Curahan Hati Orang Sragen yang Lebih Sering Mengaku Asli Solo daripada Daerah Asalnya

Solo lebih terkenal dari Sragen. Itu mengapa, orang Sragen sering mengaku asli Solo ketika ketemu orang baru, biar nggak repot menjelaskan.
Nongkrong Masih Dianggap Tabu di Sragen, Nasib Kafe di Sana Kian SuramĀ

Anak muda nongkrong masih jadi budaya yang tabu di Sragen, dianggap bukan anak baik-baik. Itu mengapa usaha kafe di sana semakin suram.
Sragen Itu Bukan Kota Mati, Kota Ini Ramenya Minta Ampun dan yang Utama, Punya Bioskop!

Kalau dengan titik keramaian Kota Sragen yang sudah ada saat ini masih dianggap sepi dan tak hidup pula, lha terus maumu gimana?
Perempatan Gemolong, Tempat Paling Mematikan di Sragen. Nyeberang di Sini Taruhannya Nyawa

Kalau disuruh menyebutkan satu tempat paling mematikan di Sragen, itu adalah perempatan Gemolong. Nyeberang di sini taruhannya nyawa.
Sragen, Kota yang Hidup Cuma Sampai Maghrib, Setelah Itu, Seakan Jadi Kota Mati

Di Sragen, slow living itu bukan gaya hidup, itu kewajiban. Bukan karena pilihan, tapi karena emang nggak ada opsi lain.
Derita yang Saya Rasakan Selama Tinggal di Perbatasan Ngawi-Sragen: Mau Pesan Ojol, Malah Disarankan Bertapa

Siapa bilang tinggal di perbatasan itu enak karena strategis? Buktinya tinggal di perbatasan antara Ngawi dan Sragen bikin saya menderita.
Jalan Gabugan-Sumberlawang, Jalan Paling Dibutuhkan Sekaligus Meresahkan di Sragen

Jalan Gabugan Sumberlawang, jalan vital di Sragen yang kondisinya meresahkan, berlubang parah, banyak kendaraan besar, dan ada “cumi darat”.