Imlek dan Jumat. Dua entitas yang sepantasnya menjadi perpaduan hari yang indah dan menyenangkan, setidaknya, ada nuansa berkah dan kemeriahan kendati kali ini, tak ada pertunjukkan barongsai yang lincah dan gemar betul memamerkan mata lentiknya itu.

Namun kabar yang sentimentil itu justru datang tepat di hari di mana seharusnya keberkahan dan kemeriahan itu berbaur: Prie GS meninggal dunia. Kabar itu datang serupa palu godam yang menghantam tanpa aba-aba, tanpa ampun, dan tanpa belas kasih.

Istri saya yang mengabari itu pagi tadi. Pikiran saya mendadak terperosok ke ruang yang saya amat sulit menggambarkannya. Jantung serasa berhenti sejenak.

Saya amat berharap, semoga bukan Prie yang itu yang meninggal, bukan Prie yang tulisannya selalu saya baca itu. Pokoknya bukan Prie yang itu. Sungguh, ini menjadi semacam kejahatan batin yang amat kuat, di mana saya berharap agar seseorang masih tetap hidup dan berharap agar orang lain yang mati.

“Iya, Mas. Pakdhe Prie GS. Meninggal,” kata istri saya.

Ya Tuhan. Seketika, berbagai perasaan langsung membaur. Sedih, sesal, marah, bercampur menjadi satu.

Bagi saya, Prie GS adalah sosok yang penting. Ia ikut membentuk karakter tulisan-tulisan saya.

Sebagai seorang penulis, sudah barang tentu saya punya penulis lain yang saya jadikan sebagai panutan, rujukan, benchmark, atau apalah itu namanya. Dari sekian banyak penulis yang saya jadikan rujukan itu, Prie GS menjadi nama yang hampir selalu saya sebut pertama, sesekali kedua setelah Mahbub Junaidi (utamanya kalau lawan bicara saya adalah para mahasiswa), kadang ketiga setelah Umar Kayam (kalau lawan bicara saya adalah orang-orang penggemar karya sastra).

Baca juga:  Prabowo Politisasi Ibu Ani, SBY Menyilang Tangan, dan Kampret yang Ahli Satire

Dalam berbagai kesempatan, Prie GS tidak pernah tidak saya sebutkan jika saya harus menjawab pertanyaan “Siapa penulis favorit Mas Agus?”

Saya selalu menyukai bagaimana cara Prie GS bertutur. Ia seakan menjadikan pembaca bukan lagi pembaca, melainkan kawan ngobrolnya. Saya suka bagaimana ia merangkai metafora, menjadikan sesuatu yang sebetulnya remeh menjadi hal yang tidak layak untuk diremehkan. Saya suka bagaimana ia menuliskan permenungan-permenungan atas apa saja yang ia temui. Saya suka dengan cara dia mengolok-olok diri sendiri, bagaimana ia sering menyebut bahwa fisiknya sangat tidak impresif sehingga hanya keberuntungan dan kepercayaan diri yang kelewat tinggilah yang membuat dia mampu menikahi istrinya saat ini.

Ia selalu tampil tanpa perlu menjadi bijak seperti banyak penulis lain. Ia tak pernah harus selalu mengantongi suri tauladan dan mutiara-mutiara hikmah yang harus ia sebarkan dan ia lemparkan kepada orang-orang yang mendengarkan ceramahnya atau membaca tulisanya.

Prie GS menulis dengan sudut pandang menusia yang manusia. Ia menarasikan bagaimana saat dirinya sombong, saat dirinya dikuasai dengki, saat dirinya marah, saat dirinya putus asa, saat dirinya kecewa, saat dirinya bodoh. Ia tak menjadi penulis yang senantiasa butuh memberikan hal-hal bijak. Ia selalu mampu tampil menjadi seorang motivator sekaligus demotivator.

Ia selalu mampu melihat apa banyak hal dari sudut pandang yang menarik.

Baca juga:  Terduga Teroris yang Ditangkap di UNRI Berencana Mengebom Gedung DPR

Bayangkan, suatu ketika, Anda berjalan ke ranjang untuk segera tidur dan mancal kemul karena sudah sangat ngantuk setelah mengerjakan tugas kantor atau lembur menonton drakor semalaman. Hanya tinggal sak leran untuk bisa sampai ke alam tidur. Namun ternyata, kemih Anda tidak bisa diajak kerja sama. Anda ternyata menyimpan bibit-bibit kebelet pipis yang ternyata semakin lama semakin membesar kalau Anda tidak segera menunaikannya. Anda bimbang, Anda ingin melanjutkan perjalanan menuju tidur Anda yang sudah kadung pewe itu, namun Anda juga merasa harus ke kamar mandi untuk segera kencing. Anda takut mengorbankan suasana “nyaman” Anda dengan berjalan ke kamar mandi yang dingin, namun Anda juga takut melanjutkan kenyamanan Anda karena perasaan ingin kencing tadi.

Atau bayangkan, Anda merasa iba dengan seorang penjual keliling, bisa keset, sapu, tangga bambu, atau apalah itu. Karena merasa iba, Anda kemudian nekat membelinya walau Anda sebenarnya tak menginginkannya. Namun, ternyata, ketika mau membeli, Anda melihat sendiri kalau si penjual ternyata tak semelarat yang kita pikir, mungkin karena ia tampak menenteng ponsel yang tidak murah, atau mungkin karena ia tampak merokok dengan rokok harganya cukup membuat orang dengan keuangan yang sehat pun bakal berpikir dua kali untuk membelinya. Anda kemudian bingung, tetap melanjutkan niat untuk melarisi dagangannya atau tidak.

Baca juga:  Alasan Kenapa Peyek Tak Dijual di Abang Tukang Gorengan dan Jawaban untuk Ridwan Remin

Kebimbangan jenis itu tentu saja pernah dirasakan oleh hampir semua orang, namun rasanya, hanya Prie GS yang terpikir untuk menuliskan kembimbangan tersebut dengan cara yang indah dan tampak tidak remeh.

Ada banyak hal-hal menarik yang mampu dituliskan oleh Prie GS dengan sangat elegan dan kreatif, pun ada banyak kontemplasi yang bisa diceramahkan dengan sangat artikulatif oleh Prie GS.

Kini, hari ini, saya harus menerima kenyataan bahwa penulis liat dan lentur itu telah tiada. Saya, dan mungkin banyak pembaca tulisannya tak akan bisa lagi membaca tulisan-tulisan terbarunya tentang permenungan hidup, tulisan tentang bagaimana menertawakan hidup, tulisan tentang bagaimana menjalani keselarasan hidup.

Getir itu akhirnya datang. Prie GS, sekali lagi, adalah penulis favorit saya. Dan karena itu pula, saya punya pengharapan yang sederhana: bisa mampir ke rumahnya untuk kemudian ngobrol tentang apa saja.

Saya pikir, itu adalah pengharapan yang kelewat sederhana. Dan sialnya, lagi-lagi saya harus menerima kenyataan, bahwa hal tersebut, sekarang, tak lagi sederhana, sebab saya tak lagi punya kesempatan untuk mewujudkannya.

Sugeng tindak, Mas Prie. Penulis kesayanganku. Sugeng tindak.