Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Walau Sama-sama Merah dan Ada Logo Bantengnya, PDIP Beda dengan GMNI. Jangan Salah Paham!

Budi Prathama oleh Budi Prathama
9 Maret 2021
A A
Logo PDIP dan GMNI beda, jangan disamakan terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita, bagaimana popularitas PDIP dalam kancah perpolitikan di Indonesia. PDIP yang identik dengan logo bantengnya ini selalu menjadi salah satu partai terkuat pada setiap konteks pertarungan politik, seperti Pilpres, Pilkada, dan pemilihan lainnya. Misalnya saja ketua umum PDIP, Ibu Megawati Soekarno Putri yang berhasil menjabat sebagai Presiden kelima Republik Indonesia. Selain itu, PDIP juga telah menjadi jembatan perpolitikan Bapak Joko Widodo sebagai Presiden Indonesia yang sudah memimpin 2 periode ini.

Namun, dalam tulisan ini saya tidak akan membahas mengapa Jokowi bisa jadi Presiden lewat rekomendasi partai PDIP, atau bahkan sosok Megawati di balik jabatan Presiden Jokowi saat ini. Saya akan sedikit menyoroti anggapan orang-orang yang sering melabeli PDIP dan organisasi GMNI sebagai lembaga yang sama.

Jadi gini, kenapa ada yang mengatakan kalau GMNI adalah enderbouw dari PDIP, bahkan mengklaim bahwa GMNI anak dari PDIP. Di samping itu, GMNI dan PDIP dikatakan sama saja, yang membedakannya GMNI diisi oleh mahasiswa, sedangkan PDIP diisi oleh alumni GMNI. Woi, sumbernya dari mana itu, Bos? Jangan hanya nyerocos saja lah.

Mungkin sah-sah saja orang menganggap PDIP dan GMNI serupa lantaran warna dan logo banteng yang digunakan keduanya hampir mirip. Sama-sama memiliki warna bendera merah, bahkan keduanya sering memajang foto-foto Soekarno tiap ada kegiatan. Pun tak bisa dimungkiri kalau Megawati adalah putri dari bapak bangsa, Ir. Soekarno, di mana GMNI adalah penganut setia ajaran Bung Karno.

Oke, GMNI memang pewaris dan pelanjut ajaran Bung Karno, yaitu Marhaenisme. Tujuan organisasi GMNI didirikan untuk dapat terus merawat pikiran-pikiran Bung Karno hingga akhir hayat, karena relevansi pemikiran Bung Karno dengan bangsa Indonesia tentu tidak bisa dinafikan. Meskipun, dalam sejarahnya ada keganjalan terhadap Bung Karno, terjadi mispersepsi di kalangan publik kalau Bung Karno dikenal hanyalah sebatas presiden pertama saja, dan tidak lebih dari itu. Hal itu disebabkan adanya trauma silam pada politik De-Soekarnoisasi dan deideologisasi. Peran dan ajaran Bung Karno dipisahkan, bahkan dihancurkan di era Orde Baru.

Kembali pada pembahasan kalau GMNI adalah organisasi kemahasiswaan yang berbasis gerakan dan transformasi ideologi. Dan sekali lagi saya sampaikan bahwa GMNI adalah organisasi mahasiswa yang independen, bukan suatu lembaga partai yang dapat setiap saat berubah-ubah tujuan berdasarkan pada kontrak politik sesama para politikus lainnya. Eh, maksud saya bukan berarti politik tidak memiliki sifat independensi, ya. Melainkan di dalam politik teman bisa saja menjadi kawan dan seketika itu juga kawan bisa jadi musuh, itulah politik.

GMNI sendiri berdiri pada 23 Maret 1954 di Surabaya, sedangkan PDIP didirikan pada tanggal 10 Januari 1973. Berdasarkan fakta itu saja sudah jelas bahwa GMNI bukanlah anak dari PDIP, atau basis dari PDIP. PDIP adalah partai, sementara GMNI adalah organisasi mahasiswa. Tujuan dan perjuangan jelas berbeda.

Sering saya mendengar anggapan orang-orang di luar sana seperti, “Bendera sama-sama banteng kok, lagi pula Megawati dan Soekarno kan bapak-anak.” Woi, memangnya pemikiran bapak dan anak selalu sama, ya? Saya rasa tidak. GMNI memang penganut fanatik pemikiran Bung Karno, tetapi bukan berarti GMNI akan fanatik juga terhadap anaknya, Megawati. Ini sudah masuk era globalisasi, Bro, bukan lagi era konservatif. Wqwqwq.

Baca Juga:

PDIP Keok di Kandang Banteng, kok Bambang Pacul yang Disalahkan?

Keluarga Jokowi Tidak Berkhianat. Mereka Hanya Mencoba Menjadi Gen Z yang Mengutamakan Kesehatan Mental

Makanya tak heran juga sih kalau baru pertama kali melihat bendera dan logo GMNI langsung dilabeli sebagai PDIP atau partai baru yang mirip dengan PDIP. Apalagi kalau masuk di daerah yang sangat fanatik terhadap satu warna bendera saja, maka GMNI akan menjadi taruhan sebagai partai barisan dari PDIP.

Walaupun banyak alumnus GMNI yang masuk PDIP, tetap jangan samakan keduanya, ya. Karena ketika banyak senior GMNI masuk PDIP, itu hanya masalah privasinya, bukan GMNI-nya. Pun itu adalah persoalan rezeki orang, yang tentu tidak ada hubungannya dengan senior-senior GMNI yang masuk PDIP.

Oleh karena itu, jika masih ada yang mengklaim kalau GMNI dan PDIP sama, mungkin orang tersebut belum paham saja. Ketidakpahaman mereka yang hanya melihat pada siapa Soekarno dan siapa Megawati, dan warna bendera serta logo banteng sama pula. Nah, kesimpulan seperti itu jelas keliru kalau hanya memandang dari kulitnya saja.

Atau mungkin ada juga orang yang memang paham dan tahu kalau PDIP dan GMNI berbeda, tetapi memang mereka sengaja membuat gaduh dengan melontarkan propaganda-propaganda yang tidak benar. Ya, memang tak heran sih jika hal itu terjadi, karena jauh sebelumnya sudah pernah terjadi, bahkan lebih parah. Lihat saja bagaimana propaganda Orde Baru terhadap Bung Karno yang juga berimbas besar terhadap GMNI.

Saya sebagai kader GMNI, meskipun bukan kader terbaik atau kader terkenal, sekali lagi mengatakan bahwa GMNI dan PDIP jelas berbeda. Biarkanlah GMNI fokus pada kerja-kerja ideologi dan berbicara tentang kerakyatan, jangan pernah campur adukkan antara GMNI dan PDIP, apalagi sampai bawa-bawa GMNI pada politik praktis. Sekian.

Sumber Gambar: Instagram DPP GMNI

BACA JUGA Walau Sempat Berseteru karena Warnanya Sama, Bendera Indonesia dan Monako Beda di Banyak Aspek dan tulisan Budi Prathama lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 9 Maret 2021 oleh

Tags: benderaGMNIlogoPDIP
Budi Prathama

Budi Prathama

Mahasiswa Universitas Sulawesi Barat. Terus berusaha menulis walaupun itu terkadang menyakitkan.

ArtikelTerkait

Berkaca dari Sayembara Logo Barantin, Desainer Grafis Harus Tahu Cara Membuat Logo Instansi Pemerintah yang Baik dan Benar

Berkaca dari Sayembara Logo Barantin, Desainer Grafis Harus Tahu Cara Membuat Logo Instansi Pemerintah yang Baik dan Benar

11 Oktober 2023
Terkuak! Inilah Makna Tersembunyi di Balik Logo OSIS! terminal mojok

Terkuak! Inilah Makna Tersembunyi di Balik Logo OSIS!

1 Oktober 2021
Mencermati Logo Baru Ancol yang Katanya Nggak Ancol-ancol Banget Terminal Mojok

Mencermati Logo Baru Ancol yang (Katanya) Nggak Ancol-ancol Banget

25 Juli 2022
Kenalan dengan Arti 5 Calon Logo IKN biar Nggak Nyinyir Mulu

Kenalan dengan Arti 5 Calon Logo IKN biar Nggak Nyinyir Mulu

8 April 2023
Wanita Jawa jatuh cinta dengan laki-laki Maluku Utara. (Unsplash.com)

Wanita Jawa Jatuh Cinta dengan Orang Maluku Utara: Saya Tidak Sedang Mewujudkan Hubungan yang Bhinneka Tunggal Ika

29 Juni 2022
Yasonna Laoly dan "Azab" karena Sudah Menghina Dian Sastrowardoyo

Yasonna Laoly dan “Azab” karena Sudah Menghina Dian Sastrowardoyo

22 Januari 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Orang Lebih Memilih Menu Kopi Susu Gula Aren daripada Menu Kopi Lain di Kafe Mojok.co

4 Alasan Orang Lebih Memilih Kopi Susu Gula Aren daripada Menu Kopi Lain di Kafe

12 Januari 2026
Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

16 Januari 2026
Motor Supra, Motor Super yang Bikin Honda Jaya di Mata Rakyat (Sutrisno Gallery/Shutterstock.com)

Tanpa Motor Supra, Honda Tidak Akan Menjadi Brand Motor Terbaik yang Pernah Ada di Indonesia

16 Januari 2026
Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar

Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar

17 Januari 2026
Aku Cinta Kartasura, Kecuali Saat Hujan, Pasti Banjir!

Aku Cinta Kartasura, kecuali Saat Hujan, Pasti Banjir!

12 Januari 2026
Rasanya Tinggal di Rumah Subsidi: Harus Siap Kehilangan Privasi dan Berhadapan dengan Renovasi Tiada Henti

Rasanya Tinggal di Rumah Subsidi: Harus Siap Kehilangan Privasi dan Berhadapan dengan Renovasi Tiada Henti

15 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • 2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup
  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.