Kalau ngomongin acara musik paling meriah di Indonesia, saya rasa belum ada yang bisa mengalahkan acara Dangdut Academy atau D’academy di Indosiar.
Acara kompetisi dangdut yang berjalan pertama kali pada 2014 ini betul-betul mengundang perhatian banyak orang, khususnya ibu saya sendiri. Antusiasme masyarakat bisa kalian lihat dari banyaknya Virtual gift, D’Bos, dan D’Sultan yang diberikan. Saya sampai heran!
Ibu saya sendiri juga tak pernah ketinggalan mengikuti program acara ini. Setiap pagi dan malam, alunan musik dangdut memenuhi sudut-sudut rumah saya.
Paginya, sembari memasak ibu saya menyetel ulang tayangan Dangdut Academyyang berseliweran di FYP TikTok. Malamnya, agar tidak ketinggalan, ibu saya sudah siap-siap di depan TV sebelum acara dimulai.
Dia bahkan mampu standby di teras rumah hingga penghujung acara, yakni sampai larut malam. Jadinya, saya yang awalnya acuh tak acuh dengan acara ini, kini jadi ketularan dan ikut menontonnya.
Dangdut Academy Indosiar acara kompetisi yang diwarnai hiburan
Biasanya, acara kompetisi pastinya diwarnai oleh ketegangan. Hal ini kadang membuat penonton jadi gampang bosan. Namun, pengemasan Dangdut Academy sebagai acara kompetisi berbeda. Acaranya sering diselingi guyonan sehingga membuat penontonnya tetap terhibur. Mulai dari kelakuan host hingga jurinya tak berhenti mengocok perut ibu saya karena tertawa.
Guyonan di D’academy bahkan menurut saya lebih lucu dari acara lawak yang sesungguhnya. Di dalamnya, ada pembagian peran yang jelas untuk mengundang tawa penonton.
Apalagi kalau guyonan itu hanya untuk mencomblangi antar peserta. Valen dan Mila contohnya, kedua peserta ini sering kali dijodoh-jodohkan. Ibu saya yang nonton sampai senyum-senyum sendiri di depan TV. Kadang malah juga ikut mengamini. Haduh!
Pembawaan lagu dari para peserta
Selain hiburan yang mengundang tawa, pembawaan lagu dari peserta juga mempunyai daya tariknya sendiri. Pada saat tampil di atas panggung, peserta membawakan lagu lengkap dengan aransemen, dinamika, dan tak lupa penjiwaannya.
Ini juga membuat penonton ikut merasakan emosinya. Saya yakin semua itu tak lepas dari latihan ekstra yang dilakukan oleh peserta, ditambah lagi bimbingan dari coach-nya.
Pokoknya, level kompetisi di Dangdut Academy memang beda. Meski sering terlihat bercanda, tapi kualitasnya tak bisa dipandang sebelah mata.
Kalau kalian mengikuti dari tahun sebelumnya, kalian pasti paham bahwa kompetisi ini benar-benar fokus pada kualitas. Di musim-musim sebelumnya, D’Academy formatnya cuma juri dan komentator untuk mengulas dan membimbing peserta, tanpa format spesifik sebagai coach yang membimbing peserta di luar panggung kompetisi.
Nah kini, pemenang tahun sebelumnya akan menjadi coach yang akan membimbing secara intens bagi para peserta.
Ada segmen untuk perkenalkan budaya
Setelah peserta tampil di atas panggung dan juri mengomentarinya, ada segmen untuk pendukung peserta memperkenalkan oleh-oleh khas dari daerah mereka. Para host, juri, coach, dan peserta menikmatinya di atas panggung.
Itu kalau makanan. Beda lagi kalau oleh-olehnya berupa warisan budaya tak benda, kain batik misalnya, bakal ada fashion show dadakan di atas panggung.
Selain oleh-oleh, tradisi dan alat musik tradisional khas dari daerah juga pernah ditampilkan di acara ini. Contohnya, ada palang pintu tradisi dari suku Betawi ketika Robi, peserta dari Jakarta tampil. Lalu ada Klenang, alat musik tradisional Madura, yang dimainkan oleh Valen, peserta dari Pamekasan tampil.
Hal itulah yang mengundang antusiasme ibu saya. Sebagai orang Madura, kehadiran Valen dan budaya yang dibawanya ke dangdut academy membuat ibu saya merasa ikut diwakili. Ya, saya pun lambat laun juga ikut bangga sama Valen. Hehehe!
Ah ya, pada akhirnya saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada Indosiar karena sejak acara Dangdut Academy pertama kali tayang hingga saat ini selalu menghibur ibu saya. Dan lagi, acara ini cukup menyadarkan bahwa musik dangdut ternyata juga cocok di telinga saya. Sekian!
Penulis: Feri Hamdani Putra Fasa
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Dangdut Koplo di Kalangan Pemuda: Sempat Dianggap Norak, Sekarang Malah Semarak.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
