Di tengah Jakarta yang serba asing, warteg adalah satu-satunya tempat yang masih terasa Indonesia. Setidaknya itulah yang saya rasakan ketika awal pindah ke Jakarta dari Gunungkidul.
Hal pertama yang saya sadari bukan soal pekerjaan, bukan soal ritme hidup, tapi soal makanan. Kedengarannya sepele, tapi justru dari situ semuanya terasa berbeda.
Saya yang berasal dari Gunungkidul, tumbuh dengan lidah yang terbiasa makanan manis, santan kental, dan bumbu yang cenderung “ramah”. Eh, tiba-tiba harus berhadapan dengan rasa yang jauh lebih tegas. Di Jakarta, banyak makanan terasa langsung to the point. Asin ya asin, gurih ya gurih, tanpa banyak kompromi di tengahnya.
Saya sempat kaget. Bukan kaget yang dramatis, tapi lebih ke bingung kecil yang terus berulang. Makanan yang dulu saya anggap biasa seperti sayur lombok atau terong dengan kuah santan dan sedikit gula tiba-tiba tidak mudah ditemukan.
Rasa yang dulu akrab seperti ccampuran antara manis, gurih, santan tiba-tiba digantikan oleh rasa yang cenderung “to the point” tadi. Rasa yang tidak cocok di lidah saya.
Di titik itu saya baru sadar, ternyata pindah kota di Indonesia bukan cuma soal pindah tempat tinggal, tapi juga pindah rasa.
Warteg comfort food para perantau, khususnya saya
Di tengah berbagai penyesuaian merantau di Jakarta, saya menemukan satu tempat andalan yakni warteg. Bukan karena rasanya luar biasa, tapi karena rasanya yang cenderung familier.
Warteg seperti ruang kompromi. Di sana ada banyak pilihan, banyak kemungkinan, dan tidak ada satu standar rasa yang dipaksakan. Mau sayur, lauk, pedas, tidak pedas, semua bisa dirakit sesuai selera. Dan, yang paling penting, rasanya cukup aman di lidah Gunungkidul saya.
Kalau diibaratkan, warteg itu seperti zona netral di tengah kota yang besar dan asing. Tempat di mana saya tidak perlu beradaptasi terlalu keras hanya untuk makan siang.
Mungkin karena itu saya menyebut warteg sebagai penyelamat di kota asing. Bukan penyelamat dalam arti besar dan heroik, tapi penyelamat kecil yang membuat hari-hari tetap bisa berjalan normal.
Selain rasa, harganya bersahabat
Ada satu hal lain yang saya sadari di Jakarta yaitu harga. Bukan hanya makanan yang berbeda, tapi juga cara kita memandang uang berubah.
Di Gunungkidul dan Jogja, saya terbiasa dengan jarak yang lebih “longgar” antara uang dan kebutuhan sehari-hari. Di Jakarta, jarak itu terasa lebih rapat. Bahkan. hal kecil seperti parkir bisa membuat saya berhenti sejenak dan menghitung ulang prioritas.
Di tengah semua itu, warteg terasa seperti anomali yang menenangkan. Harga relatif masuk akal, pilihan banyak, dan tidak ada tekanan sosial apa pun di dalamnya. Tidak ada tuntutan untuk tampil “layak”, tidak ada standar estetika tertentu, tidak ada kesan bahwa kita harus menjadi seseorang yang berbeda hanya untuk bisa duduk dan makan.
Mungkin itu sebabnya warteg terasa sangat familier bagi saya. Karena ia tidak eksklusif, tidak berjarak, dan tidak memaksa orang untuk menjadi versi lain dari dirinya sendiri.
Saya mulai berpikir, mungkin makanan memang bukan sekadar soal rasa. Tapi, soal cara kita beradaptasi dengan tempat baru. Lidah ternyata punya cara sendiri untuk membaca kota. Dari makanan, kita bisa tahu apakah sebuah tempat terasa ramah atau tidak.
Warteg membuat hidup di Jakarta tak begitu berat
Jakarta, bagi saya, awalnya terasa asing. Bukan karena kotanya tidak baik, tapi karena ritme dan rasanya berbeda. Sementara Jogja, tempat saya tumbuh, terasa lebih lembut di lidah, lebih pelan, lebih “menerima”. Dua kota itu seperti dua cara hidup yang berbeda, dan saya berada di tengah-tengahnya, mencoba menyesuaikan diri.
Akan tetapi, seiring waktu, saya tidak lagi sekaget dulu. Lidah saya mulai belajar. Tidak sepenuhnya berubah, tapi mulai bisa menerima. Saya tetap kangen rasa Jogja, tapi saya juga mulai paham bahwa Jakarta tidak sedang “salah rasa”, hanya berbeda cara menyajikan kehidupan.
Di tengah proses adaptasi itu, warteg tetap jadi titik aman. Tempat saya bisa berhenti sejenak dari semua perbedaan rasa itu. Tempat yang tidak menuntut saya untuk memilih menjadi orang Jakarta sepenuhnya, atau tetap menjadi orang Jogja sepenuhnya. Di warteg, saya cukup menjadi orang yang lapar.
Kadang saya berpikir, mungkin alasan warteg terasa begitu “aman” bukan hanya karena makanannya, tapi karena orang-orang di dalamnya. Tidak ada percakapan yang berlebihan, tidak ada tuntutan untuk terlihat lebih sukses atau lebih sibuk dari orang lain.
Semua orang datang dengan tujuan yang sama sederhana: makan, mengisi energi, lalu kembali menjalani hari. Di situ saya merasa, untuk sesaat, semua orang setara tanpa perlu dijelaskan.
Penulis: Andry Setyawan
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Pengalaman Pertama Merantau Kerja di Jakarta: Empat Hari Bolak-balik Tangsel-Jaktim Sudah Trauma.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
