Vespa matic sekarang jadi salah satu motor incaran anak muda. Dipakai nongkrong keren, dipakai ngopi estetik, dipakai foto Instagram auto naik kelas. Tapi setelah saya lihat-lihat lebih dalam, jujur saja, motor ini terasa mahal banget untuk ukuran fitur yang ditawarkan.
Beberapa tipe Vespa matic harganya sudah tembus puluhan juta rupiah. Bahkan ada yang harganya setara mobil bekas keluaran lama yang masih layak pakai. Di titik itu saya mulai bertanya: ini kebutuhan atau gengsi?
Kalau dibilang overprice, ya ada benarnya. Ini Vespa matic, for God’s sake. Bukan Ducati Scrambler, bukan motor gahar yang memang dibanderol mahal. Tapi ajaibnya, motor ini tetap laku di pasaran. Padahal, secara fitur, Vespa matic tidak jauh beda dengan motor matic Jepang di kelas 20 jutaan. Bahkan beberapa kompetitor menawarkan fitur lebih modern seperti keyless canggih, panel full digital besar, bagasi luas, sampai konsumsi BBM yang lebih irit.
Tapi, Vespa punya satu hal yang tidak dimiliki motor lain, yaitu identitas.
Vespa matic “wajar” kalau mahal
Sebenarnya, kalau mau lihat motor ini lebih dekat, kita akan agak setuju dengan banderolnya. Body-nya masih setia pakai bahan besi (steel monocoque), bukan plastik seperti kebanyakan motor modern. Kesan kokohnya terasa beda. Saat diketuk, bunyinya padat. Bobotnya juga lebih berat. Secara build quality memang ada rasa “solid” yang tidak bisa dimungkiri.
Desainnya pun timeless. Mau dipakai sekarang atau 10 tahun lagi, bentuknya tetap klasik dan tidak kelihatan ketinggalan zaman. Itu daya tarik utamanya.
Mungkin salah satu faktor kenapa harganya tinggi adalah karena banyak unit Vespa masuk dalam bentuk CBU (Completely Built Up) dari Vietnam. Artinya, motor diimpor dalam keadaan utuh, bukan dirakit lokal seperti kebanyakan motor Jepang di Indonesia.
Karena impor, ada pajak dan biaya distribusi yang bikin harga naik. Struktur biaya ini yang akhirnya bikin harga Vespa terasa “melompat” dibanding motor lain dengan kapasitas mesin mirip.
Secara bisnis, ini strategi positioning. Vespa tidak mau bersaing di pasar motor murah. Mereka memposisikan diri sebagai produk semi-luxury. Jadi mahalnya memang seperti disengaja, supaya tetap eksklusif.
BACA JUGA: Mengenal Tipe Vespa Matic yang Harganya Overpriced
Harga elite, fitur amat sulit
Akan tetapi yang bikin saya kecewa adalah fiturnya yang minim, tapi harga terlalu premium. Seolah dilebih-lebihkan. Secara rasional, fiturnya tidak istimewa untuk harga segitu. Menurut saya mesinnya standar di kelas 125–150cc, fitur keselamatannya cukup, tapi tidak revolusioner, bagasinya tidak sebesar skutik yang ada di Jepang bahkan suspensi kadang terasa keras, apalagi dengan bobot berat, hal ini kurang ramah buat pemula.
Dengan uang yang sama, orang bisa dapat motor matic Jepang dengan fitur lebih lengkap dan teknologi lebih modern. Itulah kenapa saya bilang, kalau beli Vespa hanya demi gengsi, potensi nyeselnya besar.
Apalagi harga jual kembali tidak selalu aman. Banyak orang bilang Vespa kuat di harga jual kembali. Tapi realitasnya tidak selalu begitu. Untuk beberapa tipe tertentu, depresiasinya tetap terasa. Apalagi kalau kondisi kurang terawat atau kilometernya tinggi.
Karena harga awalnya sudah mahal, ketika dijual kembali selisihnya bisa terasa “nyesek”. Tidak semua tipe Vespa jadi barang investasi.
BACA JUGA: Vespa Matic Itu Overrated, Masih Kalah Nyaman dengan Yamaha Mio Generasi Pertama, Jauh!
Beli? Hm, pikir dua kali sih
Secara pribadi, kalau saya punya uang setara harga Vespa baru, mungkin saya akan berpikir dua kali. Dengan nominal yang sama, saya bisa beli mobil bekas yang masih layak pakai, tambah sedikit dapat city car lama, atau beli motor lebih murah dan sisa uangnya untuk tabungan/investasi.
Kalau Vespa memang dipakai harian dan benar-benar karena suka desain serta filosofinya, itu beda cerita. Tapi kalau cuma buat nongkrong dan terlihat keren di tongkrongan? Rasanya terlalu mahal untuk sekadar gengsi.
Jadi, salah beli Vespa? Nggak juga si. Vespa itu soal rasa. Soal gaya hidup. Soal identitas. Orang yang beli Vespa biasanya bukan cuma cari kendaraan, tapi cari pengalaman dan simbol status.
Masalahnya muncul ketika orang memaksakan beli demi terlihat “naik kelas”, padahal secara finansial berat. Cicilan besar, biaya servis relatif mahal, sparepart tidak semurah motor Jepang akhirnya jadi beban. Kalau sudah begitu, yang awalnya beli buat gaya bisa berubah jadi sumber penyesalan.
Vespa matic bukan motor jelek. Build quality bagus, desain ikonik, dan punya nilai emosional yang kuat. Tapi secara rasional, harganya memang tinggi dibanding fitur yang didapat. Kalau beli karena cinta desain dan memang mampu secara finansial, silakan. Tapi kalau cuma demi gengsi dan ingin terlihat keren, ada baiknya pikir ulang.
Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Beli Vespa Mahal-mahal sampai Rp50 Juta, tapi Tak Paham Fungsinya, Dibeli karena Warnanya Lucu
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
