Setiap kali ada obrolan soal Kebumen, ujung-ujungnya pasti muncul satu kalimat sakti: Kebumen murah. Kalimat ini diucapkan dengan nada bangga, seolah-olah label murah itu adalah prestasi yang layak dipajang dan dibicarakan berulang sampai kering.
Sebenarnya, wajar jika label tersebut lekat selama bertahun-tahun. Tapi itu dulu, kalau sekarang ya jelas tidak berlaku. Kenaikan harga tidak pernah melihat kota, ia memukul rata tiap daerah. Sudah saatnya Kebumen jujur saja dan berhenti jualan murah ke dunia luar, terutama ke orang yang tak tahu di mana daerah ini berada.
Murah buat siapa, mahal buat siapa
Coba perhatikan baik-baik, siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dari branding “Kebumen kabupaten murah” ini?
Ya tentu saja turis dari luar kota. Mereka bisa liburan ke Pantai Menganti atau Waduk Sempor dengan modal pas-pasan dan pulang dengan cerita “murah banget di sana.” Pengusaha yang buka usaha di Kebumen juga diam-diam diuntungkan, sebab standar upah yang layak jadi gampang ditawar turun dengan alasan klasik “kan biaya hidup di sini murah”.
Nah, yang jarang disebut untung adalah warga Kebumen sendiri. Kenaikan BBM yang berlaku sejak pertengahan tahun ini bikin ongkos transportasi dan harga kebutuhan pokok ikut naik di seluruh Indonesia, termasuk di Kebumen. Belum lagi segala bahan pokok yang merangkak naik. Lalu biaya ini, biaya itu, yang sebenarnya tak ada bedanya dengan kota-kota mahal di luar sana.
Tapi anehnya, standar upah dan harga jasa di sini masih dipatok seolah semua kebutuhan hidup berhenti di angka lama. Semua ikut naik, kecuali gaji warga Kebumen.
Branding Kebumen yang menjebak diri sendiri
Ironi terbesarnya, branding “murah” ini justru sering dipakai buat menahan Kebumen berkembang. Hanya karena murah, segala sesuatunya dipaksa apa adanya. Infrastruktur pas-pasan, dianggap wajar. Fasilitas publik seadanya, dianggap wajar. Gaji di bawah kabupaten tetangga, juga dianggap wajar. Semua ketimpangan itu diselimuti kalimat sakti yang sama ”kan Kebumen memang murah”.
Padahal kalau ditelusuri, kabupaten atau kota lain yang berhasil berkembang biasanya justru berhenti jualan murah dan mulai jualan nilai tambah. Purwokerto, misalnya, sekarang lebih sering dipromosikan sebagai kota pendidikan dan kota kuliner, bukan sekadar “kota murah.”
Bahkan destinasi wisata sekelas Pantai Menganti sendiri, yang harga sewa jetski dan wahananya makin naik seiring viral di media sosial, diam-diam sudah membuktikan bahwa Kebumen sebenarnya bisa jual harga lebih mahal kalau memang nilainya pantas dihargai segitu.
Masalahnya, kenaikan harga itu baru berlaku buat sektor wisata yang menyasar turis, belum menyentuh upah buat warga lokal yang justru bikin roda ekonomi jalan setiap hari.
Mahal itu bukan kata kotor
Saya nggak bilang Kebumen harus mendadak jadi kabupaten mahal biar terlihat keren. Yang saya maksud adalah, sudah waktunya Kebumen berhenti terlalu percaya diri menjual “murah” sebagai satu-satunya identitas, dan mulai berani menjual nilai tambah.
Kalau infrastruktur jalan lintas selatan sudah dibangun dan bikin Kebumen makin terbuka, semestinya itu jadi kesempatan buat menarik investasi yang menghargai daerah ini secara layak, bukan sekadar jadi lokasi produksi murah karena upahnya bisa ditekan.
Kebumen harus berhenti terus-terusan jadi yang paling rendah hati soal harga diri ekonominya sendiri. Padahal potensi Kebumen nggak kalah dari kabupaten tetangga. Ada hasil laut, ada industri rumahan, ada sumber daya manusia yang kalau dikasih kesempatan setara, nggak kalah saing sama anak-anak dari kota besar.
Cari kerja di Kebumen? Semoga beruntung deh
Soal lapangan kerja, jangan tanya. Industri besar bisa dihitung jari. Sebagian besar warga Kebumen yang usia produktif akhirnya memilih dua jalan, yaitu jadi petani atau buruh serabutan di kampung halaman, atau merantau ke kota lain seperti Jakarta, Bandung, bahkan luar negeri jadi TKI/TKW.
Saya sendiri punya beberapa teman SMA yang sekarang kerja di pabrik-pabrik Karawang. Bukan karena mereka nggak cinta kampung halaman, tapi karena di Kebumen susah nyari kerja yang gajinya bisa buat nabung, apalagi buat nyicil rumah.
Lowongan kerja formal yang ada pun biasanya berputar di sektor jasa kecil, ritel, atau UMKM yang gajinya ya mepet UMK. Kalau beruntung dapat kerja di instansi pemerintah atau BUMN cabang daerah, itu udah dianggap rezeki nomplok seantero keluarga besar. Sisanya ya berjibaku jadi pedagang, ojek online, atau kalau modal cukup, buka usaha sendiri sambil berdoa semoga laku.
Berhenti jadi yang termurah, mulai jadi yang sepadan
Jadi lain kali ada yang muji “Kebumen murah banget ya,” mungkin kita sebagai warga bisa mulai jawab dengan kalimat berbeda “murah buat siapa dulu, nih.” Bukan buat sombong atau menolak status daerah yang bersahaja. Tapi supaya kita berhenti menormalisasi standar rendah untuk diri sendiri sambil menyediakan harga diskon buat orang luar.
Kebumen boleh tetap ramah di kantong wisatawan. Tapi jangan sampai keramahan itu dibayar mahal oleh warganya sendiri. Sudah saatnya kita berhenti jualan diri sebagai kabupaten termurah, dan mulai berani jualan diri sebagai kabupaten yang layak dihargai sepadan, baik oleh wisatawan yang datang, maupun oleh warga yang tiap hari bertahan hidup di dalamnya.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kebumen, Kabupaten yang Cantiknya Keterlaluan tapi Nggak Bisa Menjual Dirinya Sendiri
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













