Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Tugu Biawak Wonosobo Bikin Orang Nganjuk Iri dan Teringat Luka Lama

Desy Fitriana oleh Desy Fitriana
5 Mei 2025
A A
Tugu Biawak Wonosobo Bikin Orang Nganjuk Iri dan Teringat Luka Lama Mojok.co

Tugu Biawak Wonosobo Bikin Orang Nganjuk Iri dan Teringat Luka Lama (httpssirs.kemkes.go.idfohomeprofile_rs3311224 - 2025-05-05T130619.276)

Share on FacebookShare on Twitter

Warga Nganjuk memang sudah terbiasa sabar. Sabar menanti info loker, sabar melihat tata kota yang amburadul, sabar melewati jalan berlubang, sabar lewat jalan tanpa penerangan, sabar dengan gebrakan-gebrakan pemerintahnya, dan sabar yang lainnya. Tapi, kesabaran saya sebagai warga Nganjuk langsung pupus ketika menyimak cerita pembuatan Tugu Biawak di Wonosobo yang viral. 

Bagaimana kesabaran saya tidak runtuh, Nganjuk punya banyak sekali tugu dan patung monumen. Bahkan, 8 tugu dibangun hampir bersamaan pada 2022. Namun, tidak ada satu pun dari tugu itu viral seperti Tugu Biawak Wonosobo. Sekalinya tugu di Nganjuk viral, itu karena bentuknya yang nggak jelas, menelan biaya fantastis, hingga material yang mudah rusak.

Sementara, di Wonosobo, satu tugu biawak bisa menggemparkan jagad maya. Tentu saja menggemparkan sebab bentuknya menyerupai biawak asli, penuh makna, dan melibatkan warga sekitar. Terlebih dari itu, tugu ini menggemparkan karena dianggap mengobrak-abrik harga pembuatan tugu di berbagai daerah yang selama ini mencapai ratusan juta, bahkan bisa menyentuh miliaran rupiah.  

Tugu Biawak Wonosobo punya cerita, tugu di Nganjuk bikin bingung saja

Tugu Biawak di Wonosobo terlihat punya konsep yang matang, tidak asal-asalan. Ada alasan yang jelas mengapa memilih hewan biawak untuk dijadikan tugu di Desa Kresak. Tugu ini ingin bercerita bahwa Desa Krasak merupakan habitat endemik biawak. Warga lokal biasa menyebutnya “menyawak”. Singkatnya, tugu tersebut ingin merepresentasikan identitas daerah dan pelestarian ekosistem lokal. Harapannya, orang-orang yang melihat tugu biawak jadi ingat untuk terus menjaga kelestarian alam dan fauna lokal.

Sementara di Nganjuk, kebanyakan tugu dibangun tanpa makna. Tidak sedikit warga yang geleng-geleng kepala ketika melihat sebuah tugu dibangun. Terlebih, bentuknya memang tidak jelas. “Ini maksude opo yo?” begitulah suara hati warga Nganjuk. 

Salah satunya, Tugu Asmaul Husna yang berada di simpang tiga Warujayeng. Orang yang tidak paham seni saja bisa bilang desain tugu itu kureng. Bentuknya kurang menarik cuma seperti lampion. Parahnya lagi, tugu tersebut dibuat bukan genap 99, tetapi cuma 94. Maknanya pun tidak merepresentasikan daerah tersebut. Menurut saya, tugu tersebut jelas buang-buang uang saja. Kalau memang pengin melihat Asmaul Husna, kalian bisa langsung lihat Quran, dinding masjid. Kalau memang ingin melihatnya dalam bentuk tugu, kalian bisa berkunjung ke Makam Gus Dur jelas lebih komplit, nggak bikin kecewa, dan lebih sesuai tempatnya. Mengingat, warga Nganjuk itu multikultural, jadi nggak cocok kalau simbol-simbol agama di tonjolkan menjadi tugu.

Masih banyak tugu-tugu lain yang bentuknya lebih aneh dan tidak mewakili daerah-daerah di Nganjuk. Hal tersebut membuat saya sebagai warga asli bisa sering kebingunan. Keberadaan tugu sejatinya bisa jadi simbol kebanggaan, kalau cuma bikin warga bingung ya buat apa, Pak/Bu terhormat?

Prosesnya cepat, biayanya masuk akal, beda banget sama Nganjuk

Tugu Biawak Wonosobo yang terlihat realistis itu dibangun dengan anggaran yang masuk akal dan jangka waktu wajar. Bayangkan saja, dalam kurun waktu 1,5 bulan dengan anggaran Rp50 juta bisa menghasilkan tugu yang sangat estetis dan menarik banyak masa. Tugu yang digadang-gadang sebagai simbol daerah pun kini bisa menjadi berkah bagi masyarakat setempat. Hal tersebut terlihat dari banyak artikel dan berita yang mengungkapkan bahwa banyak masyarakat dari luar kota rela berkunjung hanya untuk melihat tugu tersebut. Sehingga, hal tersebut pula yang membuka rejeki masyarakat sekitar tugu itu pula.

Baca Juga:

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

Tips Makan Mie Ongklok Wonosobo agar Nggak Terasa Aneh di Lidah

Kenyataan itu jelas membuat iri banyak warga di daerah lain, terutama daerah-daerah yang punya tugu dengan nilai pembuatan fantastis. Tidak terkecuali warga Nganjuk seperti saya. Bayangkan saja proyek-proyek ruang publik di Nganjuk anggarannya bisa mencapai puluhan hingga menyentuh miliaran rupiah. Proses pembuatannya lama, bahkan tidak sedikit yang jadi proyek tahunan. Lebih geramnya lagi, hasilnya tidak sesuai dengan dana yang sudah digelontorkan. Padahal, kalau diingat-ingat lagi, dana pembuatan tugu atau proyek ruang publik sebenarnya diambil dari APBD yang mana ada duit rakyat juga di situ. Sangat wajar sih orang Nganjuk sakit hati. 

Saya tidak perlu (lebih tepatnya tidak ingin) menuliskan daftar tugu yang bikin orang Nganjuk seperti saya sakit hati. Kalian sebagai pembaca cerdas bisa cek di berbagai pemberitaan yang secara gamblang sudah menampilkan dana pembuatan tugu dan foto hasilnya. Tampaknya, bagi pemerintah setempat, prioritas utamanya adalah yang penting tugu berdiri, soal estetika dan fungsi publik? Pikir keri. Duh, yaapa Nganjuk bisa maju, Pak?

Warga diajak terlibat, bukan cuma jadi penonton

Proses pembangunan Tugu Biawak Wonosobo turut menampilkan solidaritas antar masyarakat, seniman lokal, dan pemerintah setempat. Berdasarkan beberapa artikel yang saya baca, pembangunan tugu tersebut diawali dari ide para karang taruna Desa Krasak yang kemudian didengar oleh bupati. Setelahnya, langsung ditunjuk seniman lokal, Arianto, untuk mengeksekusinya. Dana pembangunan tugu digelontorkan dari program CSR sejumlah BUMD di Wonosobo. Proses ini sekaligus menunjukkan  bahwa pemerintah setempat responsif terhadap aspirasi masyarakat, dan mengeksekusinya dengan langah yang tepat. 

Di Nganjuk, peran warga terhadap tugu-tugu yang tersebar di sana itu nol alias nggak ada sama sekali. Sebenarnya ada dua kemungkinan, warga memang tidak mau terlibat atau warga memang tidak diberi kesempatan untuk terlibat. Kalau saya sih lebih percaya pada alasan ke dua, tidak diberi kesempatan. Kami sering kaget, tiba-tiba saja ada proses pembuatan tugu atau tugu langsung jadi. Lebih kagetnya lagi, bentuknya aneh. Itu mengapa tugu di Nganjuk lebih sering dicaci daripada dibanggakan. Daripada duitnya untuk membuat hal seperti itu, mending dialihkan untuk pembuatan atau perbaikan fasilitas publik lain yang lebih urgen.

Tugu Biawak Wonosobo berhasil membuka luka lama warga Nganjuk

Viralnya Tugu Biawak Wonosobo sebenarnya membuka luka lama warga Nganjuk. Sebab kalau di Wonosobo tugunya viral karena murah, cepat, dan bagus, di Nganjuk justru sering viral karena anggarannya yang bikin geleng-geleng, bentuknya yang jadi bahan olokan netizen, dan baru beberapa hari selesai, sudah mengalami kerusakan.

Sejujurnya ini sangat membosankan. Tinggal di kota yang punya banyak tugu, tapi tidak ada satu pun yang benar-benar bikin bangga. Rasanya seperti punya banyak kenangan, tapi semuanya pahit.

Mungkin sudah saatnya pembangunan di Nganjuk, sekecil apa pun itu mulai direncanakan dengan lebih matang dan melibatkan warga. Minimal, pemerintah setempat rajin update di media sosial soal proyek yang mau dijalankan. Upload desainnya, tanya pendapat warga, terima ruang seluas-luasnya untuk diskusi. Itu perlu supaya warga merasa punya andil, bukan cuma jadi penonton kagetan tiap ada bangunan baru yang nongol. dengan begitu, warga jadi lebih punya rasa memiliki terhadap tugu-tugu itu, terhadap Nganjuk. Pripun jika lain kali menerapkan langkah tersebut, Pak/Bu terhormat?

Penulis: Desy Fitriana
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Dear Bupati Nganjuk, Bangun Banyak Tugu buat Apa, sih? Nggak Ada Manfaatnya buat Warga

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Mei 2025 oleh

Tags: nganjuktugutugu biawak wonosobowonosobo
Desy Fitriana

Desy Fitriana

Anak kos Ketintang

ArtikelTerkait

Tempe Kemul, Bukan Mendoan dan Tempe Tepung. Ini Tempe Aliran 'Keras' terminal mojok.co

Tempe Kemul, Bukan Mendoan dan Tempe Tepung. Ini Tempe Aliran ‘Keras’

1 Maret 2021
Kecamatan Wadaslintang Beda Ia Anak Tiri Kabupaten Wonosobo (Unsplash)

Karena Berbeda 180 Derajat dengan Dieng dan Wonosobo Atas, Kecamatan Wadaslintang Seperti Menjadi Anak Tiri yang Tidak Dikenal

5 Juni 2025
Jalan Raya Madiun-Nganjuk, Jalur Tercepat Menuju Magetan dari Mojokerto yang Penuh Bahaya

Jalan Raya Madiun-Nganjuk, Jalur Tercepat Menuju Magetan dari Mojokerto yang Penuh Bahaya

7 Maret 2024
Dilema Mudik Lewat Wonosobo: Pemandangannya Indah sih, tapi Problematik banjarnegara

Jalan Wonosobo-Banjarnegara, Jalur Meresahkan yang Nggak Cocok buat Pengendara dengan Skill Sepele

15 September 2023
Jalur Alternatif Wonosobo-Dieng via Bedakah Adalah Jalur Paling Aman untuk Menikmati Wisata Wonosobo Tanpa Uji Adrenalin

Jalur Alternatif Wonosobo-Dieng via Bedakah Adalah Jalur Paling Aman untuk Menikmati Wisata Wonosobo Tanpa Uji Adrenalin

8 Juli 2024
Sudah Saatnya Jalur Kereta Api Purwokerto-Wonosobo Diaktifkan Kembali

Sudah Saatnya Jalur Kereta Api Purwokerto-Wonosobo Diaktifkan Kembali

8 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan Mojok.co

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan

1 Februari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Normalisasi Joki Skripsi Adalah Bukti Bahwa Pendidikan Kita Memang Transaksional: Kampus Jual Gelar, Mahasiswa Beli Kelulusan

4 Februari 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026
Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026
4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang Mojok.co

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.