Ada satu pemandangan yang sudah dianggap biasa oleh warga di sekitar Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas. Kendaraan bermuatan berat melintas di jalur yang sebenarnya tidak bisa disebut sebagai jalan yang ideal untuk dilewati truk-truk besar. Bagi pengendara yang sudah terbiasa melewati jalur tersebut, tanjakan ini mungkin bukan sesuatu yang mengejutkan.
Namun, bagi pengendara yang baru pertama kali melintas, melihat truk bermuatan berat menanjak di jalan ini bisa membuat refleks kaki otomatis berpindah ke pedal rem. Apalagi jika berpapasan dengan kendaraan dari arah berlawanan. Jalan terasa semakin sempit, kendaraan harus sama-sama berhati-hati. Sementara truk dengan muatan berat membutuhkan ruang dan tenaga lebih untuk melewati tanjakan.
Yang kemudian muncul adalah pertanyaan sederhana, kenapa truk bermuatan berat masih rajin lewat tanjakan curam?
Jalan alternatif yang tidak pernah sepi
Tanjakan curam di Desa Alasmalang Banyumas bukan sekadar jalan yang digunakan warga sekitar untuk beraktivitas sehari-hari. Jalur ini juga menjadi salah satu alternatif bagi kendaraan yang bergerak dari arah Purwokerto menuju wilayah Yogyakarta dan sekitarnya ataupun sebaliknya. Karena itulah, lalu lintas di jalur tersebut tidak hanya diisi sepeda motor atau mobil pribadi. Truk-truk bermuatan berat juga menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari.
Di satu sisi, keberadaan kendaraan berat menunjukkan bahwa jalur alternatif seperti tanjakan curam memiliki fungsi yang cukup penting. Jalan yang mungkin bagi sebagian orang terlihat seperti jalur desa biasa, ternyata mempunyai peran dalam menghubungkan pergerakan barang dan kendaraan dari satu wilayah ke wilayah lain.
Namun di sisi lain, semakin banyak kendaraan berat yang melintasi Alasmalang Banyumas tentu membuat pertanyaan mengenai kondisi jalan, keselamatan, dan kenyamanan pengguna jalan menjadi relevan. Sebab, jalan alternatif tetaplah jalan yang digunakan oleh banyak orang. Ada warga yang mengendarai sepeda motor, anak sekolah yang berangkat dan pulang, petani yang membawa hasil kebun, mobil keluarga, hingga kendaraan logistik yang mengejar waktu pengiriman. Semuanya bertemu di ruang jalan yang sama.
Kenapa tidak memilih jalur selain Alasmalang?
Jawabannya tentu tidak sesederhana menyuruh truk mencari jalan lain. Bagi pengemudi kendaraan logistik, memilih jalur bukan hanya persoalan mana jalan yang paling bagus. Ada pertimbangan jarak, waktu tempuh, kondisi lalu lintas, akses menuju daerah tujuan, hingga biaya operasional. Jalur alternatif bisa saja dianggap lebih menguntungkan dibanding harus melewati jalur lain yang lebih jauh atau lebih padat.
Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Ketika sebuah jalan alternatif terus digunakan oleh kendaraan berat, berarti jalan tersebut mempunyai fungsi yang lebih besar daripada sekadar jalur penghubung antardesa.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya, “Kenapa truk lewat sini?”. Pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah infrastruktur jalannya memang sudah dipersiapkan untuk menerima beban lalu lintas seperti itu? Sebab, keberadaan truk bermuatan berat di sebuah jalur tidak serta-merta berarti truk tersebut adalah masalah.
Jangan sampai menunggu ada masalah di Alasmalang Banyumas
Persoalan jalan sering kali baru mendapat perhatian setelah terjadi kecelakaan atau kerusakan parah. Padahal, jika Tanjakan Curam memang menjadi jalur yang cukup sering dilewati kendaraan bermuatan berat, kondisi tersebut seharusnya sudah menjadi alasan untuk melihat kembali aspek keamanan dan kelayakan jalannya.
Bukan untuk menyalahkan sopir truk, apalagi melarang mereka lewat begitu saja. Rambu, marka, kondisi badan jalan, hingga pengaturan kendaraan berat mungkin perlu menjadi perhatian agar jalur ini tetap aman bagi semua pengguna.
Tanjakan Curam mungkin hanya satu titik kecil di Desa Alasmalang Banyumas. Namun dari sana kita bisa melihat persoalan yang lebih besar: ketika jalan alternatif semakin ramai dilalui kendaraan berat, sudahkah perhatian terhadap keselamatan dan kondisi jalannya ikut ditingkatkan? Sebab, jangan sampai kita baru sibuk membicarakan Tanjakan Curam setelah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Penulis: Fatimatuzzahro Laeliyah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Tanjakan Sitinjau Lauik, Tanjakan Ekstrem yang Jadi Mimpi Buruk Pengendara di Kota Padang
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
