Salah satu stasiun yang paling sering saya kunjungi adalah Stasiun Pasar Turi Surabaya. Berbeda dengan Jogja yang mempunyai dua stasiun untuk membedakan jenis layanan kereta, Surabaya memiliki dua stasiun berdasarkan jalur perjalanan.
Kereta yang melintasi jalur pantura berangkat dan berhenti di Stasiun Pasar Turi, sedangkan jalur selatan lewatnya Gubeng.
Selama itu pula, stasiun ini rasanya bukan stasiun sembarangan. Ia malah seperti wahana ujian mental, baik buat pendatang maupun yang sudah sering darang.
Uang tambahan ketika naik taksi online
Dulu, taksi online nggak boleh menjemput di depan lobi atau pintu masuk Stasiun Pasar Turi Surabaya. Makanya saya harus jalan sampai ke zona aman, yaitu di SPBU Jalan Semarang sebagai titik jemput.
Eh, sudah di zona aman saja masih ada oknum akamsi yang minta duit ke driver taksi online. Jelas, si sopir nggak mau rugi. Makanya, dia membebankan “biaya akamsi” itu ke saya.
Baru sampai ke Surabaya untuk kali pertama, udah kena ujian mental. Memang keras kehidupan di sini.
Gocar Instant menolak saya ketika sampai di Stasiun Pasar Turi Surabaya
Suatu malam saya sampai di Stasiun Pasar Turi Surabaya untuk mengantar mertua yang akan naik pesawat ke NTT. Setelah keluar dari stasiun, saya langsung memesan Gocar di stand Gocar Instant.
Driver gocar pertama menolak karena kami membawa koper terlalu besar. Driver kedua juga menolak dengan alasan dari Stasiun Pasar Turi Surabaya ke Bandara Juanda terlalu jauh. Dengan sabar petugas di stand Gocar Instant membantu kami hingga mendapatkan driver yang mau membawa.
Saking kesalnya saya protes ke petugas penjaga stand Gocar Instant di Stasiun Pasar Turi Surabaya.
“Kalau pada ndak mau narik jangan mangkal di sini, Pak.”
Si penjaga hanya senyum kecut saja. Sepertinya dia sudah sering mendengar protes dari konsumen. Bikin emosi saja.
Kehilangan sandal di masjid samping stasiun
Ujian mental lainnya adalah kehilangan sandal di Masjid Baiturrohim samping Stasiun Pasar Turi Surabaya. Ndilalah ketika sehabis salat, sandal saya raib.
Padahal sandal yang saya pakai adalah sandal dengan tulisan Goa Pindul yang alasnya sudah hampir rata. Untung saja saya membawa sandal cadangan di tas, sehingga tidak perlu bertelanjang kaki.
Bayangkan kalau orang yang kehilangan sandal merupakan orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya. Kota yang belum sempat dia kenali sudah terlebih dahulu menyapa dengan kehilangan sepasang sandal.
Cerita orang kecopetan di Stasiun Pasar Turi Surabaya
Kejadian ini terjadi di malam takbiran. Saya yang sedang makan makanan ready to eat Indomaret didatangi seorang yang memperkenalkan diri habis kecopetan dan membutuhkan ongkos untuk pulang.
Saya yang pernah membaca modus serupa di sosmed cuma bilang: “Lapor ke security saja, Pak.”
Tapi bapak-bapak tersebut menawar: “Masak 50 ribu gitu gak ada, Mas?”
Saya yang terlanjur emosi cuman menimpali:
“Ya sudah, tak bantu laporin ke security ya, Pak” Mendengar jawaban saya bapak-bapak tersebut langsung hilang.
Bagi banyak orang, stasiun adalah wajah pertama sebuah kota. Kesan yang dibawa pulang bukan hanya mengenai betapa megah bangunannya, melainkan pengalaman.
Kejadian-kejadian di atas membuat saya sadar bahwa gerbang pertama di Surabaya ini masih menyimpan banyak pekerjaan rumah. Semoga kawasan Stasiun Pasar Turi Surabaya bisa menyambut pendatang dengan rasa aman. Masak baru sampai Surabaya sudah langsung dapat ujian.
Penulis: Arief Nur Hidayat
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Saya Kapok Naik Becak Motor dari Stasiun Surabaya Pasarturi, Tarifnya Setara Naik Taksi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
