Susahnya Jadi Arek Malang di Jakarta: Berniat Mengobati Homesick Lewat Bakso Malang, eh yang Jual Malah Orang Tasik

Panduan Mengenali Bakso Malang yang Asli dari Kera Ngalam, biar Kalian Nggak Kena Tipu

Panduan Mengenali Bakso Malang yang Asli dari Kera Ngalam, biar Kalian Nggak Kena Tipu (Azzadiva Sawungrana via Unsplash)

Mencari bakso Malang asli di Jakarta itu susahnya minta ampun. Sekali nemu penjual yang bilang asli Malang, ternyata penjualnya asli Tasik

Menjadi perantau di Jakarta itu berat. Selain harus bertarung dengan matahari yang posisinya mepet jidat, kemacetannya juga sukses bikin kita males berangkat. Belum lagi manusianya yang serbacepat dan ogah rugi, sering kali menguji kewarasan kita. Di tengah kepungan rupa-rupa tekanan itu, homesick pun datang menyerang.

Hal inilah yang saya rasakan sebagai perantau dari Malang. Bagi kami, obat homesick paling mujarab bukanlah mendengarkan lagu folk senja atau merenung meratapi nasib, melainkan semangkok oskab—baca: bakso—Malang yang otentik. Disantap panas-panas, sambil bernostalgia dan bertukar sapaan akrab “Yo opo kabare, Sam?” dengan si penjual yang kami harapkan berasal dari kampung halaman yang sama.

Sayangnya, mencari bakso Malang yang otentik di ibu kota itu susahnya minta ampun. Kebanyakan yang bertebaran di pinggir jalan cuma modal nama doang, tapi rasanya sudah terdistorsi oleh selera pasar lokal. Maka, ketika suatu hari saya menemukan sebuah warung yang menjanjikan keaslian rasa, jiwa jurnalis kuliner saya langsung bergejolak. Saya pikir, inilah saatnya melepas rindu dengan bumi Arema.

Sore itu, harapan saya membumbung tinggi ketika melihat sebuah spanduk biru mencolok di pinggir jalan Jakarta bertuliskan “BAKSO AREMA ASLI MALANG”. Wah, pucuk dicinta ulam pun tiba. Otak saya langsung membayangkan kuah bening gurih kaldu sapi, pentol kasar penuh urat, dan gorengan mekar yang krispi. Lebih dari itu, saya sudah bersiap membuka obrolan akrab dengan si penjual menggunakan bahasa daerah untuk menuntaskan rindu kampung halaman.

Keyakinan yang mantap

Dengan dada tegap pertanda kepakaran saya di dunia perbaksoan, saya melangkah masuk dan langsung memesan dengan dialek Malangan yang medok: “Sam, pesen siji sing komplit yo. Pentole sing kasar, gak usah tahu.”

Si abang penjual sempat terdiam dua detik, menatap saya dengan tatapan kosong, sebelum akhirnya menjawab dengan senyum ramah yang amat sopan: “Muhun? Bade nganggo tahu, kasep? Pangsitna bade seueur?”

Jasss, jancok! Di detik itu juga, identitas kultural saya sebagai Arek Malang runtuh seketika di tanah rantau. Ekspektasi luhur ingin bernostalgia dengan sesama warga Arema, buyar tergantikan oleh kenyataan pahit bahwa “Sam” yang saya cari ternyata adalah seorang “Akang” dari Tasikmalaya.

Sebagai Arek Malang yang sejak janin sudah dicekoki kuah kaldu sapi, saya langsung tahu ada yang tidak beres begitu mangkok itu mendarat di meja. Ini bukan Bakso Malang, ini adalah sebuah penistaan kultural yang disajikan di atas mangkok bergambar ayam jago.

Dosa pertama ada pada kuahnya. Bakso Malang asli itu syariatnya harus berkuah bening, tapi rasanya gurih mantap karena hasil rebusan kaldu sumsum sapi berjam-jam. Lha yang di depan saya ini kuahnya keruh, kekuningan, dan aromanya didominasi oleh bubuk merica serta micin yang ugal-ugalan. Ini mah kuah bakso Solo berkedok Malang yang tersesat!

BACA JUGA: 7 Alasan Bakso Malang Gagal Menjadi Primadona di Jogja

Bakso Malang itu nggak kayak gini!

Belum selesai perkara kuah, penderitaan saya berlanjut saat menginspeksi jajaran gorengannya. Di Malang, gorengan bakso itu seni tingkat tinggi—renyah, mekar, dan kalau digigit ada sensasi kriuk yang bikin bahagia. Tapi gorengan di warung si Akang ini lemes, ciut, dan berminyak. Alih-alih mirip gorengan bakso, bentukannya malah lebih mirip batagor yang gagal dipotong atau siomay kering yang kelamaan kena angin malam Jakarta.

Dan puncaknya adalah perkara sambal dan saus. Di Malang, kami pakai sambal rebus yang pedasnya nampol dan saus tomat lokal yang rasanya khas. Lah, si Akang ini malah menyediakan saus tomat instan atau saos injak warna merah menyala ala pasar tradisional yang asem kimianya menusuk hidung, lengkap dengan kecap manis yang takaran manisnya berlebihan. Saya serasa sedang makan cuanki versi upgrade, bukan Bakso Malang!

Mau tak mau berkompromi

Pada akhirnya, sebagai perantau yang tahu diri, saya tidak punya pilihan selain berkompromi. Biar pun kuahnya melenceng dari syariat dan gorengannya bikin elus dada, perut yang keroncongan tidak bisa diajak berdebat soal otentisitas kultural. Sayang juga kalau tidak saya habiskan, harganya di Jakarta sudah menyentuh angka 15 sampai 20 ribu rupiah. Nominal yang kalau di Malang sudah bisa buat beli bakso porsi kuli plus es teh manis.

Sambil mengunyah pentol yang rasanya lebih mirip aci colok itu, saya merenung. Jakarta memang panggung sandiwara terbesar. Di kota ini, jangankan janji manis politisi, lha wong Bakso Malang saja bisa dipalsukan identitasnya oleh Mojang Priangan.

Begitu mangkok saya bersih tanpa sisa, saya melangkah ke kasir. Keinginan awal untuk pamer boso walikan Malangan saya kubur dalam-dalam. Sambil menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan, saya memaksakan senyum paling ramah lalu berbisik lirih: “Hatur nuhun, Akang… Bakso Malangnya sae pisan.” Sebuah kalimat pasrah dari Arek Malang yang kalah telak oleh realitas tanah rantau.

Penulis: Muhammad Mahdy Nasrullah Perkasa
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Panduan Mengenali Bakso Malang yang Asli dari Kera Ngalam, biar Kalian Nggak Kena Tipu

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version