Informasi
ADVERTISEMENT

Universitas Terbuka buktikan jadi sarjana tak harus pindah kota, apalagi sampai lupa jalan pulang

Universitas Terbuka buktikan jadi sarjana tak harus pindah kota, apalagi sampai lupa jalan pulang

Kuliah di Universitas Terbuka ngajarin aku bahwa jadi sarjana itu nggak wajib dibarengi acara pindah KTP dan lupa jalan pulang

Ada semacam mitos yang dari dulu dipercaya banyak orang: kalau mau sukses, ya harus merantau. Semakin jauh kuliahnya dari rumah, semakin keren ceritanya nanti pas lebaran. Aku dulu mikirnya juga begitu. Tapi lama-lama aku sadar, mitos ini yang bikin banyak desa kehilangan orang-orang terbaiknya, satu per satu, tiap tahun ajaran baru pasti ada yang pergi. Itu semua sebelum saya mengenal Universitas Terbuka.

Coba deh perhatiin, tiap habis lulus SMA, anak-anak kampung ramai-ramai packing buat berangkat ke kota. Sebagian karena memang pengin nyari ilmu yang lebih luas, sebagian lagi karena mereka pengin kabur. Kabur dari ditanyain kapan nikah sama tetangga, kabur dari gosip kampung, kabur dari rasa sumpek tinggal di tempat yang itu-itu aja. 

Begitu nyampe kota, ternyata enak. Kosnya nyaman, punya circle baru yang asyik, jauh dari drama lambene tonggo. Pas udah lulus kuliah, banyak yang mikir dua kali buat balik. Akhirnya milih kerja di kota, menetap di kota, dan desa cuma jadi tempat mudik setahun sekali. 

Aku memutuskan untuk memilih jalan yang berbeda. Aku kuliah di Universitas Terbuka, dan sejauh ini jadi bukti buat aku sendiri bahwa gelar sarjana itu nggak ada hubungannya sama seberapa jauh kamu ninggalin rumah.

Kuliah di Universitas Terbuka: pendidikan jalan, aktivitas di kampung juga bisa jalan

Yang paling kerasa, aku tetap bisa menjalani hidup normal di kampung sambil kuliah. Pagi sampai jam 4 sore masih bisa ngajar TK, kadang lanjut nanti ikut kumpul rutin sama pemuda, terus malamnya baru buka modul dan ngerjain tugas. Nggak cuma duduk di kelas dari jam 7 pagi.

Jadi kuliah yang menyesuaikan hidupku, bukan hidupku yang harus menyesuaikan jadwal kuliah.

Dompet jadi lebih aman, tanpa drama buat bayar kos

In this economy, wajar saja kalau kita mikir dua kali soal budget. Kuliah di Universitas Terbuka nggak nuntut aku harus ngekos di kota lain dengan biaya yang kadang bikin mikir, apalagi sampai jarang pulang karena “keenakan” di tempat rantauan. Uang yang harusnya abis buat sewa kamar dan transport harian, bisa dipakai buat hal lain yang lebih berguna

Aku juga jadi bisa tetap srawung sama emak-emak di kampung, bantu-bantu kalau pas ada kegiatan 17-an, ikut kumpulan muda-mudi yang jelas nggak bisa dilakuin sama orang yang jauh di perantauan. Kuliah di Universitas Terbuka memang seenak itu.

Sarjana yang pulang untuk membangun, bukan cuma pas mudik lebaran saja

Selama ini kita kebiasaan mikir kalau orang pintar otomatis harus pergi ke kota biar “berkembang.” Padahal siapa lagi yang bakal ngurusin kampung kalau bukan orang yang paham betul isinya? Anak-anak di desaku butuh guru ngaji, butuh yang ngajarin baca tulis lebih telaten, butuh yang bisa dampingi bikin proposal kegiatan pemuda dan itu semua bisa aku lakuin sambil tetap jadi mahasiswa.

Ijazahku di Universitas Terbuka nanti bukan tiket buat kabur, tapi modal buat benerin apa yang selama ini kurang di kampungku sendiri.

Merantau itu nggak salah. Banyak yang memang butuh keluar biar dapat pengalaman baru dan jaringan yang nggak ada di kampung. Tapi sebetulnya, ada jalan lain yang sering dianggap kurang keren padahal dampaknya bisa lebih terasa buat daerah sendiri.

Kuliah di Universitas Terbuka ngajarin aku bahwa jadi sarjana itu nggak wajib dibarengi acara pindah KTP dan lupa jalan pulang. Cara yang paling nyata buat memajukan kampung halaman ya dengan tetap tinggal di situ, sambil pelan-pelan belajar jadi lebih berguna buatnya.

Penulis: Nur Anisa Budi Utami
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Saya Sempat Meremehkan Universitas Terbuka, Sampai Akhirnya Saya Menjalaninya Sendiri sambil Kerja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2026 oleh .

Nur Anisa Budi Utami

Guru TK yang tinggal di Kulon Progo. Suka menulis, ngopi, dan jalan-jalan.