Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Buku

Yang Menguar di Gang Mawar: 11 Cerita tentang Waras dan Gila

Lindu Ariansyah oleh Lindu Ariansyah
7 November 2021
A A
Yang Menguar di Gang Mawar_ 11 Cerita Tentang Waras dan Gila terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Judul: Yang Menguar di Gang Mawar
Penulis: Astri Pratiwi Wulandari
Penerbit: Buku Mojok
Tebal: 104 halaman
Harga: Rp58.000
Tahun Terbit: 2021

Entah kenapa setiap mendengar kata “mawar” saya langsung teringat akan Juliet Capulet. Kutipan kekasih Romeo Montague dalam cerita karya William Shakespeare yang masyhur itu menancap dalam benak saya dan menjadi saklar otomatis terhadap kata “mawar”.

Tentang nama yang menjadi beban yang menghalangi terjalinnya tali kasih sejoli tersebut. Bahwa mawar tetaplah mawar sekalipun kau menyebutnya dengan nama lain. Namun, agaknya persepsi tersebut menjadi sedikit ruai setelah saya membaca buku Yang Menguar di Gang Mawar karya Asri Pratiwi Wulandari.

Dalam buku setebal 104 halaman ini, Mawar bukan sekadar nama bunga. Bukan juga sekadar nama gang seperti yang terdapat pada judul buku. Lebih dari itu, mawar adalah representasi segala macam nifak, masygul, dan sengsara.

Mawar menjelma banyak hal. Dari mulai nama seorang anak kecil yang gemar menari, tanaman yang tumbuh dari bangkai kecoak yang dikubur, hingga gadis seukuran ibu jari yang ditemukan di salah satu pucuk bunga mawar.

Sebelum membuka halaman demi halaman ceritanya, kita sudah ditantang oleh penulisnya untuk menerka isi buku melalui judulnya. Apa sebenarnya “Yang Menguar di Gang Mawar” itu?

Kemudian perlahan kita akan bertemu dengan setiap cerita yang akan membuat kita seperti ingin menggeleng menolak, namun mau tidak mau justru mengamini ironi tersebut.

Sebelas cerita dalam buku ini kental mempertanyakan kewarasan kita. Menohok kesadaran sekaligus mengolok kenaifan kita yang mengira bahwa, “Ya beginilah hidup. Memang sudah begitu adanya, ya sudah.”

Baca Juga:

Mindfulness Parenting Mengajari Saya untuk Tidak Menurunkan Trauma kepada Anak Masa Depan Saya

Kabar Buruk Hari Ini: Perjalanan Seorang Mawa Kresna Selama Menjadi Jurnalis

Kisah tentang anak perempuan periang yang tidak pernah kita tahu bahwa ia ternyata menyimpan luka batin yang menganga di balik keceriaannya menari ke sana kemari seolah-olah membuat kita mempertanyakan kenormalan di sekitar kita. Benarkah gadis kecil itu sungguh-sungguh menari gembira atau hanya sedang mengalihkan silu hatinya?

Selain itu, kritik tentang kegaliban supremasi kaum Adam juga tersurat di sini. Ihwal male gaze yang telah merasuk dalam sendi-sendi kehidupan paling privat sekalipun. Melahirkan anomali-anomali yang perlu dipertanyakan kelahirannya.

Fenomena sastra wangi, misalnya. Penyematan tajuk “sastra wangi” sepertinya tidak perlu-perlu amat jika saja kita menormalisasi perempuan yang menulis. Adanya sebutan “sastra wangi” justru dapat berpotensi memicu menebalnya nuansa dominasi laki-laki alih-alih sebagai ungkapan yang representatif.

Juga tentang maskulinitas yang arbitrer alih-alih akomodatif. Hierarki dalam pernikahan seharusnya dapat menyusun terjalinnya komunikasi dua arah yang demokratis namun tentunya hal tersebut dapat tercapai kalau saja pasutri mau untuk saling toleran dan fleksibel secara fungsional.

Kita juga dipaksa mengaku bahwa masing-masing kita—atau paling tidak—memiliki secuil jiwa munafik dalam diri. Ya, tidak semua dari kita beruntung terlahir dari keluarga yang “sehat” dan tulus. Orang-orang terdekat kita bisa jadi adalah orang paling berbahaya yang terlambat kita sadari. Kesadaran yang terhambat oleh rasa percaya yang terpatri yang digoyahkan oleh keingkaran yang menjejal.

Kemudian diam-diam kita menyumpah-serapahi dan berujung pada perasaan paradoksikal yang jemu tak keruan.

Bahaya tersebut membuat kita jadi waspada. Namun di satu sisi, kewaspadaan kita justru membuat kita cenderung bersikap apriori. Lantas membenarkan sikap tersebut sebagai reaksi defensif alih-alih bersaksi.

Sebaliknya, kita sering mengaku telah bersikap adil meski jelas-jelas bertindak subjektif. Main aman biar hidup nyaman dan tenteram. Selalu setuju dengan semua orang yang kita sayang. Serta mementingkan diri dan keluarga sendiri. Tetapi, bukankah itu yang menyusun oligarki?

Kita disuguhi berbagai dilematika yang dekat dengan realitas di sekitar kita. Ironi-ironi dalam cerita ini seakan ingin membuat kita gila dan waras sekaligus. Kita seperti dibimbing untuk menjadi bimbang. Membuat kita mempertanyakan lagi tentang apa sejatinya yang gila dan waras itu sebenarnya.

Terlepas dari konteks alur cerita, saya amat menyukai kalimat-kalimat majas yang ada dalam buku ini. Kaya, namun tidak eksesif. Familier, tapi segar. Kalimat-kalimat deskriptifnya tidak terus terang. Cenderung implisit, tetapi menawan. Seperti sengaja berlagak enggan mengatakan tentang sesuatu hal, namun justru keengganan itulah yang membuat pembaca mengerti bahwa penulis sedang membicarakan tentang sesuatu hal tersebut.

Mawar yang sebenarnya merupakan bunga yang pada umumnya identik dengan ekspresi cinta juga kian tergoyahkan secara maknawi. Kata “mawar” dijungkirbalikkan sedemikian rupa seakan-akan telah menjelma menjadi kosakata tersendiri yang berkeliaran menimpa setiap halaman, berlari menjauhi kekangan definitif.

Begitu pun dengan cinta. Kata “cinta” seakan-akan adalah term anyar yang perlu kajian dan revisi sana sini sebelum resmi menjadi anasir bahasa.

Apakah cinta adalah sekadar dorongan biologis? Hasrat untuk saling memiliki? Bentuk kesempurnaan? Atau keseluruhan hal tersebut?

Apa pun itu, biarlah definisi cinta tetap meliar seperti liar mawar. Sehingga ingkar dan ikrar bisa bebas bertukar sukar. Tetapi barangkali, cinta adalah lahar yang kahar. Memancar suar dalam gelegar yang menyamar. Dan Mawar adalah uar dari kelakar yang mengakar ganar dan tampar yang membakar nalar.

Sumber Gambar: Buku Mojok

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 November 2021 oleh

Tags: Buku Mojokresensi bukuYang Menguar di Gang Mawar
Lindu Ariansyah

Lindu Ariansyah

Membawa bisingnya Jakarta di dalam darah, namun meninggalkan potongan hati yang retak di sudut Magelang. Seorang pengembara rasa yang kini merangkai kembali maknanya lewat kata-kata.

ArtikelTerkait

3... 2... 1... Action! Membaca Perspektif Mantan Kru TV tentang Dunia TV terminal mojok.co

3… 2… 1… Action! Membaca Perspektif Mantan Kru TV tentang Dunia TV

1 Februari 2022
Parade yang Tak Pernah Usai Teriakan dari Mereka yang Dipinggirkan Terminal Mojok

Parade yang Tak Pernah Usai: Teriakan dari Mereka yang Dipinggirkan

7 Juni 2022
Bearish dan Bullish, Novel Bisnis Digital dengan Genre Misteri Terminal Mojok

Bearish dan Bullish, Novel Unik Gabungkan Tema Bisnis Digital dan Genre Misteri

1 Oktober 2022
Deep Talk After Sex: Seni Merawat Keintiman Bersama Pasangan

Deep Talk After Sex: Seni Merawat Keintiman Bersama Pasangan

15 Juli 2023
Melawan Nafsu Merusak Bumi : Menggali Makna Ekologis dari Ayat Al-Qur'an dan Hadis

Melawan Nafsu Merusak Bumi: Menggali Makna Ekologis dari Ayat Al-Qur’an dan Hadis

3 Juli 2022
Cinta Bisa Menipis dan Rasa Sayang Bisa Habis Sebuah Kisah tentang Sepak Bola, Dedikasi, dan Fanatisme Terminal Mojok

Cinta Bisa Menipis dan Rasa Sayang Bisa Habis: Sebuah Kisah tentang Sepak Bola, Dedikasi, dan Fanatisme

15 Juni 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

19 Februari 2026
Imlek 2026 Kenangan Simbah Mensyukuri Dodol sebagai Rezeki (Wikimedia Commons)

Imlek 2026 Menjadi Kenangan Manis akan Usaha Simbah Menurunkan Kasta Dodol sebagai Upaya Berterima Kasih kepada Rezeki

17 Februari 2026
3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain Mojok.co

3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain

21 Februari 2026
Bakpia Kukus Kuliner Jogja yang Palsu dan Cuma Numpang Tenar (Unsplashj)

Dear Wisatawan, Jangan Bangga Berhasil Membawa Oleh-oleh Bakpia Kukus, Itu Cuma Bolu Menyaru Kuliner Jogja yang Salah Branding

21 Februari 2026
Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar Mojok.co

Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar

21 Februari 2026
Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada Mojok.co

Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada

21 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti
  • WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!
  • 3 Dosa Indomaret yang Membuat Pembeli Kecewa Serta Tak Berdaya, tapi Tak Bisa Berbuat Apa-apa karena Terpaksa
  • Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang
  • Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa
  • Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.