MOJOK.COIkan Arapaima yang dilepas di Sungai Brantas menjadi bukti bahwa tidak semua masyarakat memahami bahaya dilepasnya ikan tersebut untuk ekosistem sungai.

Masing-masing orang pasti punya kegemaran yang biasanya dilakukan pada waktu luang dan bertujuan untuk menenangkan pikiran serta mendapatkan kesenangan. Tak sedikit orang yang rela mengorbankan banyak uang dan tenaga untuk kegemarannya tersebut. Bahkan, banyak juga yang justru punya kegemaran yang berbahaya.

Misalnya saja yang baru-baru ini terjadi pada seorang warga Mojokerto berinisial HG. Bukannya kesenangan, malah kegalauan yang tiada tara ia dapatkan karena kegemarannya mengoleksi ikan Arapaima gigas yang berhabitat asli di Sungai Amazon. Ia memiliki ikan tersebut sebanyak 42 ekor. Sayangnya, karena tak mampu merawat ikan yang doyan makan dan tak pernah merasa kenyang ini, dengan terpaksa ia memberikan 4 ekor kepada temannya dan melepas 8 ekor lainnya di Sungai Brantas.

Tentu saja pelepasan ikan asing Arapaima di perairan Sungai Brantas, Mojokerto ini dikecam oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan telah diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41 Tahun 2014.

Ya, ikan Arapaima itu dilarang masuk ke dalam wilayah kita, Beb~

Alasannya, ia termasuk ikan yang dapat merugikan dan membahayakan kelestarian sumber daya ikan, lingkungan, dan manusia. Jika ia dibiarkan berenang gaya bebas di perairan kita, orang tuanya bakal khawatir kalau pergaulannya jadi tak terkendali. Eh, nggak, ding. Sebenarnya yang paling ditakutkan adalah kemampuannya memakan sumber makanan dengan cepat dan dalam jumlah yang banyak.

Baca juga:  Susi Pudjiastuti Lulus Ujian Paket C Setara SMA, Sana Ambil Sepedanya

Dia rakus. Kasihan yang lain kalau nggak kebagian atau justru terpilih jadi santapan. Apalagi dengan porsi makannya yang gila-gilaan itu, ia akan berkembang biak dengan cepat dan berumur panjang. Hal inilah yang kemudian semakin mengancam keberlangsungan sumber daya ikan kita, misalnya pada kelestarian ikan endemik yang sudah ada sebelumnya, dan lebih lanjut mengancam pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat, khususnya mata pencaharian masyarakat yang bekerja sebagai nelayan atau petani ikan.

Oleh karena itu, Bu Susi Pudjiastuti menjadi agak uring-uringan dengan aksi pelepasan si monster air tawar ini ke Sungai Brantas kemarin. Bu Susi pun menghimbau segera ada sosialisasi mengenai peraturan ini kepada masyarakat, melihat banyak orang yang belum tahu kenapa ikan jenis ini tidak dapat dilepas di perairan Indonesia.

Yang dikhawatirkan, banyak orang yang memiliki kegemaran seperti ini, namun karena tak sanggup memberi makan, akhirnya memilih untuk melepas ikannya ke sungai. Padahal kan kalau memang sudah tak sanggup memberi makan, daripada dibuang di sungai, mending dimakan saja. Katanya, di Amazon sana, ia menjadi santapan yang lezat karena dagingnya tidak memiliki banyak tulang, tidak berbau amis, dan lembut. Hmmm, maknyus!