Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Toyota Calya: Tangguh, Irit, tapi Joknya B Aja

Dhimas Muhammad Yasin oleh Dhimas Muhammad Yasin
1 Desember 2021
A A
Calya
Share on FacebookShare on Twitter

Pada weekend kemarin, saya-istri beserta teman-istrinya jadi berlibur ke pantai selatan di daerah Gunungkidul. Sebut saja Pantai Somandeng. Ya, jadi akhirnya… karena awalnya kami berencana berangkat jam empat sore. Namun, sempat di-ghosting berjam-jam dan cus berangkat jam delapan malam.

Saya sempat berpikir bahwa dia akan datang dengan “mobil khas sejuta umat”, sesuai kata kunci yang dikirimkan ke WhatsApp saya. Namun, persepsi saya mendadak berubah saat mobilnya datang dengan berkali-kali mengklakson di depan rumah.

Lo, Avanza/Xenia kok oranye?

Ternyata setelah saya mendekat, lalu mempersilakan mereka untuk masuk dan berpamitan kepada Ibu, baru terlihat jelas. Mobil kinclong di bawah temaram lampu jalan itu adalah Calya. Mirip lagu India yang pernah viral satu dekade silam saat dinyanyikan oleh Briptu Norman Kamaru.

Kalian ada yang tau lagu ini? Ketauan tua.

Dari luarnya, Calya ini tampak seperti mobil masa kini, alias transmisi matic. Meskipun menurut pengakuan teman saya, mobil ini adalah Calya model transmisi manual. Mulus dan elegan memang. Sebuah tanggapan singkat-padat-jelas dari penumpang macam saya. Hehehe.

Akhirnya kami berangkat, dan mobil distarter dan rasanya cukup halus. Bodinya nggak keder, nggak kalah sama mobil MPV sejuta umat.

Dengan mengucap basmalah, kami berempat pun berangkat. Dia dan istrinya duduk di bangku baris terdepan, sedangkan saya dan istri duduk di bangku baris kedua. Untuk bangku baris ketiga, joknya dilipat untuk ditaruh barang-barang bawaan kami, seperti koper, tas, tripod, payung, termasuk tikar untuk leyeh-leyeh di pantai.

Baca Juga:

Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Jadi Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya

Innova Reborn Mobil yang Nakal dan Zalim, tapi Tetap Laku karena Kita Suka yang Kasar dan Berisik, bukan yang Saleh kayak Zenix

Lalu, saya memandangi sekilas interior mobil ini. Ada panel AC, panel musik, speedometer analog untuk kecepatan dan RPM, serta indikator bensin digital. Memang, sih, bahan dashboard-nya itu terkesan pas-pasan. Apalagi mobil ini termasuk dalam kategori LCGC, yang katanya ekonomis dan ramah lingkungan itu.

Satu hal yang membuat saya cukup lama memandang interior mobil ini adalah tempat persnelingnya yang menurut saya nggak biasa. Persnelingnya nggak berada di antara pengemudi dan penumpang depan seperti mobil pada umumnya, tapi di dashboard. Hal ini mengingatkan saya pada tuas persneling Honda Stream.

Hanya pada putaran satu, embusan AC mobil ini sudah terasa sangat sejuk. Terlebih lagi, saya baru sadar kalau mobil ini belum menggunakan AC double blower. Kalau kata dia, istilahnya itu pakai air circulator. Semacam kipas angin, jadi kayak ada efek semilirnya, begitu.

Nah, untuk kualitas speaker musiknya, saya belum tahu. Soalnya sepanjang perjalanan, kami nggak menyetel musik sama sekali. Barangkali, dia adalah tipe orang yang lebih mengutamakan interaksi sosial daripada kepuasan pribadi.

Kemudian, pada bangku baris kedua sudah terdapat panel power electric window beserta tempat minum. Saya juga melihat ada seat belt pada bangku baris kedua dan ketiga. Hal ini tentu menambah kenyamanan, supaya nggak gampang megal-megol di setiap melintasi tikungan tajam.

Sepanjang perjalanan, awalnya saya merasa nyaman dengan jok mobil khas fabric kelir ini. Lama-kelamaan, saya mulai merasakan pegal di bagian punggung. Kami berangkat dari Kartasura, Sukoharjo. Lah, baru sampai daerah Ceper, Klaten, saya sudah mulai mengganti-ganti posisi duduk. Tapi, nggak sampai jongkok, lo, ya, hehehe.

Saya pikir, mungkin karena postur tubuh saya yang tinggi, sekitar 172 cm, adalah alasannya. Namun, istri juga mengalami keluhan yang sama. Dengan postur tubuh sekitar 155 cm, dia merasa pegal di bagian tengkuk.

“Ah, harusnya bantal tidur di kamar tadi kubawa!” gerutunya.

Padahal, kalau saya perhatikan lagi jok ini sudah dilengkapi dengan headrest. Yah, walaupun kalau menurut saya, headrest-nya masih menyatu dengan jok dan terlalu rendah. Jok ini juga belum dilengkapi dengan arm rest. Jadi, kalau tangan sudah mulai kaku, saya biasa memegang handgrip di bagian atas pintu mobil. Namun, untuk sekadar mengoletkan kaki atau selonjoran, masih cukup lega, kok.

Saat melewati sepanjang jalan di Bukit Bintang yang khas menanjak dan berkelok-kelok, saya mulai merasa ada efek limbung dari mobil ini. Terlebih lagi saat berpapasan dengan bus atau truk berkecepatan tinggi. Mungkin karena faktor material bodinya yang tipis.

Namun, tarikan gas mobil ini masih cukup responsif dan menanjak tanpa kesulitan yang berarti, sekalipun di depan ada truk urug yang terus-terusan ngeden mesinnya itu. Pengereman dan pengendalian mobil yang saya rasakan pun berjalan dengan smooth. Terlebih lagi, fitur lampunya yang benderang sangat cocok untuk melintasi perbukitan dan hutan-hutan gelap.

Saat melewati sepanjang Jalan Baron yang khas enggak rata permukaannya, saya rasa mobil ini masih cukup nyaman. Mungkin karena suspensinya yang empuk. Jadi, masih bisa ditoleransi, lah, efek grudug-grudugnya. Saya juga nggak merasakan efek gasruk dari mobil yang katanya terkenal amblas ini, lo. Sepertinya mobil ini sudah mengalami maintenance atau semacamnya.

Akhirnya, kami tiba di penginapan dekat Pantai Somandeng tengah malam. Yah, sekitar empat jam perjalanan. Sudah termasuk istirahat makan soto ayam-teh hangat dan isi bensin di SPBU Kartasura. Saya pernah mendengar kalau mobil ini terkenal irit konsumsi bensinnya. Dan ternyata memang benar adanya. Seratus ribu rupiah masih turah, lo, untuk perjalanan Kartasura—Pantai Somandeng PP. Wow, good bener!

Sebelum kami turun dari mobil, petugas penginapan mengarahkan mobil kami untuk parkir ke tempat yang lebih nyaman. Saat teman saya melakukan perpindahan gigi mundur, saya mendengar semacam suara biiip… yang katanya itu suara sensor parkir. Dengan begitu, kita jadi lebih mudah memarkirkan mobil, apalagi di tempat yang sempit dan gelap.

Setelah kami semua turun dari mobil, saya melihat-lihat lagi bagian luar mobil ini. Dari pelat nomornya tertulis tanggal 10.23. Menurut ilmu titen yang saya pelajari, kita dapat mengetahui tanggal produksi mobil berdasarkan kode plat nomor tersebut. Jadi, saya yakin sekali bahwa mobil Calya ini model tahun 2018. Selain itu, mobil ini termasuk varian EMT yang sudah ABS (kata dia lagi).

Kesimpulannya, mobil ini sip buat keluarga kelas menengah ke bawah, termasuk saya. Kalau soal ketangguhannya, saya, sih, yes. Namun, kalau soal kenyamanannya, saya, sih, average. Mungkin kalau buat perjalanan dekat, masih bisa dikategorikan nyaman. At least, mobil ini nggak kalah modis sama mobil lainnya yang mejeng di penginapan dan sekitar pantai saat itu. Bolehlah kalau sekadar buat bilang ke orang-orang: This is our Calya!

Sumber Gambar: Unsplash

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 Desember 2021 oleh

Tags: calyatoyota
Dhimas Muhammad Yasin

Dhimas Muhammad Yasin

Sarjana sastra yang enggan disebut sastrawan, tinggal di Sukoharjo.

ArtikelTerkait

Avanza dan Xenia Bukan Mobil, tapi Simulasi Neraka (Wikimedia Commons)

Kursi Baris Ketiga Avanza dan Xenia Adalah Simulasi Siksa Kubur Versi Lite: Lutut Ketemu Dagu, AC Hawa Neraka, dan Ujian Kesabaran Bagi Menantu yang Belum Mapan

23 Januari 2026
Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya Mojok.co

Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Jadi Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya

23 Februari 2026
Mobil Toyota Innova Tak Tertandingi karena Ia Bukan Mobil, tapi Ormas (Unsplash)

Toyota Innova Tidak Tertandingi karena Ia Semacam Ormas, Bukan Mobil

9 Maret 2024
Toyota Harrier Gen 2: Mobil SUV Bekas Rp100 Jutaan Terbaik, Nyamannya Nggak Ada Lawan Mojok.co

Toyota Harrier Gen 2: Mobil SUV Bekas Rp100 Jutaan Terbaik, Nyamannya Nggak Ada Lawan

11 Februari 2026
Mobil Toyota Alphard Sudah Merepotkan, Penuh Kebohongan Pula (Unsplash)

Mobil Toyota Alphard: Sudah Merepotkan, Mobil Ini Juga Memuat Kebohongan Besar Soal Privilege

17 Maret 2024
Mobil Toyota Alphard Bikin Repot dan Kebohongan Soal Privilege (Unsplash)

Mobil Toyota Alphard: Mobil yang Merepotkan dan Kebohongan Soal Privilege kalau Punya Mobil Ini

29 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pamer Pencapaian Adalah Kegiatan Paling Sampah Saat Lebaran, Nggak Ada Fungsinya kecuali Bikin Orang Emosi

Pamer Pencapaian Adalah Kegiatan Paling Sampah Saat Lebaran, Nggak Ada Fungsinya kecuali Bikin Orang Emosi

12 Maret 2026
Cat Rambut di Desa Bukan Hal Sepele, Perubahan Kecil Itu Bisa Jadi Gosip Sekampung

Cat Rambut di Desa Bukan Hal Sepele, Perubahan Kecil Itu Bisa Jadi Gosip Sekampung

11 Maret 2026
Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar Mojok.co

Bagi-bagi Takjil yang Niatnya Mulia tapi Kadang Bikin Jalanan Jadi Macet dan Ricuh

7 Maret 2026
Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah Mojok.co

Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah

11 Maret 2026
4 Tips Menikmati Lumpia Semarang Tanpa Terganggu Bau Pesing dari Rebungnya Terminal

4 Tips Menikmati Lumpia Semarang Tanpa Terganggu Bau Pesing dari Rebungnya

9 Maret 2026
Menu Underrated Solaria: Porsi Banyak, Harga Terjangkau, dan Rasa Nggak Mengecewakan Mojok.co

Menu Underrated Solaria: Porsi Banyak, Harga Terjangkau, dan Rasa Nggak Mengecewakan

7 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit
  • Makanan Khas Jawa Timur yang Paling Tidak Bisa Dihindari, Jadi Pelepas Rindu ketika Mudik Setelah “Disiksa” Makanan Jogja
  • Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina
  • Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”
  • Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto
  • Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.