Saya tinggal di Tegal, sebuah kota kecil di Pantai Utara Jawa. Bila dibandingkan dengan Jakarta, kota ini kalah telak. Tidak ada gedung pencakar langit dan tidak ada kemacetan lalu lintas. Harusnya sih pengeluaran di kota kecil lebih hemat daripada di kota besar. Ternyata saya salah, walaupun tinggal di kota kecil pengeluaran saya tetep besar:
Banyak yang mengira tinggal di kota kecil biaya hidup masti murah-meriah. Memang sih masih ada nasi ponggol Rp5.000-an, tapi siapa bilang warga kota kecil tidak punya cicilan dan pengeluaran besar? Ada yang nyicil rumah, ada yang nyicil hape, ada pula yang nyicil kendaraan. Cicilan tidak membedakan kasta dan di mana kamu tinggal.
Belum lagi pengeluaran rutin bulanan seperti token listrik, PDAM, internet dan berbagai kebutuhan lainnya yang siap menguras isi dompet. Orang kota kecil pun juga punya pengeluaran untuk gaya hidup. Kau pikir itu eksklusif untuk yang hidup di kota besar saja?
Iuran kampung yang ternyata banyak juga
Tinggal di kota kecil tidak membuat kita serta merta terbebas dari berbagai macam iuran. Ada iuran kebersihan, iuran keamanan, iuran 17-an hingga iuran keagamaan. Iuran-iuran tersebut ada yang bersifat wajib dan sukarela. Belum lagi kalau ada undangan dari saudara, tetangga atau teman yang menikah atau anaknya sunat.
Selain itu, ada pengeluaran yang tidak terduga yaitu amplop kondangan. Nominalnya sih memang tidak seberapa, namun apabila sebulan mendapatkan banyak undangan, dompet ikut mengkis-mengkis juga. Kabar baiknya, iuran-iuran di atas dapat menjaga tali silaturahmi baik dengan warga atau si empunya acara.
Kabar buruknya, yah, tak perlu saya beri tahu juga kan.
Belanja online yang memudahkan bagi warga kota kecil
Dulu, tinggal di kota kecil identik dengan pilihan barang yang seadanya, namun sekarang tidak terjadi lagi setelah ada belanja online. Mau beli sepatu lari dari Jakarta, smartwatch dari Surabaya hingga barang-barang yang sebetulnya belum kita butuhkan semuanya bisa kita dapatkan dengan beberapa kali klik. Setelah itu tugas kita hanya menunggu kurir datang mengantar barang pesanan sampai ke rumah. Belanja online inilah yang tidak terasa membuat pengeluaran kita tiba-tiba menjadi besar.
Punya kendaraan pribadi, pengeluaran juga jalan terus
Tinggal di kota kecil memang asyik, tidak perlu bermacet-macet ria dan kemana-mana masih dekat. Sayangnya fasilitas transportasi umumnya banyak yang kurang memadai. Hal ini membuat warganya mau tak mau harus mempunyai kendaraan pribadi. Ada bensin yang harus diisi, ada oli yang harus rutin diganti, ada mesin yang haris diservice dan ban botak yang harus segera diganti.
Belum lagi biaya pajak kendaraan tahunan dan ganti plat nomor 5 tahunan sekali. Banyak juga ya ternyata pengeluaran terkait kendaraan pribadi.
Nongkrong di kafe, pengeluaran di kota kecil yang tidak terlihat
Dulu saya berpikir tinggal di kota kecil otomatis pilihan nongkrong terbatas, ternyata salah besar. Tegal punya banyak kafe kekinian dan restoran keluarga yang instagramable. Ada yang spesialisasi menjual kopi, ada yang brandingnya sebagai tempat Work From Café hingga kafe tanpa wifi agar pengunjung saling ngobrol satu sama lain.
Masalahnya, kafe tidak kenal ukuran dan jumlah penduduk, apalagi UMP. Harga segelas kopi yang ditawarkan juga sama dengan harga di kota-kota besar. Memang sesekali ke kafe pengeluaran kita tidak terasa. Kalau berkali-kali, beda cerita. Apalagi bagi para pekerja remote yang mau tak mau harus sering-sering ke kafe karena koneksi di rumah belum tentu oke.
Setelah delapan tahun tinggal di Tegal, saya sadar ukuran kota kecil atau besar bukanlah penentu hemat atau borosnya seseorang. Kalau ada yang bilang: “Enak ya tinggal di kota kecil, harganya masih murah-murah.” Saya cuman bisa membalas dengan senyum kecut.
Penulis: Arief Nur Hidayat
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Saya pernah mengira Tegal kota yang sepi, ternyata saya salah besar
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
