Aku Kelaparan dan Seorang Laki-Laki Membawakanku Mi Ayam Paling Enak di Dunia

Baca cerita sebelumnya di sini.

Suara yang sangat keras membangunkanku. Tetapi, begitu tersadar, yang aku lihat cuma seekor kucing gemuk berwarna cokelat sedang mendengkur di antara tumpukan kardus. Kucing itu tidur dalam posisi terjaga: kakinya terlipat ke dalam, sementara kepalanya masih tegak. Hanya matanya yang telah terpejam.

Butuh waktu agak lama sampai aku bisa memastikan bahwa aku sedang tidak berada di dalam sel penjara atau di pinggir jalan raya atau di parkiran sebuah bar. Di sekelilingku ada banyak kardus sepatu yang ditumpuk sampai tinggi sekali dan kurasa semuanya sama: semua kardus itu berwarna merah dengan tulisan Kodachi.

Bau karet tak tertahankan. Tetapi lebih tak tertahankan lagi, suara gaduh tadi yang—demi Tuhan aku tak tahu dari mana—mungkin berasal dari dalam neraka.

Aku sama sekali tak tahu pukul berapa sekarang atau malah jangankan hal itu: di mana persisnya aku sekarang juga aku tak ada ide. Kurasa aku berada di dalam gudang sepatu. Tapi, bagaimana bisa?

Kucing cokelat gembrot yang tidur dengan posisi terjaga tiba-tiba terbangun dan naik ke atas kasur hanya untuk mendengkur lagi. Sekarang kami bersebelahan dan ini pertanda buruk. Aku akan mulai bersin-bersin sampai kiamat.

Hacih. Yang pertama.

Hacih. Yang kedua.

Hacih. Yang ketiga.

Yang keempat dan seterusnya sudah tak bisa aku hitung. Kucing memang lucu, tetapi coba saja kau punya polip—kau bakal berpikir seratus kali lagi! Lebih baik memelihara ular derik sekalian daripada satu rumah dengan hewan berbulu.

“Hoi, Kalis! Ternyata sudah bangun. Apa kau lapar? Tunggu sebentar ya. Kuselesaikan pekerjaan sebentar.”

Tiba-tiba saja, pintu terbuka dan pria dengan kepala plontos itu berbicara tanpa titik koma dan lantas menghilang lagi. Sejujurnya aku memang lapar dan haus, tapi aku selalu ingat apa kata kepala Puskesmas, “Manusia bisa bertahan tanpa makan berhari-hari, tapi tidak dengan minum. Hampir 80% tubuh manusia berisi cairan, jadi, Saudara-saudara, jangan sampai tubuh kehilangan cairan. Selalu minum paling tidak satu galon setiap hari.”

Setelah itu biasanya orang-orang bakal tertawa. Satu galon setiap hari? Dia kira kami sapi glonggongan?

Aku lebih butuh air minum sekarang. Tenggorokanku rasanya kering kerontang. Untungnya, di samping tumpukan kardus sepatu, ada sebotol air mineral. Tinggal separuh, tapi lumayan. Aku minum seperti seorang musafir yang sudah lama tersesat di padang pasir.

Di balik tumpukan kardus sepatu itu rupanya ada rak yang cukup besar yang berisi… piringan hitam! Ada setumpuk koleksi piringan hitam, kaset, dan majalah Rolling Stone di dalam rak, juga sebuah turn table yang tergeletak begitu saja di atas lantai. Karena tak ada hal lain yang kulakukan, jadi kuaduk-aduk saja tumpukan koleksi itu.

Kau tahu, kurasa aku bisa mengawali hari ini dengan sangat gembira: aku berhasil menemukan piringan hitam dari Norah Jones!

Side A:

1. Don’t Know Why

2. Seven Years

3. Cold Cold Heart

4. Feelin’ The Same Way

5. Come Away With Me

6. Shoot The Moon

7. Turn Me on

Kutaruh benda bulat yang ringkih itu di atas turn table, tapi ternyata tak ada suara. Ingin rasanya kutendang pantatku sendiri karena pemutar itu rupanya masih mati. Baru setelah kunyalakan, suara Norah Jones menggema di antara tumpukan kardus.

I waited ’til I saw the sun
I don’t know why I didn’t come
I left you by the house of fun
I don’t know why I didn’t come
I don’t know why I didn’t come 

Kau tahu, orang-orang seperti Norah Jones hanya lahir satu di antara sepuluh ribu kelahiran. Sementara itu, sisanya diisi orang-orang seperti aku yang tak punya bakat apa pun dan hanya bisa menangisi nasib buruk dengan mabuk dan menyusahkan orang lain.

“Norah Jones lumayan, tapi tetap tak ada yang lebih baik dari Nick Cave.”

Pria itu sudah berdiri lagi di balik pintu, tapi kali ini ia membawa nampan berisi dua mangkok mi ayam dengan pangsit dan sebotol saus sambal. “Masih tertarik, kan?”

Aku cuma bisa geleng-geleng kepala—bukannya menolak, tapi aku cuma heran. Memangnya apa yang aku katakan semalam?  Sesuatu yang berhubungan dengan mi ayam? Tapi kurasa itu sudah tidak penting lagi sekarang. Aku kelaparan.

“Jadi, kau tinggal di sini?” tanyaku dengan mulut penuh mi.

“Ya, bisa dikatakan seperti itu,” jawabnya. Bulir-bulir keringat berselancar di atas kepalanya yang plontos.

“Kau tinggal di gudang? Bagaimana bisa?”

“Kalau boleh jujur, sebetulnya ini bukan gudang. Ini loteng kamar. Di bawah kios sepatu. Aku berjualan sepatu. Kau tahu, kan, manusia harus bertahan hidup?”

“Hmmmm. Jadi pekerjaanmu menjual sepatu. Tetapi kenapa sepatumu buluk?”

“Kau ingat?”

“Tentu saja. Memangnya alkohol bisa membuat orang pikun?”

“Siapa namaku?”

“Eh?”

“Namaku Anton.”

“Anton?”

Dan dia malah terkikik. Aku benar-benar tidak bisa mengingat namanya. Sialan.

“Kau tinggal sendiri?”

“Untuk sekarang, iya. Tapi setahun yang lalu, aku masih bersama istriku. Yah, saat itu dia masih menjadi istriku. Sekarang mungkin dia sudah menjadi istri orang lain dan tinggal di rumah orang lain. Aku tidak tahu.”

“Eh?”

“Kami dulu tinggal mengontrak tidak jauh dari sini. Tiga tahun menikah dan berpisah. Sejak saat itu, aku pindah dari rumah kontrakan dan tinggal di loteng kios ini supaya lebih fokus bekerja. Ternyata tidak buruk juga.”

Mendengar hal itu aku tidak berniat menimpali. Waktu manusia memang habis hanya untuk bekerja. Semua orang tahu itu. Kalau hidup lebih beruntung, sisa waktu tinggal dibagi: separuh lagi habis untuk hidup bersama seseorang yang kita cintai. Tapi—kau tahu, kan—tidak semua orang diberkati keberuntungan.

“Enak ya mie ayamnya? Mau nambah?”

Aku cuma bisa menggeleng, meski sejujurnya ini mi ayam paling enak yang pernah aku makan seumur hidup.

“Jadi, bagaimana? Masih sakit hati?”

Bagaikan tersengat lebah, aku teringat akan suatu hal: telepon genggam! Di mana terakhir kuletakkan benda tolol itu? Ya Tuhan, kadang-kadang orang patah hati memang bisa bersikap sangat bodoh.

“Apa kau lihat telepon genggamku?”

“Mungkin di dalam tas?”

Tetapi benda itu tidak ada di dalam tas. Si kucing gembrot sampai bangun dari atas kasur dan keluar dari dalam kamar. Mungkin dia merasa terganggu dengan kelakuanku yang mengobrak-abrik tempat tidur seperti orang kesetanan. Bulu-bulu hewan yang menempel di kasur itu sampai berterbangan. Hidungku jadi gatal bukan main.

Hacih. Pertama.

Hacih. Kedua.

Hacih. Ketiga.

Dan begitu seterusnya. Pria dengan kepala plontos itu kembali turun setelah seseorang memanggilnya. Suara-suara gaduh kembali menggema. Kau tahu, hal terburuk adalah saat kau mengira segala sesuatunya sedang berjalan membaik tetapi kenyataannya yang terjadi adalah sebaliknya.

Baca cerita berikutnya di sini.

Exit mobile version