Kendaraan pribadi di Indonesia sudah menjadi kebutuhan, setiap tahun persentase peningkatan jumlah kepemilikan kendaraan makin tinggi, termasuk di Surabaya. Tak heran jalanan Surabaya yang lenggang seperti 10 tahun semakin lalu sulit ditemui. Rata-rata sudah penuh sesak kendaraan dengan asap knalpot yang menggangu paru-paru.
Termasuk di kawasan simpang Tuwowo Kenjeran, Surabaya utara. Aturan lalu lintas di lampu merah menuju arah Jembatan Suramadu ini bak pajangan saja, begitu pula pos polisi yang berdiri di pojok jalan. Pelanggaran lalu lintas begitu mudah ditemui bahkan kita dipandang aneh jika kita berkendara dengan taat.
Mungkin karena lampu merah Tuwowo adalah saingan berat lampu merah Pegirian, mereka saling berlomba dalam keruwetan. Nyawa bagaikan chiki rentengan yang terhayun di warung kelontong, setiap saat bisa saja diambil sang pencipta.
Lampu Tuwowo Surabaya dan kompetisi siapa paling nekat
Dari kecil hingga dewasa, saya sering melewati lampu merah Tuwowo Surabaya. Jika lampu merah Pegirian itu simpang kecil, lampu merah Tuwowo adalah persimpangan yang menjadi titik kepadatan berbagai arah jalan besar, seperti Merr, Rangkah, Putro Agung dan tentu saja Kedung Cowek.
Kita bisa mengenali tempat itu melalui masjid megah yang tampak dari sudut persimpangan. Masjid ini sempat terkenal karena beberapa tahun lalu dana masjid dikorupsi oleh takmirnya sendiri selama bertahun-tahun.
Kesemrawutan tergambar jelas di sana. Mulai dari pengendara motor maju hingga mepet ke persimpangan yang lain. Bahkan, dulu pernah ada sebuah mobil pickup yang ikut ugal-ugalan.
Sering juga dari arah lain, pengendara motor cepat-cepat melenggang meski tanda lampu masih merah. Bukan cuma satu dua motor, tapi beberapa sekaligus.
Melewati daerah ini saat jam-jam padat sungguh bikin stress. Itu mengapa, sebelum kalian melewati perempatan Tuwowo sebaiknya persiapkan diri dengan baik, seperti menyediakan rasa sabar yang banyak. Jika tidak bisa, maka nekat adalah pilihan paling rasional untuk mempertahankan nyawa.
Di sini, pejalan kaki hanya pemeran figuran
Sebagai pegiat advokasi pejalan kaki di Surabaya, daerah ini termasuk salah satu zona paling tidak ramah pejalan kaki dan pesepeda. Bukan tanpa alasan, kondisi kesemrawutan di lampu merah Tuwowo tadi adalah puncak dari segala pelanggaran yang terjadi.
Di kawasan ini juga jarang ditemukan fasilitas untuk pejalan kaki seperti trotoar layak. Sekalipun ada, kalah eksis dengan warung pedagang kaki lima yang berdiri diatas trotoar. Sehingga ketika berjalan kaki di sini, kita akan turun ke bahu jalan dan itu sangat berisiko sekali terkena serempetan/tabrakan dengan kendaraan.
Paling berbahaya justru ketika kita menyeberang jalan di daerah sini, meskipun sudah ada penyeberangan sebidang seperti zebra cross atau pelican crossing, nyawa kita tidak ada harga dirinya. Kecepatan kendaraan tanpa sungkan melebihi batas kecepatan. Jadi hal seperti ini lah yang membuat angka fatalitas kecelakaan di jalan khususnya pejalan kaki meningkat.
Masalahnya bukan sekadar pengendaranya
Ketika berada di kawasan Tuwowo ataupun Pegirian memang terasa sangat berbeda ketika kita berada di kawasan Darmo. Pengendara begitu tertib, bahkan melewati zebra cross saja mereka sungkan. Tapi aku jadi sadar, bahwa perilaku pengendara tidak bisa langsung dihakimi sebagai suatu kesalahan individu karena bisa saja berubah tergantung daerah mana mereka lewati, termasuk Tuwowo.
Di jalanan pusat pun penegakan hukum masih lazim kita jumpai. Bahkan, pos polisi begitu ditakuti di beberapa titik. Jarang sekali aku melihat pengendara tidak memakai helm, begitupun dengan pelanggaran lalu lintas lainnya. Ini menunjukkan ada komponen yang hilang di daerah Tuwowo, yaitu penegakan hukum secara konsisten dan tegas.
Jadi buat pemerintah Kota Surabaya seharusnya menyadari ini adalah masalah struktural, termasuk tata kota dan kebijakan mengenai kendaraan pribadi. Begitupun pihak aparat penegak hukum bisa lebih merata dalam menegakan aturan dan mensosialisasikan.
Selama kondisi ini dibiarkan, setiap pelanggaran yang dianggap sepele hanya tinggal menunggu waktu berubah menjadi kecelakaan. Pada akhirnya, nyawa pengguna jalan tidak lebih dari angka yang menambah statistik korban lalu lintas.
Penulis: Aditya Ikhsan Pradipta
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Jangan cintai Surabaya secara berlebihan, ia juga punya kekurangan yang patut dibicarakan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
