Perlintasan kereta Volvo Pasar Minggu menyimpan banyak cerita menyeramkan bagi warga sekitarnya. Bahkan cerita tersebut membuat beberapa orang melakukan suatu hal tertentu ketika melewati perlintasan ini.
Salah satu contohnya adalah ayah saya sendiri. Sering kali Ayah saya menurunkan volume musik di mobil ketika hendak melintasi perlintasan ini. Katanya, takut kupingnya ditutup setan dan nggak menyadari kereta yang lewat sehingga bisa tertabrak.
Alasan tersebut membuat saya bertanya-tanya. Bila kereta melintas pasti ada palang yang bisa dilihat dengan mata kita sendiri. Ada kendaraan lain juga yang berhenti yang dapat menyadarkan kita bahwa kereta akan lewat. Namun, kenapa harus sampai menurunkan volume musik dan menuduh setan menutupi telinga kita.
Ada juga cerita menakutkan lain yang tersebar di kalangan warga lokal. Konon, ada sosok nenek-nenek yang meminta tumbal setiap hari Jumat di perlintasan kereta Volvo Pasar Minggu. Cukup untuk membuat anak kecil merinding ketika mendengarnya.
Fakta bahwa banyak korban nyawa di perlintasan ini akibat tertabrak kereta memang nggak dapat disangkal. Beritanya sudah nggak asing bagi warga lokal dan bisa juga dibaca di internet. Namun, apakah benar itu semua karena setan yang menutup telinga atau sosok nenek-nenek yang mencari tumbal?
Daripada terus bertanya-tanya, saya mendatangi dan mengamati langsung perlintasan kereta Volvo Pasar Minggu. Sembari menunggu motor saya dicuci di tempat terdekat karena sudah nggak elok dipandang akibat hujan yang begitu betah mengguyur Jakarta di Januari ini, saya mengamati perlintasan kereta.
Baca juga: Perlintasan KRL Pasar Minggu Problematik dan Menguji Kesabaran.
Perlintasan kereta Volvo Pasar Minggu mempertemukan tiga jalan
Perlintasan kereta Volvo, Pasar Minggu itu ruwet. Bagaimana nggak? Perlintasan tersebut mempertemukan tiga jalan berbeda yang dilalui banyak kendaraan, apalagi di jam-jam sibuk. Tiga jalan tersebut adalah Jalan Purbaya, Jalan Kemuning Raya, dan Jalan Rawajati Timur.
Bisa dibayangkan sendiri ketika palang kereta dibuka dan kendaraan yang bertumpuk di belakangnya berusaha saling mendahului, terutama pengendara motor. Pengendara mobil harus memiliki kesabaran tingkat tinggi di sini dan cukup pintar untuk mengambil kesempatan kapan untuk maju. Nggak akan ada pengendara motor yang mengalah dan memberi kesempatan untuk mobil jalan terlebih dahulu.
Untungnya ada tiga orang yang mengatur lalu lintas kendaraan di perlintasan kereta Volvo tersebut. Tiga orang tersebut terdiri satu petugas PJL dan dua pak ogah yang salah satunya nggak pernah berhenti meniupkan peluitnya. Kalau nggak ada mereka, mungkin perlintasan ini akan penuh kekacauan dan makian dari sesama pengendara.
Namun saya bertanya-tanya, bagaimana pak ogah itu mendapatkan keuntungan bila mengatur perlintasan seruwet ini? Saya nggak pernah melihat ada pengendara yang memberikan imbalan ke mereka karena para pengendara perlu fokus yang lebih ketika melintasi perlintasan ini.
Aspal yang nggak rata
Sudah sering saya melihat motor yang tersangkut di rel perlintasan kereta Volvo Pasar Minggu yang diakibatkan aspal yang nggak rata. Dan, perlintasan tersebut mengharuskan pengendara melaju serong, bukan lurus. Bila ban motor sudah nyangkut, dibutuhkan orang lain untuk membantu mendorong motor kita. Motor saya sendiri pernah tersangkut di sini dan dibantu oleh orang-orang sekitar.
Saat melintasi perlintasan ini, apalagi dalam keadaan ramai, kita harus mengendarai motor kita pelan-pelan dan hati-hati. Hindari sebisa mungkin bagian aspal yang nggak rata.
Kelakuan pengendara yang nggak sabaran dan hati-hati di perlintasan kereta Volvo Pasar Minggu
Selain ruwetnya jalan dan aspal yang bermasalah, ketidakhati-hatian pengendara sendiri juga menjadi faktor banyaknya korban nyawa di perlintasan ini. Ada saja pengendara motor yang nyelonong dan menyeberang ketika palang perlintasan sudah tertutup. Padahal itu jelas sangat membahayakan.
Ada juga tipe pengendara yang nggak sampai menerobos, tetapi menunggu kereta lewat di depan palang. Ini juga sama bahayanya. Sudah ada korban berjatuhan karena terserempet kereta ketika menunggu di depan palang. Mungkin memang mereka sudah nggak tahan untuk sampai rumah dan merebahkan diri setelah dihadapi berbagai dokumen, arahan, dan teguran di kantornya.
Di satu momen, salah satu pak ogah tersebut seperti memohon-mohon kepada pengendara motor agar nggak menerabas ketika palang pintu tertutup. Dia mengangkat kedua tangan dan meniupkan peluitnya di mulut berulang kali.
Terlepas dari kelakuan pengendara, rel di perlintasan kereta Volvo Pasar Minggu juga menciptakan ilusi. Bila diperhatikan, rel kereta dari arah Bogor berbentuk melengkung ketika menuju perlintasan ini. Hal ini menyebabkan kita nggak bisa melihat secara gamblang, apakah kereta masih jauh atau dekat. Pengendara akan mengira bahwa kereta masih jauh dan aman untuk menerobos, meskipun palang sudah turun. Tapi jika kembali dilihat kereta bisa tiba-tiba sudah dekat.
Dilema pak ogah dan JPL
Di beberapa momen memang pak ogah dan JPL memberikan kesempatan untuk motor melaju meskipun palang rel sudah tertutup. Awalnya, saya bertanya-tanya mengapa mereka melakukan itu? Kalau memang sudah tertutup ya jangan biarkan ada pengendara menerobos dong?
Ternyata setelah saya selidiki, perlintasan ini menciptakan macet yang nggak karuan, terutama di Jalan Rawajati Timur. Pada jam-jam sibuk, khususnya sore hari, jalan tersebut bisa diisi oleh barisan mobil sepanjang 1.5 km lebih. Barisan mobil ini juga muncul di Jalan Purbaya, meskipun nggak sepanjang itu. Apalagi, di jam-jam tersebut kereta lagi sering-seringnya lewat. Di suatu momen saya menyaksikan setelah kereta lewat dan palang terbuka, nggak sampai 15 detik, bunyi teng teng teng kembali berbunyi dan palang kembali turun.
Pada keadaan yang kacau seperti di atas para pak ogah dan JPL, mau nggak mau memanfaatkan waktu yang ada. Selagi kereta masih jauh, mereka membiarkan kendaraan lewat dan menerobos agar nggak terjadi penumpukan dan kemacetan yang berlebihan di balik palang. Riskan? Memang.
Bukan salah setan
Setelah melakukan pengamatan dan melewati sendiri perlintasan tersebut, saya nggak melihat adanya sosok setan di sana. Yang saya lihat adalah perpaduan antara tata kota yang buruk, aspal yang nggak dirawat, dan kecerobohan manusia itu sendiri. Itulah yang menyebabkan banyaknya korban nyawa di perlintasan ini.
Keyakinan warga lokal mengenai setan yang mencelakai orang di perlintasan tersebut adalah urusan mereka masing-masing. Dan, mungkin memang cerita seram tersebut diperlukan agar orang-orang lebih berhati-hati ketika melewati perlintasan kereta Volvo Pasar Minggu. Nyatanya masyarakat kita lebih takut kepada setan daripada peraturan tertulis atau teguran manusia.
Penulis: Mohammad Rafatta Umar
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Juga Pasar Minggu yang Nggak Kalah Seru.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
