Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Turis Membunuh Jogja

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
3 Januari 2023
A A
Culture Shock Orang Surabaya Meski Sudah Menetap di Jogja (Unsplash.com)

Culture Shock Orang Surabaya Meski Sudah Menetap di Jogja (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Perkara ruang publik dan ruang hijau juga direnggut oleh sektor pariwisata. Krisis ruang terbuka hijau di Jogja tidak hanya diakibatkan keterbatasan lahan. Tapi juga berebut lahan untuk perhotelan. Sebagai daerah tujuan wisata, kebutuhan hotel di Jogja terus meningkat. Yang berarti makin sempitnya area yang bisa menjadi ruang terbuka hijau. Bahkan sampai saat ini, target 30 persen ruang terbuka hijau masih belum terealisasikan.

Ketersediaan ruang publik juga sama saja. Justru lebih menyedihkan karena warga Jogja harus berebut ruang publik dengan wisatawan. Sudah bisa dibayangkan bagaimana warga lokal harus berebut dengan 7 juta wisatawan yang datang silih berganti. Belum lagi akses menuju ruang publik yang terhalang kemacetan akibat luapan wisatawan. Turis menguasai Jogja, dan warganya hanya menjadi penonton. Lebih parahnya, menjadi tontonan para turis.

Sekda Kota Yogyakarta sampai mengimbau agar warganya jangan bepergian. Agar warga lokal memberi kesempatan untuk para pelancong berwisata dengan nyaman. Dari imbauan ini saja, sudah terlihat bagaimana ruang publik dan ruang hidup warga sudah direbut wisatawan. Bahkan harus mengalah pada para pelancong yang digadang menghidupkan perekonomian.

Namun itu semua belum cukup. Paku peti terakhir disumbang oleh gentrifikasi, seakan menyempurnakan pembunuhan. Mass Tourism menjadi promotor utama untuk berinvestasi hunian di Jogja. Mereka yang merasakan “romantisnya” Jogja berebut untuk memiliki hunian. Akibatnya, harga hunian terus meroket, sedangkan warga tidak punya cukup kapital untuk memiliki hunian

Gentrifikasi ini tidak main-main. Pengalaman keluarga saya, harga tanah di Jogja bisa melonjak hanya dalam hitungan minggu. Bayangkan, kami membeli tanah pada 2011-2012 di pinggiran jogja seharga 50 jutaan. Seminggu kemudian, ada yang menawar tanah kami seharga 70 jutaan. Ini tidak terjadi sekali, tapi beberapa kali terjadi sampai titik keluarga kami tidak bisa membeli tanah baru.

Maka tidak perlu kaget berlebihan ketika generasi muda Jogja tidak bisa membeli rumah. Mereka harus bersaing dengan kelompok masyarakat luar yang mempermainkan harga pemukiman. Semua akibat dari gentrifikasi di tanah kelahiran mereka sendiri. Dan diakibatkan oleh sektor pariwisata yang digadang menyelamatkan ekonomi mereka.

Lalu apa yang harus dilakukan? Jogja terlanjur ramah bagi wisatawan. Di satu sisi turis membunuhnya. Mungkin yang bisa dilakukan hanya melihat pembunuhan ini. Jogja yang istimewa sedang dihajar turis. Dibekap oleh tumpukan sampah wisatawan. Dicekik oleh perebutan ruang publik. Dan dikubur oleh gentrifikasi.

Kali ini, turu tetap beresiko. Karena ketika Anda tidur, melupakan semua, kota ini sedang tercekik kekurangan oksigen. Perlahan, lembut, dan pasti.

Baca Juga:

Tinggal dekat Ringroad Barat itu nggak nyaman, tiap malam diteror suara blayer motor yang meresahkan

Jalan alternatif Jogja-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kok Bisa Ada Orang Bahagia di Jogja, padahal Hidup Mereka Susah?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.
Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 5 Januari 2023 oleh

Tags: gentrifikasiJogjaTuristurisme
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Pasar Mangiran Srandakan Bantul: Pakai Pasaran Jawa dan Punya Pasar Malam, tapi Tergerus Akibat Jogja Makin Padat

Pasar Mangiran Srandakan Bantul: Pakai Pasaran Jawa dan Punya Pasar Malam, tapi Tergerus Akibat Jogja Makin Padat

25 April 2024
3 Ide Usaha yang Laris Manis di Jogja, Cocok untuk Mahasiswa

3 Ide Usaha yang Laris Manis di Jogja, Cocok untuk Mahasiswa

4 September 2024
Apakah Malioboro Masih Istimewa Tanpa PKL di Emperan Toko? terminal mojok.co

Apakah Malioboro Masih Istimewa Tanpa PKL di Emperan Toko?

20 Januari 2022
Malioboro Nggak Cocok untuk Jogging Pagi Kaum Introvert (Pexels)

Malioboro Nggak Cocok untuk Jogging Pagi Kaum Introvert: Terlalu Ramai dan Full Fotografer

24 Januari 2025
Bus Pariwisata Adalah Bencana bagi Orang Jogja: Sopirnya Ugal-ugalan dan Nggak Tahu Diri

Bus Pariwisata Adalah Bencana bagi Orang Jogja: Sopirnya Ugal-ugalan dan Nggak Tahu Diri

16 September 2024
Batas Usia Kerja Bunuh Masa Depan Pencari Kerja Usia 30 Tahun! (Unsplash)

Batas Usia Kerja Nyata Menyiksa Pencari Kerja dengan Usia di Atas 30 Tahun Seperti yang Saya Rasakan

19 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Setelah akad KPR rumah, saya baru sadar bahwa beli rumah bukannya jadi solusi, tapi justru jadi masalah baru

1 Agustus 2026
Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama Mojok.co

Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama

6 Agustus 2026
Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu Mojok.co

Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu

2 Agustus 2026
Ide bisnis buat pebisnis Semarang kalau punya punya 100 miliar (Unsplash)

Ide bisnis yang muncul di kepala saya kalau punya uang 100 miliar adalah bikin rumah kesejahteraan khusus anjing di Semarang

2 Agustus 2026
Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Dari gaya hingga performa, inilah 6 alasan Suzuki Swift ST 2008 cocok jadi mobil pertama

6 Agustus 2026
Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

6 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.