif bisnis konvensional. Namun, tak ada yang sanggup membantah kenyataan bahwa ia seorang pengusaha yang rasional dan efisien. Ia sanggup mengerahkan setiap sumber daya miliknya, seremeh apa pun, buat memperoleh keuntungan, dan tak melanggar apa pun selain aturan-aturan ketenagakerjaan.

Tetapi kemudian semuanya berubah. Sejak enam bulan lalu ABR membaca karya-karya AH yang secara tak sengaja ditemukannya di meja Dio, dan semuanya berubah. Semuanya berubah, tetapi kenyataan membuat kami tak punya pilihan selain berjalan terus.

ABR bilang, cerpen “Orang Durti” menginspirasinya buat mempercanggih penggunaan media sosial untuk kepentingan bisnis dan politik hingga titik paling ekstrem (syukurlah “Kopi Kepik” jauh lebih sulit diakses).

Jika orang-orang Durti menculik manusia buat dijadikan tumbal, saya dan Dio—atas perintah langsung ABR—secara berkala menculik identitas dan kepribadian manusia-manusia lain, menuliskan kisah-kisah mereka dan mengumpulkannya dalam sebuah database. Sistem akan mengolah semua data menjadi manusia-manusia baru yang hanya ada di internet. Dari hasil kerja saya saja, telah lahir 500 unit bot orisinal (masing-masing mempunyai bahasa ibu, riwayat hidup, preferensi, dan lain-lain) serta ribuan bot turunannya.

Dalam dunia sepalsu ini, hal paling dekat dengan kenyataan yang bisa kami dapatkan adalah Pro Evolution Soccer. Dan mulai besok, Jamie Vardy akan mengejar target “satu rim gol semusim”.

Exit mobile version