Warkop STK, penyelamat kaum duit pas-pasan yang ingin healing di Surabaya

Warkop STK, penyelamat kaum duit pas-pasan yang ingin healing di Surabaya

Warkop STK, penyelamat kaum duit pas-pasan yang ingin healing di Surabaya (Pixabay.com)

Tidak sulit menemukan mall dan kafe di Surabaya. Kota metropolitan ini memang pusatnya urusan bermegah-megah dan menghabiskan uang. Tapi, kenyataan hidup selalu menunjukkan bahwa di tempat buang-buang uang pun, tak semua punya uang. Oleh karena itulah, warkop STK jadi tempat terbaik bagi orang-orang dengan uang yang mepet.

Warkop STK bak oasis bagi kaum-kaum yang gajinya habis satu hari setelah gajian, atau dengan sangu yang dibilang dikit aja belum. Dengan cat khas warna kuning, hitam, dan merah, STK menawarkan banyak hal, tak hanya perkara ngopi, yang bisa dibeli dengan uang yang tak terlampau banyak.

Evolusi Warkop di Surabaya

Kalo Pontianak disebut kota seribu warkop, maka Surabaya menurutku layak juga mengklaim hal yang. Karena bagiku yang asli Surabaya, warkop dari dulu sudah menjadi tempat cangkruk (nongkrong). Sama seperti halnya di Pontianak, di sini cangkrukan di warkop sudah menjadi budaya.

Tapi warkop-warkop zaman dulu, hanya berbentuk warung kecil di pojok gang, berisikan aneka cemilan dan minuman. Ruangan yang tidak terlalu besar dengan kursi kayu yang memanjang, bisa dihitung jari jumlahnya. Seiring berjalannya waktu, kebutuhan warkop sudah berubah. Semula hanya obrolan santai berisi bapak-bapak, sekarang lintas generasi. Dulu tak menjadi masalah jika tidak ada internet, tapi sekarang warkop kurang lengkap jika tidak ada wifi karena kebutuhan internet begitu tinggi.

Di situlah warkop STK menjadi pionir. Menyediakan lahan parkir yang luas, tempat duduk banyak, wifi stabil, cemilan macam-macam, makanan berat pun ada, serta fasilitas yang memadai dan inovasinya yang kreatif. Mereka dengan cepat mampu menjadi top tier warkop di Surabaya dan ekspansi besar-besaran hingga saat ini.

STK dan manusia-manusia yang datang silih berganti

Dari matahari muncul malu-malu hingga malam terkantuk-kantuk, selalu ada yang singgah di warkop STK. Banyak alasan kenapa selalu ada yang singgah, tapi menurut saya, karena warkop STK memang egaliter. Di sana, tidak ada pembagian kasta, apalagi outfit. Semua diterima dengan tangan terbuka.

Mulai dari mahasiswa yang sedang akrab dengan laptopnya. Lalu, para driver ojol mengistirahatkan diri dari tumpukan orderan atau biasanya juga ada gathering rutinan komunitas ojol. Ada juga pegawai yang baru pulang kantor mampir sejenak, sebelum bertemu keluarga kecilnya. Tentu saja, ada anak-anak muda yang sibuk bermain Mobile Legends. Terakhir, sering saya temui para pengamen dengan suaranya yang merdu, mengalun di atap galvalum warkop STK.

Mereka semua tentu berangkat dari latar belakang yang berbeda, tapi bisa duduk di bangku yang sama. Semua obrolan tertuang di atas meja kayu berwarna kuning beserta asbak dan stop kontak, mengalir tanpa henti. Kadang ada tawa yang tampil, ada juga kesedihan tergambar. Begitulah warkop STK, ada ratusan manusia yang memilih memesan kopi pahit, teh manis, ataupun minuman sachetan kesayangannya untuk sekadar merebahkan pikiran di sini.

Mengapa warkop STK sulit tergantikan

Meski coffee shop silih berganti muncul di Surabaya, warkop STK masih akan sulit tergantikan. Bahkan saya liat sendiri, dua kafe kopi kekinian yang dulu rame banget sekarang berubah menjadi warkop STK. Itu bukan sekadar peralihan lahan, tapi juga sinyal bahwa masyarakat dalam kenyataannya tidak setiap hari mengejar estetika. Sedangkan pebisnis setiap waktu dibayangi cash flow.

Di warkop STK, kita tidak akan merasa dihakimi kalau cuma pesen es teh saja. Begitupun kalo kita duduk berlama-lama, juga tidak akan diusir secara halus. Datang berpakaian biasa saja, tidak menjadi soal karena tidak ada polisi skena di sana. Kita tidak perlu membuktikan apa-apa saat singgah, bahkan kita diperbolehkan membawa makanan dari luar dan disediakan sendok dan garpu.

Di kota yang semakin sibuk dengan realitasnya, mungkin yang dicari warga Surabaya bukan lagi tempat yang memenuhi validasi semata. Mereka hanya membutuhkan tempat yang membuat mereka merasa boleh berhenti sejenak. Bertukar obrolan, memberi jeda pada hidup.

Penulis: Aditya Ikhsan Pradipta
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Surabaya Memang Kekurangan Tempat Wisata, tapi Tidak Pernah Kekurangan Warkop

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version