Nama Suzuki Escudo pernah berdiri cukup kuat dalam imajinasi pasar otomotif Indonesia. Ia hadir sebagai simbol SUV yang tangguh dan siap diajak ke medan berat. Namun seiring berjalannya waktu, citra itu terasa lebih banyak dibangun oleh harapan daripada kenyataan. Di balik bodinya yang gagah, terdapat banyak kompromi yang membuatnya seperti kendaraan yang tidak benar-benar punya arah jelas.
Di pasar otomotif yang semakin kompetitif, berada di tengah justru berarti tenggelam. Mobil lain hadir dengan identitas yang tegas, entah itu performa, kenyamanan, atau teknologi. Escudo tidak benar-benar memilih salah satu, sehingga terasa selalu tertinggal.
Suzuki Escudo gagah di luar, canggung di dalam
Secara tampilan, Escudo memang menarik. Desainnya membawa aura SUV klasik dengan garis tegas dan proporsi kokoh. Namun, saat masuk ke kabin, kesan tersebut perlahan pudar.
Interiornya terasa biasa saja untuk kendaraan dengan citra petualang. Materialnya tidak memberi kesan premium, beberapa bagian terasa keras, dan tata letak dashboard cenderung fungsional tanpa memberikan pengalaman yang menyenangkan. Escudo seperti bermain terlalu aman hingga kehilangan karakternya.
Performa yang kurang meyakinkan
Sebagai SUV, ekspektasi terhadap performa tentu tinggi. Namun, mesin Escudo hanya terasa cukup untuk penggunaan harian, tanpa memberikan dorongan tenaga yang benar-benar meyakinkan.
Akselerasinya datar, kurang memberi rasa percaya diri saat menyalip atau menghadapi tanjakan. Di perkotaan hal ini masih bisa diterima, tetapi di jalanan dengan medan menantang, keterbatasannya begitu terasa. Ia tidak cukup agresif untuk disebut tangguh, dan tidak cukup halus untuk disebut nyaman sepenuhnya.
Soal Suspensi Escudo cukup nyaman di jalan halus, tetapi mulai terasa kurang menyenangkan saat melewati jalan rusak. Getaran masuk ke kabin, meski tidak ekstrem.
Di sisi lain, suspensinya juga tidak cukup kaku untuk memberikan handling presisi. Hasilnya, ia tidak benar-benar nyaman dan juga tidak benar-benar stabil.
Konsumsi bahan bakar yang tanggung
Dalam hal efisiensi, Escudo juga berada di posisi yang membingungkan. Tidak boros, tetapi juga tidak bisa disebut irit. Ketiadaan keunggulan jelas ini membuatnya sulit menonjol di kelasnya.
Pengguna akhirnya tidak mendapatkan kepastian, apakah konsumsi bahan bakarnya sudah optimal atau tidak. Lagi-lagi, Escudo berada di tengah tanpa nilai jual yang kuat.
Dalam hal fitur, Escudo terasa kurang kompetitif. Beberapa fitur yang sudah menjadi standar di kelasnya tidak selalu tersedia, atau hanya hadir di varian tertentu. Saat kompetitor bergerak maju dengan teknologi baru, Escudo cenderung tertinggal. Pengguna tidak mendapatkan paket yang utuh, dan selalu ada rasa “kurang”.
Dengan berbagai kompromi tersebut, harga menjadi pertanyaan besar. Escudo tidak cukup murah untuk disebut value for money, namun juga tidak cukup mewah untuk masuk kategori premium.
Akibatnya, ia kehilangan daya tarik dari dua sisi sekaligus, baik secara logika maupun emosional. Escudo bukanlah mobil yang gagal total. Ia masih bisa diandalkan dalam batas tertentu. Namun ia juga bukan pilihan yang benar-benar meyakinkan. Potensinya ada, tetapi tidak pernah dirangkai menjadi sesuatu yang benar-benar selesai.
Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Kebohongan Suzuki Ertiga yang Nggak Masuk dalam Brosur Promosi.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.


















