“Bangsa yang tidak percaya pada dirinya sendiri akan selalu mencari tuan baru.” – Tan Malaka
Sejarah Indonesia dipenuhi tokoh besar, tetapi hanya sedikit yang hidupnya terasa seperti persilangan antara filsuf, buronan internasional, guru sekolah, aktivis bawah tanah, dan pemimpi revolusi dunia. Tan Malaka adalah salah satu dari sedikit tokoh itu. Ia tidak pernah benar-benar memiliki panggung kekuasaan, tetapi bayangannya terus mengikuti perjalanan republik. Keunikannya bukan hanya pada gagasannya, melainkan pada cara ia menjalani hidup: selalu bergerak, selalu berpikir, dan hampir selalu sendirian.
Keunikan Seorang Revolusioner
Tidak seperti banyak tokoh nasional yang tumbuh dalam ruang politik lokal, Tan Malaka adalah revolusioner kosmopolitan jauh sebelum kata itu populer. Ia bergerak dari Sumatra Barat menuju Belanda, kemudian terseret arus revolusi dunia ke Rusia, Tiongkok, Filipina, Thailand, hingga Asia Tenggara. Dalam usia muda, ia sudah menjadi bagian dari jaringan gerakan anti-kolonial internasional.
Hidupnya lebih sering berada di pengasingan daripada di tanah airnya sendiri. Ia hidup menggunakan berbagai nama samaran, berpindah identitas demi menghindari penangkapan kolonial. Dalam satu masa ia dikenal sebagai guru, di masa lain sebagai pedagang, kadang sebagai aktivis politik rahasia. Kehidupan seperti ini membuatnya bukan sekadar aktivis nasional, melainkan figur revolusi global.
Keunikan lain Tan Malaka adalah posisinya yang selalu berada di luar kategori. Ia pernah menjadi tokoh penting dalam jaringan komunisme internasional, namun kemudian menolak dominasi ideologi asing. Ia nasionalis, tetapi tidak nasionalis romantik. Ia Marxis, tetapi menolak dogma. Ia rasionalis, tetapi berbicara kepada masyarakat yang masih hidup dalam dunia mitos dan tradisi.
Dengan kata lain, ia selalu berada di antara dunia-dunia yang tidak sepenuhnya menerimanya.
Merdeka Tanpa Kompromi
Sikap politik Tan Malaka dapat diringkas dalam satu prinsip: kemerdekaan tidak boleh setengah-setengah. Baginya, penjajahan bukan hanya persoalan militer atau ekonomi, tetapi persoalan mentalitas. Bangsa terjajah harus membebaskan pikirannya terlebih dahulu sebelum benar-benar merdeka.
Di awal kariernya, ia terlibat dalam gerakan kiri internasional. Namun ia segera melihat bahaya lain: revolusi yang dikendalikan dari luar negeri. Ia menolak gagasan bahwa Indonesia harus mengikuti model revolusi Rusia secara mentah. Dari sinilah lahir gagasan tentang revolusi nasional yang berdiri di atas kondisi sosial Indonesia sendiri.
Setelah Proklamasi 1945, sikap radikalnya semakin terlihat. Ketika sebagian elite republik memilih jalur diplomasi dengan Belanda, Tan Malaka menyerukan “Merdeka 100%.” Ia menolak kompromi yang menurutnya hanya memperpanjang kolonialisme dalam bentuk baru. Sikap ini membuatnya berseberangan bukan dengan penjajah, tetapi dengan pemerintah Republik sendiri.
Paradoks itu memperlihatkan watak politiknya: Tan Malaka lebih setia pada prinsip daripada posisi. Ia tidak mencari tempat aman dalam kekuasaan; justru sering mengambil posisi yang secara politis merugikan dirinya.
Revolusi Melalui Pikiran
Jika banyak tokoh revolusi dikenang karena pidato atau pertempuran, Tan Malaka dikenang melalui tulisan. Ia percaya revolusi sejati harus terjadi di dalam kepala manusia.
Sejak awal 1920-an ia menulis risalah politik seperti Soviet atau Parlement?, Naar de Republiek Indonesia, dan Massa Actie. Tulisan-tulisan ini luar biasa visioner: jauh sebelum republik berdiri, ia sudah membayangkan Indonesia sebagai negara merdeka berbentuk republik modern.
Puncak pemikirannya muncul dalam MADILOG (Materialisme, Dialektika, Logika) pada 1943. Buku ini bukan sekadar teori politik. Ia berusaha membangun cara berpikir ilmiah bagi bangsa Indonesia. Tan Malaka melihat bahwa penjajahan bertahan bukan hanya karena kekuatan militer, tetapi karena masyarakat belum terbiasa berpikir rasional.
Pada masa revolusi fisik, produktivitas intelektualnya justru meningkat. Ia menulis Politik, Muslihat, Rencana Ekonomi Berjuang, Merdeka 100%, hingga Gerpolek. Tulisan-tulisan ini menunjukkan bahwa baginya perang, ekonomi, dan strategi negara harus dipikirkan sebagai satu kesatuan.
Melalui autobiografi Dari Penjara ke Penjara, ia bukan hanya menceritakan hidupnya, tetapi juga mencatat sejarah pergerakan revolusioner Asia dari sudut pandang seorang pelaku langsung.
Ia mungkin satu-satunya tokoh Indonesia yang menjalankan revolusi melalui pena hampir sebanyak melalui tindakan.
Mengapa Ia Gagal Membangun Partai Besar?
Di sinilah ironi terbesar Tan Malaka muncul. Ia pemikir besar, tokoh internasional, dan ideolog revolusi, tetapi organisasi yang ia dirikan tidak pernah berkembang menjadi kekuatan politik dominan.
Ada beberapa sebab mendasar.
Pertama, Tan Malaka terlalu independen untuk kehidupan partai. Partai politik membutuhkan kompromi, disiplin organisasi, dan loyalitas struktural. Tan Malaka justru selalu mempertanyakan struktur yang membatasi kebebasan berpikir. Ia lebih nyaman menjadi penggerak gagasan daripada administrator organisasi.
Kedua, sebagian besar hidupnya dihabiskan dalam pengasingan. Tanpa kehadiran fisik yang stabil, sulit membangun jaringan kader yang kuat. Partai membutuhkan rutinitas; hidup Tan Malaka adalah perpindahan tanpa henti.
Ketiga, ia bersaing dengan organisasi yang memiliki mesin politik jauh lebih besar. Gerakan nasionalis karismatik di bawah Soekarno dan jaringan komunis yang terorganisasi rapi memiliki basis massa yang luas. Tan Malaka datang dengan ide yang kompleks tetapi tanpa infrastruktur politik yang memadai.
Keempat, gagasannya sering terlalu maju untuk zamannya. Ia mencoba memadukan nasionalisme, sosialisme, dan rasionalisme dalam satu kerangka. Secara intelektual brilian, tetapi sulit diterjemahkan menjadi slogan sederhana bagi mobilisasi massa.
Terakhir, ia bukan politisi kekuasaan. Banyak pemimpin membangun partai untuk mencapai jabatan; Tan Malaka membangun organisasi untuk menjaga kemurnian ide. Ketika organisasi mulai berkompromi, ia memilih meninggalkannya.
Kemenangan Gagasan, Kekalahan Organisasi
Tan Malaka meninggal tanpa melihat dirinya memimpin partai besar atau negara yang ia impikan. Ia bahkan wafat secara tragis, ditembak oleh pasukan republik yang tidak sepenuhnya memahami siapa dirinya.
Namun sejarah memiliki cara sendiri menilai manusia.
Partai-partai dapat bubar. Organisasi dapat hilang. Struktur politik bisa runtuh. Tetapi gagasan yang kuat sering hidup lebih lama daripada institusi yang gagal bertahan.
Tan Malaka mungkin gagal membangun partai besar, tetapi ia berhasil meninggalkan sesuatu yang lebih sulit dibangun: cara berpikir tentang kemerdekaan sebagai proyek intelektual sekaligus moral. Ia tidak memenangkan politik praktis, tetapi ia memperluas horizon kemungkinan bagi republik yang masih muda.
Dalam arti tertentu, Tan Malaka adalah revolusioner yang tidak pernah benar-benar kalah. Ia hanya terlalu bebas untuk dimiliki oleh satu partai, satu ideologi, atau satu zaman.
