Pembaca militan Mojok harus bersedia kecewa. Setelah sekian lama berupaya menutupi kedok, situsweb yang berhasil melambungkan Iqbal Aji Daryono hingga ke Ostrali ­sebelum berkhianat karena berhenti menyumbang tulisan secara reguler­ itu akhirnya membuka borok sendiri. Penyamaran Mojok akhirnya terbongkar sudah. Tak lain karena #MojokSore yang semula disebut sebagai konten advetorial ternyata menjadi corong propaganda pro Freeport dan pro Semen Indonesia.

Bajingan!

Setelah melewati fase kekecewaan massal netizen Indonesia terhadap situsweb lainnya yang hanya terobsesi mengejar jumlah klik, harapan sempat disampirkan kepada Mojok. Situsweb konyol ini menawarkan kesegaran melalui bentuk tulisan yang berbeda, dan cara menyajikan isu terhangat lewat racikan para penulis setengah dewa setengah siluman.

Sebut misalnya, Arman Dhani ­budayawan kesepian yang kini bertato, Cak Rusdi ­pria bijak dari Madura, Ardyan M. Erlangga ­jurnalis kaya raya yang baru saja membeli rumah, Arlian Buana ­mantan pimred yang kini digilas kejamnya ibukota, Nuran Wibisono dan Eddward S. Kennedy ­duo tangis yang mengisi Laut Kaspia dengan airmata, Kokok Dirgantoro ­calon presiden 2019, Agus Mulyadi ­jomblo idola yang berniat jadi pedagang susu, Windu Jusuf ­marxis pelopor sologami, dan masih banyak lagi.

Anda penasaran kenapa daftar di atas tidak ada perempuan? Oh, itu sengaja karena saya patriarkis. Tidak mencantumkan satupun nama perempuan di dalam tulisan ini, itu membuktikan bahwa saya adalah seorang misoginis pembenci sekaligus anti kesetaraan gender. Silogisme super mahakarya Aristoteles, penemu materialisme dialektika yang membuat orang jadi atheis.

Silogisme yang sama, Saudara sekalian, juga pantas diterapkan kepada Mojok terkait dengan penyelenggaraan ArtJog 2016.

Sebermula situsweb ini menerima iklan dari bank Mandiri yang merupakan sponsor utama ArtJog 2016. Di saat yang bersamaan, bank ini rupanya mengucurkan dana sebesar 3.96 trilyun rupiah kepada PT. Semen Indonesia. Sedangkan kita semua tahu, masyarakat di pegunungan Kendeng sedang terancam kelangsungan ruang hidupnya karena pertambangan karst PT. Semen Indonesia.

Maka kesimpulannya adalah: Siapapun, iya, siapapun mereka yang menerima iklan bank Mandiri berarti mendukung beroperasinya pabrik semen di pegunungan Kendeng!

Pertanyaan berikut yang hadir, darimana datangnya uang 3.96 trilyun tersebut?

Ada dua kemungkinan. Pertama, dari dana pinjaman asing. Misal, dari Bank Dunia atau dari Bank Pembangunan Asia (ADB). Skenario lain, dana tersebut berasal dari akumulasi dana segar yang dijaminkan oleh mereka yang menabung di bank Mandiri. Lagi-lagi, seturut dengan silogisme di atas, maka semua orang yang memiliki rekening di bank ini turut mendukung pabrik semen dan berkontribusi secara tidak langsung terhadap ancaman kehancuran alam di pegunungan Kendeng, Jawa Tengah.

Silakan masing­-masing dari Anda mengingat kembali di mana Anda menyimpan uang? Kalau bukan Mandiri, Anda berarti selamat sejauh ini. Minimal tak akan ada orang yang dengan heroiknya menulis surat terbuka dan puisi kepada Anda.

Eits, tapi penelitian dari Transformasi untuk Keadilan (TuK) Indonesia menunjukkan kalau BRI, BNI dan BCA ternyata terbukti memberikan kredit kepada banyak perusahaan sawit yang merampas tanah masyarakat adat di Sumatera, Kalimantan, dan juga Papua. Tiga bank tersebut juga terlibat mendanai investasi perkebunan bubur kertas (pulp and paper). Menurut WALHI, perkebunan sawit dan bubur kertas menjadi salah dua penyebab kebakaran hutan setiap tahun di Indonesia. Riset teranyar dari Rainforest Action Network juga menyajikan fakta bahwa perkebunan sawit terindikasi melakukan perbudakan modern yang ikut menimpa ana-k­anak.

Sampai di sini Anda tentu paham: Kalau semua bank di Indonesia itu bajingan, berarti satu­-satunya opsi paling mungkin adalah menutup rekening dan memindahkannya ke bank lain.

Nah, kalau jalan itu mau ditempuh, opsi yang tersedia tinggal Maybank, Standard Chartered atau Rabobank. Semuanya adalah bank luar negeri yang juga sering disasar oleh berbagai organisasi gerakan sosial internasional karena membiayai pertambangan di negara dunia ketiga, penggundulan hutan di Amazon dan perampasan tanah di Afrika. Tak apalah, ya. Toh yang jadi korban jauh di sana. Tak soal, kan?

Sekarang pindah ke soal berikut. Bagaimana mengenai keikutsertaan Freeport sebagai sponsor di Mandiri ArtJog?

Ini lebih biadab lagi. Bahkan untuk akses internet di lokasi aja, katanya harus menjawab pertanyaan mengenai Freeport. Jadi, menerima iklan dari penyelenggara Mandiri ArtJog itu sama dengan mendukung pelanggaran hak asasi manusia terhadap orang Komoro dan Amungme. Lha kok ada Komoro juga? Lah, memang kamu pikir korban Freeport itu cuma Amungme doang? Payah. Mungkin sesekali kamu harus gaul sama anak­-anak JATAM atau maen ke PUSAKA.

Kenapa Mojok harus ikut bertanggungjawab? Karena Mojok adalah pihak yang memastikan Freeport menjadi salah satu sponsor di Mandiri ArtJog pada detik­-detik terakhir penyelenggaraan. Mojok juga yang meletakkan logo Freeport pada desain undangan dan poster-­poster resmi ArtJog. Situsweb inilah yang jauh­-jauh hari melakukan lobi aktif mengenai kemungkinan Freeport mengalirkan sebagian kecil dana talangan sosial mereka (CSR) pada acara yang artsy macam ArtJog ini.

Mojok menjadi semacam pihak perantara yang mewakili panitia bernegosiasi dengan PT. Freeport mengenai berapa besaran sumbangan yang akan disalurkan ke dalam rekening ArtJog karena pemerintah enggan membiayai kegiatan macam ini. Dan jika Anda mengamati struktur kepanitiaan ArtJog kali ini, Anda akan tahu betapa Mojok juga jelas terlibat. Itu satu lagi bukti kalau Puthut EA dan kroninya memang pro Freeport. Lengkap sudah kejahatan mereka.

Eh, salah, ya? Mojok tidak melakukan itu semua? Masak, sih? Lha terus kenapa congor dan argumentasi irasional­mu malah diarahkan kepada situsweb ini? Kamu cacingan?

No more articles