Harga tiket pesawat di Indonesia ini sudah nggak masuk akal. Maka, saya membuat hitungan sederhana yang lebih logis.
Di negara kepulauan seperti Indonesia, pesawat terbang adalah mode transportasi yang paling pas dan ideal. Sebab, pesawat terbang bisa mengantarkan penumpang ke berbagai pulau di Indonesia dengan waktu tempuh yang relatif singkat.
Sayangnya, alih-alih menjadi transportasi utama masyarakat, pesawat terbang justru menjadi mode transportasi eksklusif. Seakan-akan hanya kelas atas saja yang bisa menikmatinya. Semua ini karena harga tiket pesawat yang kelewat mahal, bahkan tidak masuk akal.
Bayangkan, masa harga tiket pesawat domestik lebih mahal dari tiket pesawat internasional. Tidak percaya? sini saya kasih contoh.
harga tiket pesawat dari Surabaya ke Ternate (jarak 1.850km) dengan durasi terbang 4 jam adalah Rp2,1 juta. Sementara itu, harga tiket pesawat dari Surabaya ke Bangkok (jarak 2.682 km) dengan durasi terbang 4,5 jam adalah Rp1,5 juta, kadang malah cuma Rp900 ribuan saat promo Thai Airlines.
Kalau saya menjadi menteri perhubungan yang punya kuasa dan bisa membuat regulasi tentang tarif dasar transportasi udara, saya akan membuat harga tiket pesawat yang terjangkau oleh siapa saja. Tarifnya tidak harus murah banget, tapi masuk akal.
Rute Surabaya ke Jakarta dengan harga tiket pesawat Rp1,2 juta itu kemahalan, harusnya Rp600 ribuan
Saya sendiri sering menggunakan tiket pesawat dari Surabaya ke Jakarta. Harga tiket di kelas ekonomi (Citilink dan Batik Air) untuk rute ini adalah Rp1 juta. Harga tersebut belum termasuk asuransi perjalanan. Nah, kalau pakai asuransi, lalu membayar pajak, dan biaya lain-lain, harganya menjadi Rp1,2 juta.
Menurut saya, harga Rp1,2 juta tersebut kemahalan. Harga tiket pesawat Surabaya ke Jakarta yang masuk akal adalah Rp600 ribuan.
Mari kita membuat hitung-hitungan sederhana saja. Kursi penumpang di Airbus A350 (pesawat yang digunakan oleh Citilink, Batik, dan Lion Air untuk rute pendek) berjumlah 180. Anggap saja rata-rata terisi 85% atau 153 kursi (saya sering melihat sendiri kalau rute Surabaya-Jakarta laris manis seperti kacang goreng sehingga pesawat nyaris selalu full setiap hari).
Jika setiap orang membayar Rp600 ribu, maka 153×600.000=91.800.000 per penerbangan.
Sekedar informasi, dalam sehari, Citilink ada 9 penerbangan dari Surabaya ke Jakarta (bolak balik 18 kali). Kalau ditotal dalam sehari, maka 91.800.000×9=826.200.000. Ini untuk satu kali jalan ya. Kalau bolak-balik silakan hitung sendiri. Bisa di atas 1 miliar lebih pendapatan kotor mereka dalam sehari.
Nominal sebesar itu masa tidak cukup untuk membeli avtur dan biaya operasional? Pasti cukup, lah.
Sebagai perbandingan saja, di rute dengan durasi yang sedikit lebih panjang (rute Surabaya ke Kuala Lumpur), Air Asia bisa menetapkan harga tiket pesawat Rp600 ribu, lho. Itu berarti harga tiket Rp600 ribu seharusnya sudah menguntungkan bagi maskapai. Kan tidak mungkin Air Asia menjual tiket tanpa untung?
Harga Rp600-Rp700 ribu juga masuk akal diterapkan untuk penerbangan rute pendek hingga sedang lainnya seperti rute Surabaya ke Makassar, Surabaya ke Jogja, Surabaya ke Bali, atau Surabaya ke Jogjakarta.
Harga tiket pesawat dari Jakarta ke Medan seharusnya Rp800 ribu bukan Rp11 juta
Akhir tahun lalu ramai di media sosial tentang harga tiket pesawat dari Jakarta ke Medan Rp11 juta. Rakyat jelata mana yang sanggup membeli tiket semahal itu untuk penerangan yang hanya ditempuh dalam waktu 2 jam saja?
Setelah viral dan menuai banyak protes dari netizen. Saat ini harga tiket pesawat dari Jakarta ke Medan stabil di angka Rp1,8 juta. Meskipun sudah lebih murah dari ketimbang Rp11 juta. Namun, nominal Rp1,8 juta untuk durasi penerbangan selama 2 jam masih tidak worth it dan kemahalan.
Alasannya sederhana saja, karena maskapai internasional dengan durasi terbang 2 jam 15 menit (rute Jakarta- Kuala Lumpur) menjual tiket pesawatnya Rp650 ribu saja. Masa Jakarta ke Medan yang lebih pendek durasi terbangnya, harga tiketnya 2 kali lebih mahal? Kan tidak masuk akal.
Seharusnya harga tiket dari Jakarta dan Medan Rp700 ribu saja, setidaknya sama dengan harga AirAsia. Kalau AirAsia bisa menjual tiket terjangkau, mengapa Citilink, Lion Air, atau Batik Air tak bisa melakukannya? Kan aneh.
Baca juga Tiket Pesawat Murah Nggak Melulu Soal Keberuntungan, Ada Tips dan Triknya!
Tarif yang lebih masuk akal
Jika menghitungnya dengan logika sederhana berdasarkan durasi terbangnya, maka tarif ideal untuk durasi 1,5-2 jam (penerbangan pendek) adalah Rp600-Rp700 ribu saja. Untuk penerbangan menengah durasi 2,5 jam adalah Rp1,2 jutaan.
Sementara itu, durasi panjang 5-6 jam perjalanan (rute Jakarta ke Papua, Surabaya ke Jayapura) adalah Rp2 jutaan. Tiket pesawat tersebut masuk akal karena tidak terlalu murah sampai mengorbankan kualitas dan masih bisa dijangkau oleh mayoritas masyarakat Indonesia.
Di negara kepulauan, transportasi udara itu bisa menjadi urat nadi dan pemerataan pembangunan. Kita tidak meminta harga tiket pesawat Rp300 ribu dari Jakarta ke Jayapura, kita tidak menuntut harga yang murah, tapi kita butuh harga yang rasional, stabil, dan tidak membuat orang batal pulang kampung.
Penulis: Tiara Uci
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
