Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ironi Presiden Macron: Balasan atas Tulisan Nathanael Gratias soal Mengelola Ketersinggungan

Yogo Triwibowo oleh Yogo Triwibowo
2 November 2020
A A
Ironi Presiden Macron: Balasan atas Tulisan Nathanael Gratias soal Mengelola Ketersinggungan

Ironi Presiden Macron: Balasan atas Tulisan Nathanael Gratias soal Mengelola Ketersinggungan

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Saya kagum pada bagaimana kebijakan Presiden Macron soal karikatur Nabi dijabarkan oleh Mas Nathanael, tapi monmaap ada hal yang saya tak setujui.

Halo rekan-rekan Mojokiah, salam kenal.

Iklan

Saya adalah penulis kinyis-kinyis di Mojok, dan di debut pertama ini saya tidak berniat bikin ulah. Perlu saya tegaskan pula bahwa saya tidak ada dendam pribadi dengan sekularisme Perancis, saya hanya tertarik untuk ikut nimbrung pada topik bahasan dari Nathanael Gratias yang dimuat Mojok beberapa waktu lalu.

Kamu bisa baca tulisan itu di sini.

Sebelum mulai berbincang, terlebih dahulu saya ingin membukanya dengan kalimat dari Voltaire,“Aku tak setuju dengan pendapatmu, tapi akan kubela sampai mati hak kamu untuk berpendapat.”

Sekiranya demikianlah konsep kebebasan berpendapat yang dibarengi dengan sikap saling menghargai.

Saya sangat kagum pada bagaimana Nathanael Gratias dengan begitu rinci dan argumentatif menjabarkan dan mencoba untuk menerjemahkan sikap Perancis serta Presiden Macron sebagai seorang pemimpin yang berusaha untuk menunjukkan keberpihakannya, intinya saya sangat menghargai setiap buah pikiran dari Nathanael.

Tetapi, dan “tetapi” ini akan menjadi sangat problematis, argumen yang disampaikan dalam tulisan tersebut cenderung gegabah dan bikin saya tak setuju.

Pertama, saya tidak paham kenapa Nathanael bisa mengerti tindakan Presiden Macron namun sulit untuk mengerti sikap penolakan dari umat Islam terkait penghinaan figur suci tersebut? Apakah sulit untuk melihat bahwa keduanya adalah hal yang sama spektrumnya?

Secara sudut keberpihakan memang beda tetapi secara substantif dua hal itu sama, yaitu manifestasi dari upaya untuk membela prinsip dan keyakinannya masing-masing; baik Perancis maupun Islam.

Kedua, pemenggalan kepala si korban tidak lain dan tidak bukan adalah ekspresi personal dari si remaja.

Jadi cukup ugal-ugalan untuk menyimpulkan bahwa hal itu adalah bentuk alamiah respons umat Islam. Oleh karena itu, saya pikir tidak baik untuk terlalu terburu-buru melakukan generalisasi kalau semua umat Islam mendukung aksi main hakim sendiri itu.

Banyak kok umat Islam yang menyesalkan aksi yang dilakukan oleh si remaja. Jadi alangkah lebih baik kita fokus terhadap substansi mengapa umat Islam banyak yang tersinggung.

Ketiga, dalam tulisan tersebut juga mengatakan bahwa “tindakan ekstrem dari Macron dirasa penting untuk menunjukkan bahwa negara tidak tunduk pada terorisme”. Duh, sekali lagi, ini hal yang cukup membingungkan.

Iklan

Kenapa Presiden Macron berusaha menyampaikan bahwa negara tidak tunduk pada terorisme harus dengan cara memerintahkan gedung pemerintahan menampilkan karikatur yang jadi sumber awal masalah ini?

Apakah kita sudah sampai pada kesimpulan bahwa menyentil ketersinggungan umat Islam itu sama dengan aksi menantang kelompok teroris?

Saya rasa kok kesimpulannya terlalu jauh. Dari cara Presiden Macron dan Pemerintah Perancis itu, mereka seolah-olah tak memisahkan terminologi teroris dan dengan terminologi Islam. Perancis mencampuradukkan Islam dan teroris jadi bagian yang tak terpisahkan.

Selanjutnya, ada analogi yang disampaikan dalam tulisan Mas Nathanael yang cukup menarik. Yakni tentang peledakan bom yang dilakukan oleh jamaah Islamiyah di beberapa gereja yang menewaskan belasan orang beberapa tahun lalu.

Pemerintah Indonesia dan beberapa ormas moderat saat itu mengadvokasi gereja sebagai bentuk penegasan toleransi dan kebinekaan Indonesia. Saya akui itu sikap yang tepat, namun mengaitkan peristiwa itu dengan sikap Presiden Macron? Hm, saya rasa itu kurang pas.

Kenapa?

Karena belum ada alasan yang jelas kenapa Presiden Macron memilih untuk berpihak pada kebebasan berpendapat karikatur Nabi, dan sebaliknya tidak memilih berpihak (atau paling tidak memahami) kenapa banyak umat Islam yang protes? Toh protes dari umat Islam itu bagian dari kebebasan pendapat juga kan?

Jika kita merujuk pada banyak literatur, kata karikatur itu merujuk pada penggambaran suatu objek konkret dengan cara melebih-lebihkan ciri khas objek tersebut. Karikatur berasal dari bahasa Italia caricare yang berarti memberi muatan atau melebih-lebihkan.

Merujuk dari definisi tersebut, maka pihak Perancis mencoba untuk merayakan kebebasan berpendapat dengan menggambarkan Nabi sebagai objek konkrit yang dilebih-lebihkan.

Yang jadi persoalan adalah, sejak kapan mereka tahu dan melihat wujud Nabi sebagai objek konkrit? Dengan begitu karikatur yang mereka klaim itu sebagai wujud Nabi bersifat imajinatif dari pikiran mereka sendiri.

Menjadi persoalan kemudian karena guru di Prancis menggunakan hal yang imajinatif itu sebagai pembelajaran bagi murid-muridnya. Lantas Presiden Macron dan Pemerintah Perancis mengatakan itu sebagai kebebasan berpendapat? Hm.

Setiap orang memang memiliki hak untuk menyatakan pendapat dan buah pikir. Namun, hal itu akan jadi masalah besar apabila yang disampaikan adalah hal yang lemah validitas kebenarannya.

Lah iya dong? Menggambar karikatur Nabi tanpa pernah tahu wujud asli dari Nabi adalah sebuah pembodohan karena melahirkan interpretasikan liar. Dan interpretasi itu tidak hanya bakal jadi kebohongan yang mengerikan tapi juga berbahaya karena justru melegitimasi hoaks. Lebih ngerinya lagi, hoaks itu adalah soal keyakinan orang lain.

Oleh karena itu, sepanjangan umat Islam melayangkan protes dengan cara yang baik seharusnya itu bisa dimengerti dan dipahami. Lagian protes tersebut merupakan dorongan agar Presiden Macron mau—sedikitnya—memahami kenapa banyak umat Islam gemas dengan sikap Pemerintah Perancis akan masalah karikatur Nabi tersebut.

Sayangnya Prancis malah berulang kali bersembunyi pada kampanye kebebasan berpendapat yang kemudian diterjemahkan oleh Nathanael sebagai upaya untuk mempertahankan sekularisme. Sebuah ideologi yang telah diperjuangkan dengan susah payah dan berdarah-darah

Hal kayak gitu justru menandakan Presiden Macron, Pemerintah Perancis, dan—mungkin juga—Mas Nathanael Gratias tidak paham betul apa yang sebenarnya sedang diprotes oleh umat Islam di berbagai belahan dunia soal kasus ini.

Bahwa dalam bentuk apapun (sekalipun sebagai wujud penghormatan) memvisualisasikan Nabi itu terlarang di agama Islam. Lebih-lebih kalau digambar sebagai bahan olok-olokan oleh pihak yang—jangankan tahu wajah Nabi—membaca riwayat hadisnya saja belum pernah.

Sebentar, sebentar, kenapa bisa memicu kemarahan?

Berbeda dengan agama lain, dalam Islam segala macam perilaku Nabi (perkataan, perbuatan, dan persetujuan) itu adalah salah satu sumber primer ajaran dalam agama. Jangankan ucapan Nabi, bahkan gestur Nabi yang tak disengaja sekalipun terangkum semua dalam riwayat yang jadi panduan dalam ajaran Islam.

Artinya, dengan mengarang perilaku Nabi (pakai media karikatur lagi), itu sama saja menambah-nambahi ajaran agama Islam tanpa dasar. Masalahnya, di poin inilah banyak orang salah mengerti atau tidak mau mengerti.

Tapi apa boleh bikin, pilihan mau mengerti atau tidak itu kan juga termasuk kebebasan berpikir dan berpendapat. Jadi ya, monggo-monggo saja buat mereka yang tak mau menghargai keyakinan model begini.

Meski begitu, saya tetap ingin sampaikan terima kasih atas buah pikiran Mas Nathanael Gratias yang sukses memancing saya menulis ini. Tentu saja terima kasih ini tulus, sebagaimana Voltaire habis-habisan membela kebebasan pendapat orang lain yang berseberangan.

Salam kenal Mas Natahanel. Kapan-kapan kalau sampean mau minum wine di hari Minggu saya diajak ya? Cuma ya itu, saya pesennya kopi aja. Hehe.

BACA JUGA Emosi atas Karikatur Nabi Muhammad Bukan Bikin Kamu Berhak Penggal Kepala Orang Dong.

Terakhir diperbarui pada 2 November 2020 oleh

Tags: hadisIslamkarikatur nabiPerancispresiden macron
Yogo Triwibowo

Yogo Triwibowo

Mahasiswa. Domisili di Karangasem, Laweyan, Solo.

Artikel Terkait

Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO
Esai

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO
Esai

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
Dinamika Politik di Masjid Istiqlal dan Fenomena Muslim Tanpa Masjid
Video

Dinamika Politik di Masjid Istiqlal dan Fenomena Muslim Tanpa Masjid

30 Maret 2025
Dakwah Kreatif ala Miko Cakcoy Lewat Wayang, Jembatani Tradisi dan Agama di Era Modern
Video

Dakwah Kreatif ala Miko Cakcoy Lewat Wayang, Jembatani Tradisi dan Agama di Era Modern

15 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Punya teman si paling cashless yang sama sekali tidak pegang uang tunai (cash) merepotkan. Karena tidak semua hal bisa dibayar pakai QRIS MOJOK.CO

Teman Si Paling Cashless Pemuja QRIS bikin Repot Kita yang Sedia Tunai, Kepraktisan Semu di Balik Tren Dompet Kosong

24 Juli 2026
Pengeroyokan di Bali tidak dibenarkan. MOJOK.CO

Pakar Hukum Pidana: Pelaku Pengeroyokan di Bali Bisa Kena KUHAP, sementara Keluarga Korban Terlanjur Alami Trauma

27 Juli 2026
Peserta Pekan Budaya Difabel di Jogja. MOJOK.CO

Pekan Budaya Difabel 2026: Saat Anak-anak Terbebas dari Stigma lewat Seni dan Terapi di Ruang Inklusif

29 Juli 2026
Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

SRAK 2026-2036 Resmi Disusun, Komitmen Lintas Sektor Selamatkan Elang Jawa dari Kepunahan

27 Juli 2026
KAI Daop 6 Bagikan 80 Paket Makanan kepada Penumpang Anak di Stasiun Yogyakarta MOJOK.CO

KAI Daop 6 Bagikan 80 Paket Makanan kepada Penumpang Anak di Stasiun Yogyakarta

23 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.