Asnawi Bilang Thank You, Timnas Indonesia Melaju

Yang dilakukan Asnawi, sebagai kapten timnas Indonesia, belum melewati batas profesionalitas. Tolong, jangan terlalu munafik.

Asnawi Bilang Thank You, Timnas Indonesia Melaju

Ilustrasi Asnawi dan timnas Indonesia. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.CO – Taunting dan banter yang dilakukan Asnawi adalah penegasan bahwa timnas Indonesia tidak bisa diintimidasi oleh lawan.

Asnawi Mangkualam jongkok di ujung kotak penalti. Fokus matanya mengarah ke Nadeo, kiper timnas Indonesia, yang sedang memainkan “drama main tempo”. Nadeo sibuk berjalan pelan di dalam gawangnya. Dia mau bikin Faris Ramli, eksekutor penalti Singapura jadi kesal.

Menit 90 sudah lewat satu menit ketika Faris Ramli mulai berlari kecil untuk menendang penalti. Nadeo membungkukkan badan, siap melenting ke arah tendangan. Sementara itu, Asnawi masih jongkok di depan kotak penalti. Mungkin dia sedang merapal doa.

Tendangan Faris mengarah ke sisi kiri Nadeo. Tendangannya pelan, akurat pula. Namun, Nadeo mampu membaca arah tendangan dengan baik. Lentingan Nadeo sukses membendung tendangan Faris. Skor masih sama kuat. Timnas Indonesia selamat.

Satu kejadian “lucu” terjadi setelah eksekusi penalti Faris gagal. Asnawi, yang awalnya jongkok dengan tenang, langsung menghambur ke arah Faris. Awalnya saya kira dia akan memberi dukungan moral kepada lawan. Maklum, gagal di pertandingan penting itu bisa bikin karier pemain ambruk.

Namun bukan itu yang terjadi. Asnawi, memegang kedua siku Faris, setengah jongkok, dia bilang, “Thank you!” Saya gagal menangkap berapa kali kapten timnas Indonesia itu bilang makasih buat lawan yang gagal mengeksekusi penalti. Namun, bukan jumlah ucapan yang penting, tapi makna yang terkandung.

Semifinal sebuah kompetisi bukan laga biasa. Apalagi leg kedua, di mana takdir sebuah tim ditentukan. Terkadang, bukan kualitas teknis yang akan menjadi penentu. Adalah kekuatan mental dan respons terhadap tekanan yang akan membebaskan sebuah tim dari lubang jarum.

Saya mencoba maklum dengan pandangan negatif “orang awam” terkait sikap Asnawi. Konon katanya, kata “Thank you!” yang dia ucapkan itu nggak pantas. Katanya nggak profesional.

Katanya lagi, sebagai kapten timnas Indonesia, Asnawi nggak layak melakukannya. Aneh sekali. Kalau memang dianggap nggak profesional, yang sebaiknya jangan dilakukan oleh semua pemain, mau kapten atau bukan. Nggak konsisten sekali dalam pemikiran.

Aspek tidak konsisten dalam pemikiran ini sudah banyak menggambarkan sikap orang itu. Sok bijak, tapi salah kamar.

Yang dilakukan Asnawi adalah sebuah taunting. Kalau di media sosial, kita menyebutnya banter. Saya tidak perlu menjelaskan makna taunting atau banter untuk mereka yang mau sok bijak, kan?

Selama ini, kita, penonton layar kaca, nggak pernah tahu kalimat-kalimat kotor atau makian yang aduhai meluncur dari mulut pemain profesional. Semuanya tertutup rapat oleh suara suporter, baik suporter nyata atau dubbing televisi ketika pandemi terjadi.

Coba para pemain itu dikasih mik. Bisa-bisa, mereka yang sok bijak dan sok kecewa dengan Asnawi bisa kena serangan jantung. Jangan salah, makian para pemain profesional itu frontal banget. Bahkan mereka yang terlihat alim seperti Lionel Messi pun bisa memaki ibumu di dalam lapangan.

Kenapa, sih, pemain pro itu bisa sampai memaki? Kenapa Asnawi, sebagau kapten timnas Indonesia, harus menunjukkan ekspresinya?

Pertama, keberanian untuk membalas perlakukan kasar dengan makian bisa memberi semacam stress release kepada pemain. Terutama mereka yang tengah berada dalam tekanan. Makian juga menunjukkan bahwa “aku” tidak bisa diintimidasi oleh keberadaan pemain lawan dan tekanan sebuah target.

Kedua, taunting dan banter yang dilakukan Asnawi adalah semacam contoh nyata untuk kawan-kawannya. Bahwa timnas Indonesia punya mental untuk melawan tuan rumah. Gairah dan kepercayaan diri yang muncul atau ditularkan kapten ini sangat penting.

Ingat, timnas Indonesia harus bermain di fase perpanjangan waktu. Kalau kaki sudah sangat letih, setidaknya mental tetap kokoh. Dan itu terbukti selama babak perpanjangan waktu. Timnas Indonesia keluar sebagai pemenang dengan skor meyakinkan.

Ekspresi Asnawi juga penting. Ekspresi ini akan selalu diingat oleh rekan-rekannya, terutama di laga puncak AFF. Final, ya mirip seperti semifinal, bukan laga biasa. Unggul secara teknis atau taktik bisa tak banyak berpengaruh ketika mental goyah.

Jadi, yang dilakukan Asnawi, sebagai kapten timnas Indonesia, belum melewati batas profesionalitas. Tolong, jangan terlalu munafik.

Kalau pengin merasa khawatir, silakan tonton kompetisi Liga 3 Indonesia. Terkadang, sesama pemain bisa sangat tega untuk menyakiti fisik lawan atau wasit secara sengaja. Bahkan di beberapa kasus sampai ada yang kehilangan nyawa.

Padahal ini sepak bola, ranah profesi, sama-sama cari rezeki. Namun, pemain sangat tega untuk melukai sesama secara terbuka. Ingat, yang kayak gini nggak terjadi di Liga 3 saja. beberapa kali bisa kamu temukan di Liga 2, bahkan Liga 1.

Yang mereka lakukan jauh lebih parah ketimbang taunting dan banter yang dilakukan Asnawi. Namun, kita, kamu yang sok bijak, hanya akan sibuk menyerang Asnawi karena di kapten timnas Indonesia, karena kekerasan di Liga Indonesia jarang terekam kamera nasional, bahkan internasional.

Terkadang, hobi sebagian manusia Indonesia adalah memeragakan caranya menjadi insan munafik paling paripurna. Tidak tahu duduk perkara dan kebiasaan suatu peristiwa, tapi berteriak paling kencang, lagi merasa paling benar. KONTOL.

BACA JUGA 15 Plot Twists Timnas Indonesia vs Singapura di Semifinal AFF 2020 dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Exit mobile version