_atrk_opts = { atrk_acct:"3c3Os1rcy520uW", domain:"mojok.co",dynamic: true}; (function() { var as = document.createElement('script'); as.type = 'text/javascript'; as.async = true; as.src = "https://certify-js.alexametrics.com/atrk.js"; var s = document.getElementsByTagName('script')[0];s.parentNode.insertBefore(as, s); })();
Rubrik: Balbalan

Mesut Ozil Merasa Terzalimi, Toni Kroos Anggap Itu Omong Kosong

/yms/balbalan/mesut-ozil-terzalimi-toni-kroos-anggap-omong-kosong/amp/

MOJOK.COMesut Ozil “pensiun” dari timnas Jerman setelah merasa mendapat serangan rasis. Toni Kroos angkat bicara, membantah pernyataan dari mantan rekannya itu.

Salah satu isu terbesar setelah Piala Dunia 2018 selesai adalah Mesut Ozil yang “pensiun dini” dari timnas Jerman. Bukan “pensiun”-nya yang menjadi masalah, tetapi proses yang terjadi. Pemain milik Arsenal tersebut merasa disakiti, dizalimi oleh DFB (PSSI-nya Jerman) dan beberapa rakyat Jerman itu sendiri.

Masalah tersebut berawal ketika timnas Jerman bermain begitu buruk di Piala Dunia 2018. Sang juara bertahan bahkan tidak mampu lolos dari putaran grup. Jerman mengakhiri Piala Dunia mereka dengan duduk di peringkat ketiga putaran grup. Sayangnya, ketika catatan yang buruk muncul, seorang kambing hitam harus selalu ada. Mesut Ozil ketiban pulung, menjadi pemain yang dicaci dan dimaki.

Masalah semakin panas ketika sebelum Piala Dunia, Mesut Ozil Ilkay Gundogan, dan Cenk Tosun berpose dengan Presiden Turki, Recep Tayip Erdogan. Foto tersebut dianggap sebagai alat kampanye Erdogan dalam usahanya melanjutkan pemerintahan selama 15 tahun di Turki. Ada setidaknya 1,2 juta orang keturunan Turki di Jerman yang bisa memberikan suaranya ketika pemilu. Masalah kedua adalah hubungan Turki dan Jerman sedang memanas selama satu tahun setelah penahanan jurnalis berdarah Turki-Jerman, Deniz Yücel yang akhirnya sudah dibebaskan.

Sudah dianggap bermain buruk, meskipun anggapan ini tidak sepenuhnya benar, Juru Bicara Kanselir Jerman, Steffen Seibert, berkomentar bahwa foto tersebut “menimbulkan banyak pertanyaan dan melahirkan kesalahpahaman”. Senada dengan Steffen Seibert, Ketua PSSI-nya Jerman, Reinhard Grindel menegaskan bahwa foto tersebut sungguh tidak layak.

Alhasil, Mesut Ozil diserang banyak pihak. Akar budaya Turki yang sangat kuat dalam diri Ozil menjadi salah satu bahan serangan bernada rasisme. Setelah mempertimbangkan banyak hal, pada akhirnya Mesut Ozil memutuskan untuk mundur dari timnas Jerman lewat sebuah surat terbuka yang menyayat hati.

Setelah masalah Mesut Ozil dan timnas Jerman (beserta beberapa rakyat Jerman) mereda, Toni Kroos, rekan Ozil di timnas angkat bicara. Gelandang milik Real Madrid tersebut menyanggah anggapan Ozil yang menyebut bahwa sudah terjadi serangan rasial dari DFB. Kross bahkan menyebut pernyataan Ozil sebagai “omong kosong”.

“Pada dasarnya, Mesut layak mendapatkan perpisahan yang layak. Beberapa bagian dari pernyataan Ozil yang sudah ditulis dengan baik itu, sayangnya, tertutup oleh omong kosong. Saya rasa, dia tahu betul kalau di timnas dan DFB sendiri tidak ada yang namanya serangan rasis,” tegas Toni Kroos kepada Bild.

Sungguh menarik menyimak penekanan kata “omong kosong” dari Toni Kroos. Sebagai warga Jerman asli, bukan keturunan, Kroos tentu tidak nyaman apabila ada rekannya menyebut latar belakangnya diserang. Apalagi, lewat nama Mesut Ozil yang punya exposure tinggi, nama baik Jerman juga sempat tercoreng karena masalah ini.

Nasi sudah menjadi bubur, kopi itu sudah dingin. Masalah serangan rasis memang tidak sepantasnya diberi ruang, diberi pemakluman di dunia sepak bola. Tendang jauh-jauh soal rasisme itu. Seperti kata Fajar Junaedi, peneliti dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), sepak bola bukan perayaan kematian. Mari rayakan dengan suka cita dan cinta kasih saja.

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Leave a Comment