Belajar Tawar Menawar di Pasar dari Ibu-ibu yang Tega Mematok Harga Serendah Mungkin

Belajar Tawar Menawar di Pasar dari Ibu-ibu yang Tega Mematok Harga Serendah Mungkin Mojok.co

Belajar Tawar Menawar di Pasar dari Ibu-ibu yang Tega Mematok Harga Serendah Mungkin (unsplah.com)

Di TikTok tengah ramai konten mengenai ibu-ibu yang melakukan tawar menawar di pasar dengan harga yang jauh lebih rendah. Banyak yang mengecam tindakan itu karena dinilai merugikan pedagang. Namun, tidak sedikit yang mendukungnya karena tawar menawar di pasar adalah salah satu siasat bertahan hidup. 

Ibu-ibu yang menawar harga serendah mungkin ketika tawar menawar di pasar bukan untuk kepentingan atau kesenangan diri sendiri. Mereka melakukannya demi keluarga agar pengeluaran bulanan bisa ditekan. Mungkin ini salah satu alasan kuat mengapa mereka tega menawar dengan harga kebangetan. Di balik itu, ada beberapa alasan lain. 

Tawar menawar di pasar melatih negosiasi

Konsumen mana yang tidak ingin mendapat harga terbaik untuk barang-barang yang mereka beli. Maksud harga terbaik adalah uang seminimal mungkin yang bersedia dibayarkan untuk barang dagangan dengan kualitas tertentu. Ibu-ibu salah satu jenis konsumen itu. Mereka seolah punya naluri untuk memaksimalkan nilai dari setiap pembelian yang mereka lakukan. 

Naluri itu didukung oleh keterampilan negosiasi yang sudah lama terasah. Tentu keterampilan ini berangkat dari pengalaman belanja secara rutin bertahun-tahun. Mereka memiliki keyakinan dan mental teguh bahwa barang dagangan yang diincar bisa  mengalami penurunan harga kalau mereka menawar dengan gigih. 

Benar saja, saya sering melihat beberapa penjual pada awalnya bersikeras menjual barang dagangannya dengan harga normag, tapi ujung-ujungnya luluh pada harga yang diinginkan ibu-ibu yang menawar. 

Ketidakpercayaan pada harga dan kualitas barang

Keterampilan menawar harga serendah mungkin berlandaskan pada keyakinan bahwa harga dari pedagang sebenarnya tidak sebanding dengan kualitasnya.  Mereka juga ingin meminimalkan risiko pembelian barang yang tidak sesuai dengan harapan mereka. Ibu-ibu selalu punya keyakinan, apabila penjual di pasar rela melepaskan dagangannya dengan harga yang murah,  kemungkinan besar barang tersebut memang tidak memiliki kualitas yang bagus. Pola pikir seperti ini menimbulkan kecurigaan sih, tapi setidaknya pembeli tidak akan banyak merugi.

Menjalin relasi dengan penjual

Tawar menawar di pasar tidak melulu untuk keperluan transaksional saat itu saja.  Terkadang, kebiasaan ini terbangun untuk menyeleksi pedagang mana yang cocok dijadikan langganan. Tidak dipungkiri, dalam tawar menawar, selain terjadi kecocokan harga akan tercipta juga kecocokan komunikasi antara penjual dan pembeli. Apabila dua kecocokan itu terjadi, ibu-ibu akan memprioritaskan warung atau toko tersebut sebagai langganan. 

Di atas beberapa alasan yang membuat ibu-ibu dapat memasang harga serendah mungkin ketika tawar menawar di pasar. Tentu bukan hal mudah, perlu jam terbang tinggi dan mental yang kuat untuk bisa luwes melakukannya. Kalian ingin mencoba?

Penulis: Nurul Fauziah
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Etika Tawar-Menawar yang Perlu Diperhatikan biar Nggak Baku Hantam

 Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version