Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

UNY, Kampus Pendidikan yang (Tidak Selalu) Mendidik

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
4 April 2025
A A
UNY, Kampus Pendidikan yang (Tidak Selalu) Mendidik Mojok.co

UNY, Kampus Pendidikan yang (Tidak Selalu) Mendidik (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada sebuah guyonan klasik di tongkrongan saya dan kawan-kawan “UNY itu kampus pendidikan, tapi lebih banyak mencetak pengajar daripada pendidik.” Ini bukan sekadar lelucon, tapi refleksi pahit yang kalau dipikirkan lama-lama bisa bikin kepala pening.

Bayangkan, kamu masuk UNY dengan idealisme membara ingin menjadi guru yang membentuk generasi bangsa. Begitu masuk, kamu dijejali teori pendidikan, metode mengajar, dan seabrek tugas yang membuatmu bertanya, “Ini kuliah atau pelatihan tentara?” Lalu, setelah empat tahun (atau lebih, kalau kamu terlalu menikmati hidup di Jogja), kamu lulus dan dihadapkan pada kenyataan: gaji guru honorer nggak cukup buat bayar kos, apalagi nyicil motor.

Mahasiswa pendidikan UNY banting stir ke pekerjaan lain

Lucunya, banyak lulusan UNY yang akhirnya malah bekerja di luar jalur pendidikan. Ada teman saya, dulu kuliah Sastra Indonesia di UNY, sekarang jadi pegawai bank. Katanya, di bank dia tetap menggunakan ilmunya: membaca dan memahami teks, seperti kontrak kredit dan surat perjanjian. Luar biasa, kan? Kuliah tentang Chairil Anwar, kerjaannya ngitung bunga pinjaman. Ini bukti bahwa ilmu itu fleksibel, atau justru bukti bahwa sistem pendidikan kita mencetak lulusan yang bingung mau jadi apa setelah lulus?

Fenomena ini bukan cuma terjadi di jurusan Sastra. Mahasiswa Fisika yang dulu eksperimen tentang hukum Newton, sekarang sibuk jualan asuransi. Mahasiswa Pendidikan Sejarah yang hafal kronologi perang Diponegoro, sekarang jadi admin media sosial. Ironi? Tentu. Tapi yang lebih ironis lagi, mereka sebenarnya lebih beruntung daripada mereka yang tetap nekat jadi guru.

Jadi guru itu antara panggilan jiwa dan dompet yang merana

UNY memang mencetak banyak guru, tapi sistem pendidikan Indonesia tidak terlalu ramah pada mereka. Bayangkan, seorang lulusan UNY diterima sebagai guru honorer di sebuah sekolah. Gaji per bulan? Mungkin hanya setara dengan uang saku mahasiswa di Jogja yang rajin nongkrong di angkringan. Dengan honor sekecil itu, bagaimana mereka bisa bertahan hidup, apalagi berpikir untuk menikah dan membangun keluarga?

Itu mengapa, banyak dari mereka yang akhirnya banting setir. Ada yang jadi pegawai swasta atau lanjut kuliah S2 dengan harapan bisa dapat pekerjaan lebih baik. Ada yang memilih jalan ninja lain: menjadi seleb TikTok edukatif demi cuan dari endorsement. Sebagian lain tetap bertahan di dunia pendidikan, tapi dengan hati yang semakin lelah.

Dilema mahasiswa ilmu murni, kuliah apa, kerja apa?

Lalu, bagaimana dengan mahasiswa ilmu murni? Mereka yang masuk jurusan Biologi, Matematika, atau Fisika dengan harapan bisa menjadi ilmuwan, malah sering berakhir menjadi staf administrasi atau bahkan pengusaha kopi. Fenomena “kuliah apa, kerja apa” ini semakin banyak terjadi, dan UNY bukan satu-satunya yang mengalami ini.

Masalahnya, sistem pendidikan kita terlalu fokus mencetak lulusan, bukan mencetak tenaga kerja yang siap pakai. Mahasiswa ilmu murni sering kali hanya diajarkan teori, tanpa benar-benar dibekali keterampilan yang bisa langsung diaplikasikan di dunia kerja. Akibatnya, setelah lulus, mereka kebingungan mencari pekerjaan yang sesuai dengan ilmu mereka.

Baca Juga:

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

UNY, kampus pendidikan atau pabrik ijazah?

Pertanyaan besarnya, apakah UNY masih benar-benar menjadi kampus yang mencetak pendidik, atau hanya sekadar tempat produksi ijazah? Pendidikan bukan cuma soal mengajar, tapi juga soal membentuk karakter dan memberikan pemahaman tentang realitas kehidupan. Sayangnya, banyak mahasiswa yang baru sadar bahwa menjadi guru di Indonesia berarti harus siap dengan gaji kecil dan tantangan besar.

Solusinya? Mungkin kurikulum di kampus pendidikan perlu lebih jujur. Daripada hanya mengajarkan metode mengajar, lebih baik mahasiswa juga diajari tentang realitas dunia kerja, strategi bertahan hidup sebagai guru honorer, atau bahkan bagaimana cara membuka usaha sampingan. Dengan begitu, lulusan UNY tidak hanya siap mengajar, tapi juga siap menghadapi kerasnya kehidupan.

Pada akhirnya, UNY memang kampus pendidikan. Tapi, apakah lulusannya benar-benar menjadi pendidik atau justru menjadi pengajar yang kebingungan, itu pertanyaan yang masih perlu dijawab.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Membayangkan Betapa Nelangsa Jogja kalau UGM Tidak Pernah Berdiri

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 April 2025 oleh

Tags: JogjaKampus UNYptn jogjaUNY
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

Kelebihan dan Kekurangan Ibarbo Park Jogja yang Perlu Kamu Ketahui sebelum Berkunjung ke Sini

Kelebihan dan Kekurangan Ibarbo Park Jogja yang Perlu Kamu Ketahui sebelum Berkunjung ke Sini

7 Desember 2024
borobudur magelang yogyakarta mojok

Panduan Menjawab di Mana Letak Candi Borobudur agar Kalian Nggak Salah Tag Lokasi di Instastory

1 September 2020
Membandingkan Perjalanan Solo-Jogja, Mending Naik Bus Suharno Atau KRL?

Membandingkan Perjalanan Solo-Jogja, Mending Naik Bus Suharno Atau KRL?

3 Oktober 2023
Sisi Gelap Tinggal di Kecamatan Moyudan Sleman

Sisi Gelap Tinggal di Kecamatan Moyudan Sleman

9 April 2023
Ilustrasi Stasiun Beran Sleman, Jalur Spesial Penghubung Jogja-Magelang (Unsplash)

Stasiun Beran Sleman, Stasiun Penghubung Jogja dengan Magelang yang Kini Menjadi Markas Koramil

1 Januari 2024
Daripada Bikin Malioboro, Ada Baiknya Magelang Fokus Wisata Seribu Candi Saja

Daripada Bikin Malioboro, Ada Baiknya Magelang Fokus Wisata Seribu Candi Saja

22 Mei 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial yang Cerdas Mojok.co

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial Paling Cerdas

7 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

4 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026
Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 
  • Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa
  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.