Transjakarta Koridor 10 Jurusan PGC 2-Tanjung Priok, Bus yang Menguji Peruntungan Penumpang

Transjakarta Koridor 10 Jurusan PGC 2-Tanjung Priok, Bus yang Menguji Peruntungan Penumpang

Transjakarta Koridor 10 Jurusan PGC 2-Tanjung Priok, Bus yang Menguji Peruntungan Penumpang (Unsplash.com)

Membahas soal Transjakarta seolah nggak ada habisnya. Maklum, banyak sekali cerita dari para pengguna transportasi yang sudah ada di Jakarta sejak tahun 2004 ini. Mulai dari jam kedatangan bus yang kerap terlambat, bus yang tetap ikut macet-macetan bersama pengguna jalan lain, kebijakan pihak TJ yang kadang menuai kritik, hingga kasus pencurian dan pelecehan dalam bus kerap kita dengar. Kali ini, saya akan membagikan sedikit cerita dari Transjakarta Koridor 10 yang melayani trayek PGC 2-Tanjung Priok.

Transjakarta Koridor 10, penghubung daerah timur dan utara Jakarta

Buat teman-teman yang belum tahu, Koridor 10 adalah salah satu koridor Transjakarta yang bertugas menghubungkan daerah timur Jakarta dengan daerah pesisir Jakarta nun jauh di utara. Dimulai dari Halte PGC 2 (Pusat Grosir Cililitan) di Jakarta Timur, kemudian melewati Jatinegara, Cempaka Putih, Sunter, dan berakhir di Terminal Tanjung Priok (berlaku sebaliknya alias PP).

Siapa sih yang nggak kenal Tanjung Priok? Wilayah pelabuhan besar di utara kota ini juga dikenal sebagai daerah keras. Walau mendapat julukan sebagai daerah keras, nyatanya banyak orang dari luar Priok yang bekerja di daerah ini. Salah satu transportasi umum andalan yang dapat mengantarkan para pekerja ini adalah Transjakarta Koridor 10.

Sebenarnya nggak semua pengguna Transjakarta Koridor 10 memiliki tujuan ke Tanjung Priok, sih, mengingat rute koridor ini bertemu dengan rute koridor lain seperti koridor 11, 4, dan 2, maka tujuan para penumpang beragam. Akan tetapi yang pasti, salah satu dari tujuan tersebut adalah Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di Rawamangun. Hal ini dikarenakan banyak mahasiswa UNJ yang menggunakan bus Transjakarta untuk menuju ke kampus, dan pertemuan rute koridor 10 dengan koridor 4 itulah yang mendasari para mahasiswa pergi pulang dari kampus naik TJ.

Baca halaman selanjutnya: Jalannya lurus-lurus aja…

Jalannya lurus-lurus aja

Satu hal yang menarik dari Transjakarta Koridor 10 adalah rute jalannya yang lurus-lurus aja. Mulai dari Halte PGC 2, bus ini hanya berjalan lurus sepanjang kurang lebih 18 kilometer ke arah utara hingga Halte Permai Koja, halte ketiga terakhir. Kemudian bus akan berbelok ke kiri di Pertigaan Mambo menuju Halte Enggano dan berakhir di Terminal Tanjung Priok. Arah sebaliknya pun sama, bus hanya berbelok sekali ke kanan di Pertigaan Mambo, lalu berjalan lurus ke arah selatan hingga Halte PGC 2.

Selain jalannya yang lurus-lurus aja, jalur Transjakarta Koridor 10 ini jarang diserobot oleh kendaraan pribadi. Jadi bisa dibilang koridor ini 98 persen bebas dari macet. Memang sih jalan raya yang membentang dari PGC hingga Tanjung Priok itu cukup lebar dan jarang terjadi kemacetan, kecuali kalau ada kecelakaan. Satu-satunya titik di koridor bus ini yang jalurnya kerap dimasuki oleh kendaraan pribadi berada di lampu merah pertigaan Kalimalang. Jujur aja perjalanan bus jadi tersendat di sini.

Naik Transjakarta Koridor 10 menguji peruntungan

Menurut penuturan teman saya selaku pengguna setia Transjakarta Koridor 10 PGC 2-Tanjung Priok ditambah pengalaman pribadi, kondisi di dalam bus nggak bisa diprediksi kapan waktu ramai dan sepinya penumpang, bahkan pada jam sibuk sekalipun. Kadang, situasi di dalam bus cukup lengang, tapi bisa juga padat sekali.

Kalau sedang beruntung, kita bisa duduk dengan nyaman atau terpaksa berdiri sepanjang jalan sekalipun nggak berdesak-desakkan. Nah, kalau ternyata lagi apes banget, kita bisa tuh berdesak-desakkan sepanjang jalan di dalam bus. Intinya, soal sepi atau nggaknya bus ini bersifat gambling alias untung-untungan.

Hal serupa berlaku untuk jam kedatangan bus. Jika kondisi dalam bus penuh ditambah kondisi lalu lintas ramai lancar, bus akan berhenti lebih lama di satu halte karena banyak penumpang yang naik turun. Waktu berhenti yang lama inilah yang mempengaruhi jam kedatangan bus di halte berikutnya.

Sebaliknya, kalau sedang sepi, perjalanan cenderung lebih cepat karena hanya sedikit penumpang yang naik turun. Akan tetapi kondisi ini bisa berubah saat bus tiba di halte transit. Bus yang tadinya kosong bisa saja langsung terisi penuh penumpang dan laju kecepatannya jadi melambat.

Begitulah cerita mengenai Transjakarta Koridor 10. Meski menguji peruntungan penumpangnya, koridor yang telah ada sejak rute TJ terbentuk ini telah membantu jutaan masyarakat Jakarta dan sekitarnya dalam mengakses wilayah utara dan timur kota. Peranannya begitu penting dalam membantu mengurangi tingkat kemacetan dan polusi udara Jakarta.

Penulis: Muhammad Arifuddin Tanjung
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Transjakarta Koridor 9 Jurusan Pinang Ranti-Pluit Menyimpan Banyak Masalah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version