Saya tidak berlebihan ketika bilang saya jatuh cinta pada Wonosobo. Kabupaten kecil ini punya daya tarik yang sulit ditolak, terutama bagi orang yang lelah dengan hiruk-pikuk kota. Udara sejuknya terasa seperti hadiah, pemandangan alamnya menenangkan mata, dan ritme hidupnya terlihat lebih pelan. Kabut pagi, gunung yang mengelilingi, serta suasana yang adem membuat Wonosobo tampak seperti tempat ideal untuk “melarikan diri” dari kerasnya kehidupan.
Di awal, saya bahkan sempat berpikir, andai tinggal di sini, pasti hidup lebih tenang. Tapi, semakin lama berada di sana, semakin jelas bahwa jatuh cinta saat liburan sering kali menipu. Wonosobo memang indah untuk dikunjungi, tapi ketika mulai membayangkan hidup sehari-hari bekerja, sakit, butuh akses cepat, mengurus keluarga. Romantisme itu perlahan runtuh.
Jarak dan akses
Masalah pertama yang terasa nyata adalah jarak dan akses. Wonosobo bukan daerah yang mudah dijangkau. Untuk ke sana saja saya harus transit, memakan waktu dan biaya ekstra. Ini mungkin tidak jadi masalah bagi wisatawan yang datang sesekali, tapi akan sangat melelahkan jika dijalani terus-menerus. Mobilitas menjadi mahal, ribet, dan tidak fleksibel.
Satu kejadian benar-benar membuka mata saya. Ketika anak sepupu saya sakit. Di kondisi seperti itu, jarak bukan lagi sekadar angka di Google Maps. Akses menuju fasilitas kesehatan terasa jauh dan memakan waktu. Dalam situasi darurat, kita tidak butuh udara sejuk atau pemandangan indah, kita butuh kecepatan, kemudahan, dan pilihan. Dan di titik itu, Wonosobo terasa tertinggal.
Fasilitas kesehatan ada, tentu. Tapi pilihannya terbatas. Jika butuh penanganan lebih serius, harus ke kota lain. Artinya waktu, biaya, dan energi kembali terkuras. Ini menjadi pengingat bahwa hidup bukan cuma soal menikmati alam, tapi juga soal rasa aman ketika hal buruk terjadi.
Biaya hidup di Wonosobo tidak semurah itu
Lalu soal ekonomi. Banyak orang mengira hidup di kabupaten kecil pasti murah. Kenyataannya tidak selalu begitu. Biaya hidup di Wonosobo terasa tidak sejalan dengan UMR. Beberapa kebutuhan justru mahal, sementara peluang kerja terbatas. Gaji kecil, pengeluaran tetap jalan. Ketimpangan ini membuat hidup terasa berat, terutama bagi mereka yang masih berjuang dari nol.
Kalau punya uang banyak, mungkin Wonosobo terasa nyaman. Rumah tenang, udara dingin, hidup pelan. Tapi bagi orang yang harus kerja keras setiap hari, mencari penghasilan dengan tenaga dan waktu, Wonosobo bisa terasa menyesakkan secara perlahan. Nyari uangnya ngos-ngosan, sementara kebutuhan tidak ikut menyesuaikan.
Yang paling menampar justru datang dari keluarga sendiri. Beberapa saudara saya yang tinggal di sana dengan jujur bilang, “Ogah hidup di sini. Kalau bisa mending ke Malang atau Jogja.” Kalimat itu membuat saya terdiam. Ini bukan pendapat wisatawan, tapi suara orang yang benar-benar menjalani hidup di sana.
Malang dan Jogja mungkin tidak sesunyi atau sedingin Wonosobo, tapi keduanya menawarkan sesuatu yang krusial. Akses. Akses pendidikan, kesehatan, transportasi, lapangan kerja, dan ruang tumbuh. Ada kampus, rumah sakit besar, peluang kerja yang lebih beragam, dan mobilitas yang lebih mudah. Hidup memang tidak selalu tenang, tapi lebih realistis.
BACA JUGA: Wonosobo yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Dahulu Jauh Lebih Nyaman
Hidup lebih dari sekadar suasana
Wonosobo unggul di suasana, tapi hidup membutuhkan lebih dari sekadar suasana. Sebuah daerah butuh sistem yang menopang, bukan hanya memanjakan mata. Tanpa itu, keindahan bisa berubah menjadi keterbatasan, dan ketenangan berubah menjadi kebuntuan.
Wonosobo adalah daerah yang cantik, punya potensi besar, dan layak dicintai. Untuk berlibur, tempat ini luar biasa. Tapi untuk tinggal lama, nanti dulu. Apalagi bagi generasi muda, yang masih berjuang membangun masa depan. Indah, iya. Membangun masa depan, wait a minute.
Saya tetap mencintai Wonosobo sebagai destinasi, bukan sebagai tujuan hidup. Saya akan selalu rindu udaranya, kabut paginya, dan ketenangannya. Tapi untuk tinggal, bekerja, dan berjuang setiap hari, saya memilih realistis.
Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Wonosobo Ternyata Lebih Ramah bagi Wisatawan ketimbang Jogja
