_atrk_opts = { atrk_acct:"3c3Os1rcy520uW", domain:"mojok.co",dynamic: true}; (function() { var as = document.createElement('script'); as.type = 'text/javascript'; as.async = true; as.src = "https://certify-js.alexametrics.com/atrk.js"; var s = document.getElementsByTagName('script')[0];s.parentNode.insertBefore(as, s); })();
Rubrik: Balbalan

Benzema Menggangap Dirinya Mobil F1, tapi Giroud yang Gokart Menang Piala Dunia

/yms/balbalan/benzema-menggangap-dirinya-mobil-f1-tapi-giroud-yang-gokart-menang-piala-dunia/amp/

MOJOK.COKetika Karim Benzema memilih meledek Olivier Giroud, kita sadar kalau pilihan Didier Deschamp di timnas Prancis dan Piala Dunia 2018 sudah tepat.

Pesepak bola yang selalu berusaha menggapai puncak tertinggi memang harus punya dua hal. Pertama, ambisi yang besar dan kuat. Kedua, mental. Namun, terkadang, atribut ambisi dan mental itu berubah menjadi ego ketika tidak ada kedewasaan di sana. Seorang pemain menjadi semacam pecundang saja. Seperti itulah Karim Benzema.

Benzema, salah satu striker terbaik Prancis itu baru saja meledek Olivier Giroud. Benzema menganggap dirinya seperti mobil F1. Sementara itu, di mana Benzema, Giroud hanya sebatas mobil gokart saja. Namun, perlu diingat, mobil gokart itu mengubah performa Prancis di Piala Dunia untuk kemudian memenanginya.

Piala Dunia bukan balapan dengan trek lurus di mana mobil F1 akan unggul. Piala Dunia adalah turnamen penuh liku dengan intensitas tinggi. Mobil gokart, yang jago menikung dan beradaptasi, justru akan “lebih berguna”.

Gini, ya. Saya tidak bilang kalau Benzema adalah striker yang buruk secara kualitas di atas lapangan. Menurut saya, mantan striker Lyon itu adalah sedikit dari striker cerdas yang ada saat ini. Dia mampu beradaptasi dengan perkembangan Cristiano Ronaldo di Real Madrid.

Ronaldo berubah menjadi seorang poacher, atau penyerang yang banyak beredar di dalam kotak penalti, di akhir kariernya bersama Madrid. Kecerdasan Benzema membuatnya sukses beradaptasi. Dia jago membuka ruang, bergerak ke sisi kiri untuk bertukar posisi dengan Ronaldo. Selain membuat gol, Benz jago menciptakan peluang.

Tidak banyak striker yang bisa mendekati level Roberto Firmino sebagai false 9. Menurut saya, Benzema adalah salah satunya. Namun, perlu kamu ketahui juga, pesepak bola profesional adalah mereka yang juga bisa meredam ego, menekan sisi kekanak-kanakan, dan menjaga mulutnya. Tiga hal inilah yang membuat Benzema tidak pernah lagi dipanggil Raymond Domenech lalu Didier Deschamps, pelatih timnas Prancis.

Giroud: tak bikin gol, tapi “dibutuhkan”

Nama Olivier Giroud ini memang anomali. Banyak fans yang membencinya karena ketika striker lain butuh 5 peluang untuk 1 gol, Giroud akan butuh 10 peluang. Pada titik tertentu, tidak salah kalau menganggap striker Chelsea ini sangat tidak efektif. Itu di mata fans. Namun, di mata pelatih dan sepak bola modern, kegunaan striker tidak lagi soal bikin gol.

Siapa, sih, yang tidak berimajinasi membayangkan trio Benzema, Antoine Griezmann, dan Kylian Mbappe? Lini depan yang cair, pertukaran posisi yang dinamis, dan semuanya striker tajam. Namun, kata “dinamis” itu ternyata tidak terlalu berguna di Piala Dunia. Sebuah tim lebih butuh keseimbangan dan konsisten di sebuah kompetisi pendek tapi sangat intens seperti Piala Dunia.

Silakan lihat lagi laga Prancis vs Australia di Piala Dunia 2018. Bermain dengan tiga penyerang super kreatif: Mbappe, Griezmann, dan Ousmane Dembele, Prancis justru kesulitan untuk masuk ke kotak penalti.

Tim Ayam Jantan menjadi satu dimensi saja, yaitu bermain sebanyak mungkin di sisi lapangan untuk mengeksploitasi kecepatan trio penyerangnya. Lini tengah yang kalah jumlah, tidak kreatif, dan dua bek sayap yang tidak agresif ikut membantu serangan membuat Prancis tak punya banyak opsi ketika mencapai sepertiga akhir lapangan.

Adaptasi dilakukan Didier Deschamps, pelatih Prancis, dengan memasukkan Giroud untuk menggantikan Dembele. Prancis mengandalkan kemampuan Giroud untuk menjadi pemantul umpan satu-dua sentuhan. Keberadaanya menambah variasi Prancis di sepertiga akhir. Meski dua bek sayap mereka masih terlihat canggung, Prancis menjadi lebih baik ketika memanfaatkan sisi lapangan.

Benjamin Pavard (bek kanan) dan Lucas Hernandez (bek kiri) sebetulnya bukan pilihan pertama Deschamps. Untuk sisi kiri, Prancis punya Benjamin Mendy yang lebih seimbang; agresif ketika menyerang dan tangguh ketika bertahan. Untuk sisi kanan, Prancis memang tak punya banyak pilihan. Sempat tampil biasa-biasa saja di babak putaran grup, Pavard dan Lucas memperbaiki diri di babak 16 besar ketika menghadapi Argentina.

Performa pemain menjadi lebih bagus tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang disebut niat, semangat, atau determinasi. Perbaikan performa juga dipicu oleh perubahan cara bermain tim itu sendiri.

Deschamps menitikberatkan cara bermain Prancis kepada keseimbangan. Mereka lebih disiplin sejak lini pertama, dan efisien ketika naik menyerang. Penggunaan tiga gelandang dengan modifikasi peran Blaise Matuidi (atau Corentin Tolisso) membuat lini tengah lebih seimbang dan Paul Pogba bisa bermain lebih ke depan.

Griezmann tidak lagi terpaku sebagai penyerang tengah (seperti ketika melawan Australia) berkat keberadaan Giroud. Mbappe menjadi kanal serangan di sisi kanan, dibantu Pavard, Griezmann, dan Giroud. Oleh sebab itu, Mbappe tak lagi terisolasi ketika menguasai bola seperti ketika melawan Australia.

Mendapat banyak opsi umpan, lawan tak bisa gegabah menekan Mbappe dengan jumlah pemain lebih banyak. Alhasil, Mbappe mendapatkan lebih banyak ruang untuk berakselerasi. Bermain lebih bebas, baik Griezmann dan Mbappe menjadi protagonis Prancis di babak sistem gugur. Perubahan cara bermain, sebuah usaha untuk menutup kekurangan tim, berbuah manis. Prancis menjadi sangat tangguh di paruh akhir Piala Dunia.

Ini memang bukan perbandingan apple to apple, Benzema dan Dembele (pemain yang digantikan Giroud). Bisa saja Prancis bermain sangat baik dengan trio Benzema, Griezmann, dan Mbappe. Namun, yang ingin saya tegaskan adalah Giroud itu “dibutuhkan” untuk mengubah cara bermain. Dia tidak bikin gol sepanjang turnamen. Namun, keberadaannya mengubah performa tim secara keseluruhan.

Pelatih, pada titik tertentu, akan lebih “membutuhkan” pemain yang bisa memperbaiki tim secara utuh, ketimbang cuma mengubah peruntungan di lini depan. Tentu saja, si pemain bukan hanya “jago” di atas lapangan, tapi punya attitude yang baik. Ketika Benzema meledek Giroud seperti mobil gokart, kita tahu kalau Deschamps sudah mengamil keputusan yang benar.

Sekali lagi, saya tidak ada bilang Benzema striker yang jelek. Di La Liga, dia cukup konsisten. Namun, karena rasa sakit hati gagal masuk timnas membuatnya gelap mata. Ingat, kualitas pemain tidak akan diukur dari catatan statistik di atas lapangan saja. Harmonisasi ruang ganti, kemampuan meredam ego, dan niat berkorban itu lebih dibutuhkan.

W untuk Giroud. Benzema, take the L.

BACA JUGA Kisruh Real Madrid dan Gareth Bale: Ketika Orang Mabuk Angka atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Leave a Comment