MOJOK.COAmerika baru saja borong remdesivir, obat yang terbukti mampu melawan corona. Seluruh dunia nggak kebagian. Kenapa nggak kebodohan aja sih yang diborong?

Kalau kamu pernah kalah main monopoli dan sakit hati, kali ini kamu dijamin bakal merasa lebih pedih mengetahui kenyataan bahwa Trump mengumumkan Amerika baru saja memborong remdesivir, obat covid-19 yang diproduksi oleh Gilead Science.

Kalau borong lalu dibagi-bagiin sih nggak masalah, tapi mereka membeli remdesivir dengan ngawur sampai Inggris dan negara-negara di Eropa udah nggak bisa pesan lagi. Apalagi negara dunia ketiga kayak Indonesia, mimpi aja bakal kebagian.

Amerika memborong seluruh stok remdesivir dari Gilead Science untuk bulan Juli, dan 90% stok untuk Agustus dan September. Padahal untuk ukuran sebuah obat baru, produksi remdesivir ini masih belum bisa maksimal untuk memenuhi permintaan dari seluruh dunia.

Donald Trump kalau jadi bapak-bapak biasa yang suka cangkruk di angkringan, bakal jadi tipe yang memborong masker bedah dan hand sanitizer dua troli di supermarket. Berasa sehat punya sendiri, Bos.

Tapi setidaknya Inggris dan Jerman sudah agak tenang karena nyetok obat ini sedari kemarin, sebelum Trump panic buying begini. Walau penggunaannya masih diprioritaskan untuk mereka yang gejalanya lumayan parah. Nah, untuk pasokan negara-negara berkembang jangan tanyakan dulu ya, Mylov, jawabannya jelas kita nggak kebagian obat produksi Gilead Science sampai September.

Baca juga:  Jokowi Longgarkan Kredit UMKM karena Efek Corona dan Cara Kita Membantunya dengan Sederhana

Remdesivir adalah obat pertama yang mendapatkan lisensi dari otoritas lembaga resmi Amerika Serikat. Obat ini membantu merawat pasien covid-19 dan telah lulus uji coba dalam membantu pasien pulih lebih cepat dari virus corona. Obat ini dibanderol dengan harga 520 dolar AS atau Rp7 juta per botol. Kalau rata-rata penggunaan obat ini adalah 6 botol, maka harga untuk kesembuhan pasien covid-19 sekitar Rp38 juta. Ternyata corona mahal.

Rapid tes mahal, penyembuhannya kalau positif pun mahal. Hmmm pantas saja….

Sebenarnya bukan cuma Gilead Science yang bisa memproduksi obat ini. Lisensi bebas-royalti telah diberikan untuk beberapa produsen obat generik di India, Pakistan, dan Mesir. Dari negara inilah Indonesia paling mungkin kebagian pasokan.

Amerika memang nggak bisa disalahkan begitu saja atas perbuatan meborong remdesivir, karena mereka punya uang buat beli. Walau sudah banyak diproduksi, negara berkembang belum tentu mampu buat beli. Selain itu kehadiran obat ini cenderung belum punya mekanisme pembelian dan aturan-aturannya.

Ttt-tapi…

Tindakan Amerika yang blangsakan dalam memborong remdesivir ini jelas memicu sentimen negatif dari negara lain yang juga mengalami pandemi. Seolah-olah Amerika Serikat menunjukkan kalau negara mereka memang paling prioritas, alias sok-sokan ‘America first’. Padahal yang first itu Ketuhanan yang Maha Esa dong.

Dear Pak Trump. Bapak sadar nggak sih kalau semua nyawa manusia, baik orang Amerika, orang Indonesia, bahkan orang negara dunia ketiga lainnya juga berharga? Nggak lucu kalau ada orang yang nasibnya malang saat jadi pasien covid-19 hanya karena dia bukan orang Amerika. Satu-satunya yang kami syukuri adalah nggak dipimpin orang macam Pak Trump ini.

Baca juga:  Tiga Saran Menghadapi Dilema Ekonomi karena Pandemi Virus Corona

Lagi-lagi pandemi corona bikin seluruh manusia kelabakan dan berebut. Dulu sempat berebut masker, berebut hand sanitizer, sampai APD. Sekarang udah ada obat yang terbukti bisa membantu melawan covid-19 juga jadi rayahan dan yang dapat cuma negara-negara maju. Semoga aja nasib remdesivir ini lama-lama kayak masker bedah yang stoknya membaik seiring berjalannya waktu. Lalu kita akan sibuk menunggu vaksin selesai diuji coba dan menyaksikannya kembali diperebutkan lagi. Hadeeeh, capek.

BACA JUGA Ternyata Kita Semua Sayang Kim Jong Un atau artikel lainnya di POJOKAN.