Bekal ke Akhirat, Sagita Ngamen di Bus Sugeng Tindak

Baca cerita sebelumnya di sini.

“Yo! Akherat, yo! Sejam lagi berangkat! Depan kosong, yo! Akherat … Akherat!”

Teriakan kondektur bus PO Sugeng Tindak memecah keheningan malam di pojok Terminal Mbungur, di bawah pohon waru yang rindang. Suaranya serak, namun tiada pernah putus semangat memanggil para arwah gentayangan untuk lekas pulang, kembali ke pangkuan Ilahi. Ia mengenakan seragam merah darah, senada dengan warna resmi perusahaan tempat ia  bekerja. PO Sugeng Tindak merupakan perusahaan angkutan umum yang melayani pengiriman arwah rute Pantura-Fana menuju Pantura-Selamanya. Setiap Malam Jumat Kliwon, bus Sugeng Tindak mangkal di Mbungur, terminal kebanggaan arek Macomblang.

Pemuda berkupluk Bob Marley mengawasi dari jauh bus merah tersebut. Ia tahu, sudah saatnya ia pulang. Seorang lelaki tua menepuk pundaknya, mengajak menghampiri Sugeng Tindak bersama-sama.

“Mbah duluan saja. Saya sebat lagi. Nanggung. Jaga-jaga di akherat nggak ada Djarum.”

“Kalau rokok tetap ada. Sudah kupastikan tadi ke sopir Sugeng Tindak. Katanya ada, merk linting dewe.”

“Kalau ciu ada nggak, Mbah?”

“Kamu ini mau pulang apa kelayapan? Kondisi pikiran harus suci. Otak, kok, isinya oplosan terus, Le.”

Bob Marley hanya nyengir lebar. Ia kembali mengisap rokoknya dengan nikmat sambil berjongkok di depan warung kopi yang sudah tutup. Samar-samar ia melihat kelebat sosok perempuan berjilbab yang tampak akrab dengan masa lalunya sedang melintas di depannya, spontan ia berseru, “Ju…! Juwita! Sini!”

Merasa dipanggil, perempuan itu menoleh. Ia mendapati sosok Anwar, suami Qanaah sahabatnya itu, sedang ndodok seperti biasa, seperti masa-masa ketika mereka masih sering menyelinap keluar kelas dan jagongan di warung Yu Tupa di belakang halaman sekolah.

“Ealah, kamu toh Ju… benar kamu, Juwita, istri Fajar. Kapan kamu mati?” tanya Anwar ringan, masih cengengesan memperlihatkan biji giginya yang besar-besar.

“Kemarin.”

“Kenapa?”

“Bukan urusanmu.”

Subhanallah, Ju … Ju. Nggak hidup, nggak mati, sama saja judesmu. Nggak bisa hilang.”

Juwita malas meladeni komentar Anwar. Ia benci melihat Anwar mengenakan kaos bertuliskan Kanca Mati Urip Kothekan; Arex Singagaluh Edzan! karena mau tak mau mengingatkannya pada Ulid, pemuda yang menciptakan nama gerombolan kampungan itu, yang meminjam uang Juwita untuk DP sablon kaos gerombolannya.

Juwita masuk ke dalam bus. Kursi penumpang yang tersisa hanyalah dua baris kursi paling depan beserta sederet panjang kursi paling belakang. Juwita duduk di baris kedua, di dekat jendela. Di atas jendela, terpasang palu merah dengan tulisan: Pecahkan saja kacanya jika tak kuat menanggung kenangan. Segala bentuk kehilangan, baik ingatan dan perasaan, ditanggung masing-masing penumpang.

Juwita menyenderkan kepalanya ke jendela. Ia masih agak terguncang dengan nasib buruknya: mati dibunuh suami. Ia mencoba berpikir pelan-pelan, mengurai urutan kejadian yang menyebabkan ia tiba-tiba bangun dan tersadar ruhnya telah melayang-layang, terlepas dari jasadnya yang mulai mendingin.

Kemarin hujan turun dengan deras. Ia baru pulang dari rumah Qanaah, sahabatnya, setelah mencurahkan isi hatinya, kekecewaannya, sekaligus rahasianya selama ini. Ia patah hati karena Ulid tak lagi mengenalinya. Ia kecewa karena Fajar, suaminya itu, malah sibuk mengurusi wartawan dan aparat yang memperpanjang cerita kematian bapak mertuanya. Ia membongkar rahasia bahwa selama ini ia hendak membunuh bapak mertua yang pernah menzalimi tubuhnya. Qanaah, sahabatnya itu, hanya menyimak dengan saksama. Selepas hujan reda, Juwita pulang ke rumah dan… dan….

Ia melihat Anwar masuk ke dalam bus. Lelaki itu menghampiri bangku Juwita.

“Nggak usah duduk di sampingku,” ucap Juwita tajam, mengantisipasi perasaan tidak nyaman jika Anwar duduk di sebelahnya sepanjang perjalanan ke akhirat. Dengan luwes, pantatnya ia geser ke tengah bangku yang harusnya diisi dua pantat orang dewasa.

“Kamu tahu, istriku, Qanaah, mencintai Ulid sebesar kamu mencintai kancaku itu?”

Juwita terhenyak. Ia menatap Anwar lekat-lekat, menuntut informasi lebih lanjut. Tanpa dipersilakan, Anwar duduk di sebelah Juwita. Kali ini perempuan itu tidak berjengit atau semacamnya. Ia menggeser kembali pantatnya ke pojok bangku. Meski ia masih mencium bau apek dari topi Bob Marley yang dikenakan Anwar, ditahan-tahannya demi kabar yang tak pernah disangka-sangkanya.

Sopir Sugeng Tindak menyalakan tivi tabung yang menggantung di atas tempatnya memegang kemudi. Video Oma Irama berduet dengan Fia Fallen membuat beberapa pasang mata penumpang teralihkan dari kondisi di luar bus. Acara HUT Endosiyar mengundang kedua penyanyi itu untuk membuat senang para penggemar dangdut. Tapi Oma hanya mau berduet secara utuh menyanyikan Pertemuan. Raja Dangdut yang sepi job manggung itu terpaksa menyanyikan sepenggal lagu Sayang dari Fia Fallen demi penggemar Fallen se-Endonesa Rata. Ia ksatria bergitar yang sepuh sekaligus gagah sekaligus alim dalam balutan baju bersayap warna emas. Selamanya ia akan menjadi legenda bagaimana seorang seniman mapan selalu memulai dari nol dan selalu mempunyai mimpi buruk terhadap orang-orang baru yang ia kira menggoyahkan kemapanannya.

“Fallen terlihat segar, ya,” celetuk Anwar, tidak meneruskan cerita yang ditunggu-tunggu oleh Juwita.

“Agak gemuk maksudmu?” sahut ibu-ibu dari kursi di seberang Anwar duduk.

“Wajarlah. Makmur sekarang. Jadi artis ibukota,” sahut penumpang yang duduk persis di belakang sopir Sugeng Tindak.

“Ia tambah mekar setelah datang ke Singagaluh untuk memulihkan para korban dari hujan pentol,” lanjut  ibu-ibu yang kalau diperhatikan lebih teliti lagi, mengingatkan pada rupa ayu Evie Tamala.

“Jogetnya memang asyik. Suaranya memang empuk,” ujar si Sopir.

“Kudengar ia ikut urun modal untuk bisnis kuliner pentol di Singagaluh,” penumpang yang lain pun ikut menyahut.

Juwita tak sabar lagi. Ia menjiwit pinggang  Anwar. Menagih cerita. Anwar meringis. Jiwitan Juwita kecil, tapi nyelekit.

Selepas mengadu sakit, barulah Anwar memasang wajah serius. “Kamu tak pernah peduli pada sahabatmu, Ju. Qanaah selalu menyimpan perasaannya terhadap Ulid untuk menjaga perasaanmu. Tapi kamu malah dengan enteng menerima perjodohan antara dirimu dengan Fajar. Ulid terpukul sekali saat itu. Kalau aku datang terlambat, kandaslah sudah hidup Ulid. Ia sempat keracunan ciu oplos Baygon. Qanaah dan aku yang merawatnya selama ia terkapar sekarat di rumah sakit.”

“Kenapa kalian tidak pernah cerita, sih?”

“Buat apa? Kamu sudah milik orang.”

Sopir tiba-tiba mematikan tivi. Bus Sugeng Tindak hendak berangkat. Seorang perempuan bertopi Sagitarius Record, berambut panjang disemir warna jagung, naik ke dalam bus. Ia menggotong sekotak salon sound system mini. Gulungan kabel dan mikrofon terjepit di sela pegangan kotak hitam tersebut.

“Assalamualaikum, Bapak-Ibu, Mbak-Mas, Adek-Adek sekalian. Malam ini Sugeng Tindak mengizinkan saya menemani perjalanan Anda-Anda semua menuju Pantura Selamanya dengan full satu album Ngamen. Ngamen satu sampai Ngamen sepuluh. Semoga terhibur.”

Ia menyalakan piranti sound mininya dengan sigap. Tubuhnya bergoyang bersamaan dengan suara ketipung membuka orkes tunggal di dalam bus Sugeng Tindak. Keempat roda bus mulai bergerak, meninggalkan terminal.

“Sagita … Asolole!”

Dino iki mujur tenan
Aku ngamen neng njero bis-bisan
Penumpange longgar tenan,

Supire ugal-ugalan
Aku tibo jempalikan neng pojokan

“Seharusnya aku menolak lamaran Fajar. Seharusnya aku mengajak Ulid kawin lari. Tapi aku terlalu pengecut, War. Aku tak kuasa menolak keinginan keluargaku agar naik derajatnya, agar naik ekonominya, agar aman sejahtera sampai lima turunan dengan aku menjadi mantu Kaji Badrun. Aku minta maaf. Aku ingin minta maaf ke Ulid. Kenapa dia tidak mati saja, sih, biar tempat dudukmu ini dia yang ngisi. Biar cinta kami abadi,” suara Juwita mulai serak. Sebentar lagi dapat dipastikan ia akan mewek.

“Cup… cup. Nggak usah nangis,” ujar Anwar menepuk pundak Juwita. “Setidaknya, sekarang Qanaah menjanda dan cinta buta Ulid padamu sudah lenyap, Ju. Hujan pentol menyembuhkan luka Ulid terhadapmu. Kita pantas bersyukur. Mereka berdua akhirnya punya kesempatan bersatu.”

“Kamu tidak merasa sakit bilang seperti itu? Kamu sangat mencintai Qanaah, bukan? Sebulan yang lalu ia masih menjadi istrimu.”

“Menurutmu tiap hari awakku tidak ngilu mengetahui diam-diam perasaan Qanaah tidak pernah berubah pada Ulid? Remuk ajur atiku, Ju.”

Suara irama jathilan mengiringi gerak Sugeng Tindak yang semakin ngebut, oleng kanan, oleng kiri. Klakson tiada henti berbunyi. Salip kanan. Salip kiri. Sugeng Tindak melaju ke arah barat, menembus jalan gelap yang semakin mencekam.

Neng akhirat ora ono montor liwat

Neng akhirat ora ono sego berkat

Neng akhirat ora ono mejo billiard

Onone godo ne moloikat

Juwita tersenyum miris. Pertanyaan yang serupa ia dengar langsung kemarin dari mulut Fajar. “Apa kamu tidak bisa membayangkan betapa sengsaranya aku menikahimu sebab tak pernah memiliki jiwamu? Kalau kamu mau minta pegat sekarang dan kembali ke Ulid silakan! Tapi jangan harap aku membagi harta bapakku sepeser pun ke dirimu dan keluargamu!”

Kemarin selepas Juwita pulang dari rumah Qanaah, ia mendapati Fajar dan Istiqomah, biduanita piyik itu tengah bergumul di kamarnya. Melihat pemandangan tabu itu Juwita kalap. Ia melempar apa pun yang bisa dilempar. Membanting apa pun yang bisa dibanting. Kesetanan. Kebenciannya pada Istiqomah memuncak. Anak itu segera mengenakan seragam sekolahnya kembali dan meloncat dari jendela kamar. Lari, pulang entah ke mana. Ranselnya masih tertinggal. Hasduk Pramukanya masih terkalung di leher Fajar. Pertengkaran kembali terjadi antara Fajar dan Juwita. Pergulatan kembali terjadi antara Fajar dan Juwita. Penghabisan akhirnya terjadi antara Fajar dan Juwita. Perempuan itu tewas terkapar setelah Fajar menusuk dadanya dengan belati.

Sak sugih, sugih e uwong mesti ono mlarate

Sak mlarat, mlarat e uwong mesti ono celenganane

Mangkane golek bojo ojo mandeng rupo

Rupo elek kuwi yo ora dadi ngopo

Mangkane golek bojo ojo mandeng bondo

Seng penting, ora ngenteni warisan morotuwo

Juwita menyandarkan kembali kepalanya ke jendela bus yang berkabut. Dadanya terasa sesak. Lubang bekas tusukan belati semakin melebar. Juwita memilih tidak gentayangan. Pulang adalah jalan terbaik untuk membebaskan dirinya dari lingkaran setan. Dan keputusannya tepat. Anwar benar. Selanjutnya, biarlah kisah cinta Ulid dan Qanaah bertemu lalu bersatu. Semoga Fajar tak mencari Ulid untuk membalas dendam, pinta Juwita sungguh-sungguh.

Di tengah pertengkaran yang semakin alot kemarin, Fajar sempat menyinggung-nyinggung bahwa hujan pentol dan kematian bapaknya disebabkan oleh bapak Ulid. Entah, apa maksudnya. Juwita tak paham dan tak akan mau memahami ceracauan yang semakin beringas dari mulut suaminya. Ia mencoba memejamkan kedua pelupuk matanya. Darah masih merembes di dadanya. Ia ingin tertidur dan bermimpi tengah berdiam di bus lintas provinsi yang akan membawanya ke ibu kota. Ia pikir lembaran baru hidupnya dibuka dengan audisi Dangdutin Idol. Tapi ia keliru, masa lalu membawanya hingga ke sini bersama Sagita yang terus menyanyikan serangkaian lagu Ngamen.

Kusambut pagi hari bersama sang Surya pagi

Akankah terus begini kehidupan ini

Waktu yang terus berganti ajakku tuk bangkit lagi

Jalanan yang selalu menanti ajakku kembali

Ku kan datang dengan penuh harapan

Ku kan merenda hari esok lagi

Tiba-tiba, Sugeng Tindak berhenti. Sopir mengerem mendadak. Pengamen dan kondektur terjungkal. Para penumpang menghantam jok bangku di depannya dengan keras. Beberapa tersungkur ke lantai bus.

“Semprul!”

“Muatane!”

“Asuuu!”

“Jyamput! Ati-ati, Pak!”

Bus Sugeng Tindak mlipir ke tepi jalan yang gelap gulita. Kondektur membukakan pintu depan. Seseorang menaiki tangga dengan muka biru lebam. Tangan kanannya buntung. Pakaiannya koyak. Dari amis darah yang tercium, jelas ia baru menemui ajal belum lama ini. Mungkin satu-dua jam ia baru saja mati. Lampu-lampu kecil dalam bus dinyalakan. Keadaan di dalam bus yang tadinya remang-remang kini terang benderang.

“Pak Eko?” celetuk seorang penumpang di baris depan.

“Anda Pak Eko Orkes Tralala, bukan?” terdengar sahutan lain.

“Innalillahi …”

“Pak, Bapak mati kenapa?”

“Lusiana dan Istiqomah ikut mati nggak, Pak?”

Pak Eko memaksakan diri tersenyum. Bibirnya menceng, tertarik ke kiri atas. Sial betul nasibku, batinnya. Kemudian, ia terseok-seok mencari bangku yang kosong. Ia melangkah semakin ke dalam. Orang-orang hanya menatapnya penuh tanda tanya. Di bangku panjang penumpang, deret paling belakang, tiga sosok lelaki tua menyambutnya dengan senyum dingin mematikan.

Si sopir bertato gitar tengah memangku gendang, si Parut memeluk ketipungnya, dan si Meggy Z. palsu menyelonjorkan kakinya di atas djembe yang berada di bawah jok kursi penumpang.

“Selamat malam, Pak Eko. Akhirat masih jauh di depan. Bergoyanglah bersama kami.”

Baca cerita berikutnya di sini.

Exit mobile version