Saya tak ingat kapan persisnya, mungkin empat atau lima tahun yang lalu, Paklik saya, Jumadi, mengenalkan saya pada sosok kiai muda bernama Gus Yusuf. Perkenalan tersebut tentu saja bukan perkenalan secara harfiah, melainkan sebuah perkenalan melalui siaran radio salah satu stasiun radio lokal di Magelang.

“Kamu kalau subuh sering-sering dengerin Fast fm, Gus,” kata Paklik saya, “Acaranya bagus, ngaji sama Gus Yusuf.”

Saya kemudian sering ikut mendengarkan ceramah tersebut tiap pagi. Pembahasannya biasanya tentang fikih-fikih sederhana, tentang keluarga, tentang tata cara ibadah, juga tentang bermasyarakat.

Suaranya yang selow dan khas membuat banyak orang yang suka dengan siaran ceramah tersebut. Paklik dan Mbah saya salah duanya.

Belakangan baru saya ketahui, bahwa sosok Gus Yusuf yang sering ngisi di acara radio tersebut adalah Kiai Yusuf Chudlori, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang.

Kelak, saya berkali-kali bertemu dengan Gus Yusuf dalam berbagai forum acaranya. Maklum, Gus Yusuf kerap menjadi pemateri di acara Jamaah Kopdariyah, semacam forum diskui kebangsaan lintas iman di Magelang yang saya kerap ikut menghadirinya.

Nah, di bulan Ramadhan ini, saya bersama kawan-kawan Mojok dan Gusdurian Jogja melalui program Sowan Kiai berkesempatan untuk sowan ke Gus Yusuf di Pondok Tegalrejo.

“Ngeten, Gus. Ini Anak-anak Mojok.co sama Gusdurian Jogja ini sekarang sedang bikin program kolaborasi sowan kiai. Jadi semacam program mendatangi kiai-kiai muda untuk kita wawancarai seputar dunia keislaman, dunia pesantren, dan seputar isu-isu pop kontekstual. Kalau ndilalah memungkinkan, kira-kira njenengan dalam bulan ini selonya itu kapan nggih, Gus. Biar kami rombongan bisa dolan ke Nggarjo buat ngobrol-ngobrol…” begitu tulis pesan saya pada beliau melalui DM.

Dasar tumbu ketemu tutup, Gus Yusuf ternyata merespons dengan jawaban yang sangat menggembirakan.

“Malem rebo bar taraweh ya, jam 9-an” jawabnya.

Maka, pada hari yang sudah ditentukan, kami pun meluncur dari Jogja ke Tegalrejo untuk sowan.

Kami berangkat bertujuh, selain saya, ada pula Dafi, Fairuz, Fatin, Ali, Bahru, dan Aziz.

Di dalem beliau, kami tentu saja harus antre. Maklum saja, selepas tarawih, memang banyak masyarakat yang juga sowan ke dalem beliau. Semuanya punya hajat masing-masing. Dari yang minta didoakan, minta restu mau bikin kegiatan, sampai ada yang berkonsultasi seputar dunia kepartaian. Semuanya dilayani satu per satu dengan sabar.

Kami sampai di dalem sekitar pukul sembilan malam, dan baru mulai dilayani sekitar pukul sebelas malam.

Sosoknya yang masih terlihat sangat muda membuat banyak orang tak menyangka bahwa dirinya adalah seorang Kiai. Orang-orang bahkan akan lebih tak menyangka jika mereka melihat Gus Yusuf masih dengan kostum jaket kulit yang memang sering ia pakai. Dulu saya bahkan pernah mengira kalau beliau ini intel atau kasatreskrim alih-alih kiai.

Usut punya usut, dirinya memang sudah aktif ikut mengurus pesantren sejak muda. Setelah selesai nyantri di Lirboyo, kemudian di Purwokerto dan Kebumen, Gus Yusuf langsung “dines” di pesantren peninggalan ayahnya.

“Ya kira-kira usia 24-25 lah mulai mbantu,” Gus Yusuf menjelaskan, “Dan sampai saat ini saya sebenarnya juga masih mbantu.”

Pemilihan kata “mbantu” sengaja dipilih oleh Gus Yusuf, sebab menurut penjelasan beliau, pengasuh utama Pondok API Tegalrejo sebenarnya adalah kakak-kakaknya.

“Pengasuh sesungguhnya adalah kakak saya yang tertua, Kiai Mudrik Chudlori dan Kiai Chanif Chudlori. Saya hanya ikut membantu. Nguri-uri pesantren.”

“Jadi dulu diawali dengan ngajar kitab ke santri nggih, Gus?” tanya Fairuz.

“Ya sampai saat ini juga masih ngajar kitab.”

Bagi masyarakat Magelang dan Jawa Tengah, tak bisa dimungkiri bahwa sosok Gus Yusuf memang menjadi sosok yang paling dikenal sebagai representasi Pondok Pesantren API Tegalrejo saat ini. Walaupun Gus Yusuf sendiri mengaku bahwa dirinya di pesantren statusnya hanya ikut mbantu. Bukan pengasuh murni.

“Dulu waktu jaman bapak saya, Kiai Chudlori, semuanya dipegang oleh bapak. Mulai dari ngopeni santri, juga ngopeni masyarakat, sampai ke soal fasilitas pembangunan, semuanya bapak yang handle.”

Ketika kemudian Kiai Chudlori wafat pada 1977, kepemimpinan diteruskan secara estafet oleh anak sulungnya, Kiai Abdurrohman Chudlori atau yang lebih akrab dikenal sebagai Mbah Dur dengan dibantu oleh anak-anak Kiai Chudori yang lain.

Kepemimpinan kolektif ini, menurut Gus Yusuf karena tidak ada anak-anak dari Kiai Chudori yang punya kemampuan kepemimpinan yang setara dengan Kiai Chudori, sehingga kemudian kepemimpinan diurus secara kolektif.

“Begitu bapak meninggal, ini kan, kemampuannya (anak-anaknya) jelas jauh, dari sisi apa pun, ya akhirnya berbagi.”

Di tahun 2011, Mbah Dur wafat. Kepemimpinan pesantren kembali dipegang secara kolektif oleh anak-anak Kiai Chudlori. Gus Yusuf saat itu mendapat amanah ditugasi sebagai pemimpin bagian urusan antarlembaga.

Gus Yusuf menyebut jabatan ini sebagai semacam menteri luar negeri. Jabatan itulah yang kemudian membuat dirinya menjadi lebih terkenal ketimbang kakak-kakaknya yang memang menjadi pengurus murni di pesantren.

“Kakak saya yang dua itu (Kiai Mudrik dan Kiai Chanif) ya hanya di dalam pondok, siap tidak terkenal lah. Trus ada kakak saya yang namanya Kiai Haidar itu sekarang ngurusi fasilitas pembangunan. Ada lagi satu kakak saya, namaya Kiai Nur Mahin, itu kalau istilah negara tu semacam Kapolrinya lah. Urusan kamtibmas.” Terang Gus Yusuf, “Nah kalau saya ini ibaratnya jubir, menteri luar negeri, bagian keluyuran, jadi saya harus siap terkenal.”

Jabatan tersebutlah yang kemudian membuat Gus Yusuflah yang paling sering diminta untuk mengisi pengajian di berbagai tempat. Tak heran jika kemudian masyarakat lebih mengenalnya ketimbang kakak-kakaknya. Masyarakat juga kemudian menganggapnya sebagai pengasuh atau pemimpin tertinggi Pondok Tegalrejo.

“Masyarakat itu tahunya saya pengasuh, padahal saya ini sangat tidak pengasuh. Yang namanya pengasuh itu kan harus menjaga pesantren siang-malam. Ngangkremi, istilah jawanya. Lha saya tiap hari itu keluyuran, je.”

Dalam perkembangannya, di tangan Gus Yusuf sebagai “menteri luar negeri”, Pondok API Tegalrejo boleh dibilang tumbuh dengan cukup pesat. Tumbuh bukan hanya dalam artian fisik pesantren maupun jumlah santri, melainkan juga pesat jangkauannya sebagai sebuah lembaga dakwah.

Hal tersebut salah satunya karena Gus Yusuf adalah sosok yang sangat melek teknologi. Gus Yusuf bahkan punya kanal-kanal tersendiri untuk menyebarkan ceramah ke masyarakat, baik melalui Facebook, Instagram, bahkan akun Youtube.

Tak hanya itu, Pondok API Tegalrejo, atas inisiasi Gus Yusuf bahkan punya stasiun radio sendiri yang menjangkau area Magelang dan sekitarnya.

Melalui radio yang diberi nama Fast FM tersebut, Gus Yusuf ingin mengenalkan nilai-nilai pesantren kepada masyarakat umum. Menurutnya, masyarakat sebenarnya sangat ingin nyantri dan belajar agama, namun terkendala banyak hal, dari mulai pekerjaan sampai tempat tinggal. Sehingga menurutnya, Pondok pesantren perlu membikin semacam media untuk “jemput bola”.

“Di Fast FM itu, tiap pagi, kita menyiarkan ceramah, juga sesi interaktif.”

Acara itulah yang kelak menjadi salah satu favorit bagi Paklik dan simbah saya.

Sebagai seorang menteri luar negeri pondok, Gus Yusuf banyak pula bergelut dengan dunia yang kerap tak punya irisan langsung dengan dunia pesantren, dari mulai soal politik, olahraga, sampai seni budaya. Semuanya ditandanginya.

Ia, misalnya, pernah menjabat sebagai CEO PPSM Magelang, klub sepakbola legendaris di Magelang.

“Saya ini dulu sempat jadi CEO satu tahun di PPSM. Jadi dulu saya pernah ngurusi pemain-pemain, termasuk Kurniawan itu,” Terangnya sambil tertawa. “Dulu bayar Kurniawan itu lumayan, saya yang ngurus gaji, sampai bonus. Tiap kali dia bikin gol, klub ngasih bonus 1 juta. Mangkanya kalau dia ngegolin, dia langsung nelpon saya, ‘Bos, bonusannya, Bos’ begitu.”

Mengurus sebuah klub sepakbola menurutnya adalah kebahagiaan tersendiri, walaupun menurut pengakuannya, ia tombok berkali-kali.

“Lha biaya buat gaji, kontrak dan segala macem ini bisa sampai 3 miliar, padahal Medco cuma ngasih modal 2 miliar. Ya tombok.”

Gus Yusuf memang sejak lama sangat menggemari sepakbola. Di Twitter, ia sering bercanda tentang sepakbola. Terlebih kalau tim sepakbola favoritnya, Manchester United, bertanding.

Mangkanya, ketika musim ini MU performanya buruk dan bahkan tidak lolos ke liga Champions, dirinya menjadi salah satu sosok yang menjadi bulan-bulanan bagi para netizen.

“Saya suka MU sejak 95, di eranya Beckham, Giggs, pokoknya zaman keemasannya itu,” katanya. “Jadi kalau urusan gelar itu, saya itu Sudah eneg,” katanya sambil terkekeh. “Jadi kalau sekarang belum dapat gelar itu ya hitung-hitung sodaqoh lah, kasian sama klub yang baru-baru itu yang belum merasakan. Itu dulu waktu MU jaya itu, City (Manchester City) masih divisi tiga.”

Di bidang seni, Gus Yusuf bersama Tanto Mendut aktif di komunitas lima gunung, sebuah lembaga kolektif yang rutin mengadakan acara kesenian dan kebudayaan di Magelang dan sekitarnya.

Nah, yang paling mencolok tentu saja bidang politik. Gus Yusuf boleh dibilang merupakan salah satu politisi paling moncer di PKB. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua DPW PKB Jawa Tengah.

Dulu oleh almarhum Mbah Dur, Gus Yusuf diajak untuk ikut masuk dalam PKB yang saat itu masih menjadi partai rintisan. Gus Yusuf mengaku bahwa dirinya sangat terinspirasi oleh perjuangan Gus Dur di level politik.

“Saya ini mengamati Gus Dur, dari mulai saat Muktamar Cipasung sampai masa reformasi,” terangnya. “Politik itu salah satu alat perjuangan, kalau dulu orang berjuang, berjihad pakai bambu runcing, nah jihad hari ini itu ya jihad politik. Politik bagi saya ya panggilan, sebab ada banyak hal yang harus diperjuangkan. Kita punya NKRI, kita punya ahlussunnah, yang itu harus kita back-up dengan kekuatan politik.”

Kendati aktif di politik, bahkan menduduki jabatan yang boleh dibilang strategis, Gus Yusuf sadar posisi. Dirinya sampai saat ini sama sekali tidak pernah maju sebagai caleg maupun calon kepala daerah. Padahal dengan posisi struktural dan kultural yang ia punya, tak susah baginya untuk mendapatkan suara.

Hal tersebut ia buktikan saat dirinya menolak ketika ditawari menjadi calon wakil gubernur mendampingi Ganjar Pranowo pada Pilgub Jateng 2018 lalu.

Kendati demikian, ia sangat berharap ada banyak kiai yang bisa masuk parlemen. Hal ini karena ada banyak kepentingan umat yang memang harus diperjuangkan oleh para kiai.

“Parlemen butuh diwarnai oleh kiai-kiai. Harus ada kiai yang terjun di dalam parlemen.”

Obrolan kami berakhi sekitar pukul 1 dini hari. Saat obrolan kami selesai, Gus Yusuf masih harus melayani orang yang antre untuk sowan.

Di sela-sela waktu tersebut, oleh Gus Yusuf, kami diajak untuk melihat studio pribadi miliknya yang berada di salah satu ruangan dalem pesantren.

“Saya ini kalau habis subuh, suka ngantuk, suka nggak bisa kalau harus datang ke radio, jadi ya saya bikin studio sendiri biar bisa siaran di sini. Kadang kalau mau buat konten video juga di sini,” ujarnya sambil menunjukkan studionya yang tak terlalu besar tapi penuh dengan alat-alat produksi video yang canggih dan mahal.

Kami yang datang hanya dengan dua kamera buluk dan peralatan audio seadanya menjadi agak jiper dan minder.

“Wah, Gus, tahu begini, tadi wawancaranya di sini saja,” kata saya.

“Lha kamu tadi nggak bilang,” ujarnya sambil tertawa kecil.

“Hadeeeeeeeeh!”



Tirto.ID
Loading...

No more articles