MOJOK.COSaya kagum pada bagaimana kebijakan Presiden Macron soal karikatur Nabi dijabarkan oleh Mas Nathanael, tapi monmaap ada hal yang saya tak setujui.

Halo rekan-rekan Mojokiah, salam kenal.

Saya adalah penulis kinyis-kinyis di Mojok, dan di debut pertama ini saya tidak berniat bikin ulah. Perlu saya tegaskan pula bahwa saya tidak ada dendam pribadi dengan sekularisme Perancis, saya hanya tertarik untuk ikut nimbrung pada topik bahasan dari Nathanael Gratias yang dimuat Mojok beberapa waktu lalu.

Kamu bisa baca tulisan itu di sini.

Sebelum mulai berbincang, terlebih dahulu saya ingin membukanya dengan kalimat dari Voltaire,“Aku tak setuju dengan pendapatmu, tapi akan kubela sampai mati hak kamu untuk berpendapat.

Sekiranya demikianlah konsep kebebasan berpendapat yang dibarengi dengan sikap saling menghargai.

Saya sangat kagum pada bagaimana Nathanael Gratias dengan begitu rinci dan argumentatif menjabarkan dan mencoba untuk menerjemahkan sikap Perancis serta Presiden Macron sebagai seorang pemimpin yang berusaha untuk menunjukkan keberpihakannya, intinya saya sangat menghargai setiap buah pikiran dari Nathanael.

Tetapi, dan “tetapi” ini akan menjadi sangat problematis, argumen yang disampaikan dalam tulisan tersebut cenderung gegabah dan bikin saya tak setuju.

Pertama, saya tidak paham kenapa Nathanael bisa mengerti tindakan Presiden Macron namun sulit untuk mengerti sikap penolakan dari umat Islam terkait penghinaan figur suci tersebut? Apakah sulit untuk melihat bahwa keduanya adalah hal yang sama spektrumnya?

Secara sudut keberpihakan memang beda tetapi secara substantif dua hal itu sama, yaitu manifestasi dari upaya untuk membela prinsip dan keyakinannya masing-masing; baik Perancis maupun Islam.

Kedua, pemenggalan kepala si korban tidak lain dan tidak bukan adalah ekspresi personal dari si remaja.

Jadi cukup ugal-ugalan untuk menyimpulkan bahwa hal itu adalah bentuk alamiah respons umat Islam. Oleh karena itu, saya pikir tidak baik untuk terlalu terburu-buru melakukan generalisasi kalau semua umat Islam mendukung aksi main hakim sendiri itu.

Baca juga:  Terima Kasih, Muzammil!

Banyak kok umat Islam yang menyesalkan aksi yang dilakukan oleh si remaja. Jadi alangkah lebih baik kita fokus terhadap substansi mengapa umat Islam banyak yang tersinggung.

Ketiga, dalam tulisan tersebut juga mengatakan bahwa “tindakan ekstrem dari Macron dirasa penting untuk menunjukkan bahwa negara tidak tunduk pada terorisme”. Duh, sekali lagi, ini hal yang cukup membingungkan.

Kenapa Presiden Macron berusaha menyampaikan bahwa negara tidak tunduk pada terorisme harus dengan cara memerintahkan gedung pemerintahan menampilkan karikatur yang jadi sumber awal masalah ini?

Apakah kita sudah sampai pada kesimpulan bahwa menyentil ketersinggungan umat Islam itu sama dengan aksi menantang kelompok teroris?

Saya rasa kok kesimpulannya terlalu jauh. Dari cara Presiden Macron dan Pemerintah Perancis itu, mereka seolah-olah tak memisahkan terminologi teroris dan dengan terminologi Islam. Perancis mencampuradukkan Islam dan teroris jadi bagian yang tak terpisahkan.

Selanjutnya, ada analogi yang disampaikan dalam tulisan Mas Nathanael yang cukup menarik. Yakni tentang peledakan bom yang dilakukan oleh jamaah Islamiyah di beberapa gereja yang menewaskan belasan orang beberapa tahun lalu.

Pemerintah Indonesia dan beberapa ormas moderat saat itu mengadvokasi gereja sebagai bentuk penegasan toleransi dan kebinekaan Indonesia. Saya akui itu sikap yang tepat, namun mengaitkan peristiwa itu dengan sikap Presiden Macron? Hm, saya rasa itu kurang pas.

Kenapa?

Karena belum ada alasan yang jelas kenapa Presiden Macron memilih untuk berpihak pada kebebasan berpendapat karikatur Nabi, dan sebaliknya tidak memilih berpihak (atau paling tidak memahami) kenapa banyak umat Islam yang protes? Toh protes dari umat Islam itu bagian dari kebebasan pendapat juga kan?

Baca juga:  6 Penulis Nonmuslim Bernama Arab yang Terkenal di Indonesia

Jika kita merujuk pada banyak literatur, kata karikatur itu merujuk pada penggambaran suatu objek konkret dengan cara melebih-lebihkan ciri khas objek tersebut. Karikatur berasal dari bahasa Italia caricare yang berarti memberi muatan atau melebih-lebihkan.

Merujuk dari definisi tersebut, maka pihak Perancis mencoba untuk merayakan kebebasan berpendapat dengan menggambarkan Nabi sebagai objek konkrit yang dilebih-lebihkan.

Yang jadi persoalan adalah, sejak kapan mereka tahu dan melihat wujud Nabi sebagai objek konkrit? Dengan begitu karikatur yang mereka klaim itu sebagai wujud Nabi bersifat imajinatif dari pikiran mereka sendiri.

Menjadi persoalan kemudian karena guru di Prancis menggunakan hal yang imajinatif itu sebagai pembelajaran bagi murid-muridnya. Lantas Presiden Macron dan Pemerintah Perancis mengatakan itu sebagai kebebasan berpendapat? Hm.

Setiap orang memang memiliki hak untuk menyatakan pendapat dan buah pikir. Namun, hal itu akan jadi masalah besar apabila yang disampaikan adalah hal yang lemah validitas kebenarannya.

Lah iya dong? Menggambar karikatur Nabi tanpa pernah tahu wujud asli dari Nabi adalah sebuah pembodohan karena melahirkan interpretasikan liar. Dan interpretasi itu tidak hanya bakal jadi kebohongan yang mengerikan tapi juga berbahaya karena justru melegitimasi hoaks. Lebih ngerinya lagi, hoaks itu adalah soal keyakinan orang lain.

Oleh karena itu, sepanjangan umat Islam melayangkan protes dengan cara yang baik seharusnya itu bisa dimengerti dan dipahami. Lagian protes tersebut merupakan dorongan agar Presiden Macron mau—sedikitnya—memahami kenapa banyak umat Islam gemas dengan sikap Pemerintah Perancis akan masalah karikatur Nabi tersebut.

Sayangnya Prancis malah berulang kali bersembunyi pada kampanye kebebasan berpendapat yang kemudian diterjemahkan oleh Nathanael sebagai upaya untuk mempertahankan sekularisme. Sebuah ideologi yang telah diperjuangkan dengan susah payah dan berdarah-darah

Baca juga:  Kisah Getir Keluarga Si Doel Anak Sekolahan Jika Ditonton Sekarang

Hal kayak gitu justru menandakan Presiden Macron, Pemerintah Perancis, dan—mungkin juga—Mas Nathanael Gratias tidak paham betul apa yang sebenarnya sedang diprotes oleh umat Islam di berbagai belahan dunia soal kasus ini.

Bahwa dalam bentuk apapun (sekalipun sebagai wujud penghormatan) memvisualisasikan Nabi itu terlarang di agama Islam. Lebih-lebih kalau digambar sebagai bahan olok-olokan oleh pihak yang—jangankan tahu wajah Nabi—membaca riwayat hadisnya saja belum pernah.

Sebentar, sebentar, kenapa bisa memicu kemarahan?

Berbeda dengan agama lain, dalam Islam segala macam perilaku Nabi (perkataan, perbuatan, dan persetujuan) itu adalah salah satu sumber primer ajaran dalam agama. Jangankan ucapan Nabi, bahkan gestur Nabi yang tak disengaja sekalipun terangkum semua dalam riwayat yang jadi panduan dalam ajaran Islam.

Artinya, dengan mengarang perilaku Nabi (pakai media karikatur lagi), itu sama saja menambah-nambahi ajaran agama Islam tanpa dasar. Masalahnya, di poin inilah banyak orang salah mengerti atau tidak mau mengerti.

Tapi apa boleh bikin, pilihan mau mengerti atau tidak itu kan juga termasuk kebebasan berpikir dan berpendapat. Jadi ya, monggo-monggo saja buat mereka yang tak mau menghargai keyakinan model begini.

Meski begitu, saya tetap ingin sampaikan terima kasih atas buah pikiran Mas Nathanael Gratias yang sukses memancing saya menulis ini. Tentu saja terima kasih ini tulus, sebagaimana Voltaire habis-habisan membela kebebasan pendapat orang lain yang berseberangan.

Salam kenal Mas Natahanel. Kapan-kapan kalau sampean mau minum wine di hari Minggu saya diajak ya? Cuma ya itu, saya pesennya kopi aja. Hehe.

BACA JUGA Emosi atas Karikatur Nabi Muhammad Bukan Bikin Kamu Berhak Penggal Kepala Orang Dong.